Selasa, 09 Desember 2014

FENOMENA GLOBAL DAN REGIONAL YANG MEMPENGARUHI MUSIM DI INDONESIA DAN KALIMANTAN SELATAN

Keberadaan Indonesia di daerah tropis, di antara benua Asia dan Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, mempunyai banyak pulau dan kepulauan serta banyak selat dan teluk tentu saja membuat Indonesia kondisi iklimnya akan dipengaruhi berbagai fenomena global dan regional.

Fenomena global diantaranya: El Nino, La Nina, Dipole Mode dan Madden Julian Oscillation (MJO). Fenomena regional diantaranya: sirkulasi Monsun Asia-Australia dan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia.

Fenomena Global

A. El Nino dan La Nina (ENSO)

El Nino adalah fenomena global sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Fenomena El Nino yang berpengaruh di Indonesia dengan diikuti berkurangnya curah hujan secara drastis, yang terjadi bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun jika kondisi suhu perairan Indonesia cukup hangat tidak berpengaruh terhadap kurangnya curah hujan secara signifikan di Indonesia.


La Nina adalah kebalikan dari El Nino ditandai dengan anomali suhu muka laut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya) di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4). Fenomena La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat bila dibarengi dengan menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia.

Berdasarkan intensitasnya El Nino dapat dikatagorikan sebagai berikut :
  • El Nino lemah (Weak El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator positif antara +0.50C sampai dengan +1.00C yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut atau lebih
  • El Nino sedang (Moderate El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator positif antara +1.1oC sampai dengan +1.5oC yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut atau lebih
  •  El Nino kuat (Strong El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator positif antara >1.50C yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut atau lebih.
Sehingga dapat dikatakan El Nino merupakan fenomena global dari system interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Sedangkan La Nina adalah fenomena mendinginnya suhu muka laut di pasifik ekuator (Nino 3.4).

Perbedaan tekanan udara muka laut rata-rata antara bagian timur Pasifik (Tahiti) dengan bagian baratnya (Darwin, Australia) setiap bulan adalah merupakan nilai dari SOI (Southern Oscillation Index) juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator terjadinya ENSO.

B. Dipole Mode

Dipole Mode adalah fenomena interaksi laut-atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan/ selisih antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Perbedaan anomali suhu muka laut tersebut disebut sebagai Dipole Mode Indeks (DMI). DMI positif akan berakibat kurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sebaliknya bila nilai DMI negatif berdampak meningkatkan curah hujan di Indonesia bagian barat.

Dipole Mode berkaitan dengan osilasi apriodik dari suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) antara fase positif dan fase negatif. Fase positif ditandai dengan SST yang lebih besar dan presipitasi yang lebih besar di bagian Samudera Hindia Barat yang menyebabkan mendinginnya Samudera Hindia sebelah timur, sehingga kekeringan di wilayah Indonesia dan Australia. Sedangkan fase negatif adalah kebalikan fase positif dengan hujan lebih besar di Samudera Hindia sebelah timur sehingga menyebabkan kekeringan di wilayah barat. Dipole Mode dianggap normal ketika nilainya +-0.4.

Dipole Mode juga mempengaruhi kekuatan monsoon di sub benua India. Dipole Mode adalah siklus umum dari iklim global yang berinteraksi dengan lautan.



C. Madden Julian Oscillation (MJO)


Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan isolasi gerakan angin yang panjang gelombangnya relatif pendek sekitar 40 hari (intra seasonal). Dalam beberapa kasus bisa melebar menjadi 30-60 hari.
Madden Julian Oscillation mengindikasikan osilasi aktivitas pertumbuhan awan-awan sepanjang jalur dimulai dari atas perairan Afrika Timur hingga perairan Pasifik bagian barat (utara Papua). MJO berhubungan sangat erat dengan besarnya anomali curah hujan di kawasan Timur Lautan Hindia.

http://www.bom.gov.au/climate/mjo/graphics/rmm.phase.Last40days.gif
Sumber :  http://www.bom.gov.au

Diagram fase MJO menggambarkan pergerakan dari MJO melewati fase yang berbeda. Umumnya bersamaan dengan lokasi di sepanjang ekuator di seluruh dunia.

Fenomena Regional

Sirkulasi Monsun Asia-Australia


Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun yang menyebabkan sirkulasi angin di Indonesia umumnya adalah pola monsun, yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia yang berkaitan musim penghujan di Indonesia. Pola angin timuran karena adanya angin timuran karena tekanan udara yang tinggi di Australia yang berkaitan berlangsungnya musim kemarau di Indonesia. Sehingga angin baratan bersifat basah dan angin timuran bersifat kering.

Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature )  di Indonesia

Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia. Jika suhu muka laut dingin berpotensi sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, sebaliknya panasnya suhu permukaan laut berpotensi cukup banyaknya uap air di atmosfer. Kondisi suhu permukaan laut yang hangat menyebabkan peluang terbentuknya awan-awan hujan potensial.

(sumber : www.bmkg.go.id)

Bagaimana dengan Kalimantan Selatan?

Fenomena global yang berpengaruh terhadap musim di Kalimantan Selatan adalah ENSO (El Nino Southern Oscilation)/ El Nino dan La Nina serta Madden Julian Oscillation (MJO). Adapun fenomena Dipole Mode kurang berpengaruh di Kalimantan Selatan, karena Dipole Mode cenderung berpengaruh di Indonesia bagian Barat. Sedangkan fenomena regional yang berpengaruh adalah  Sirkulasi Monsun Asia-Australia dan Suhu Muka Laut.

5 komentar:

raquell agustien mengatakan...

makasih yah atas informasinya, jangan lupa kunjungi blog aku juga.
QUEENXXX92

bella putri mengatakan...

Agen Bola
Agen SBOBET
Agen Judi
Bonus
Prediksi Bola Jitu
Pendaftaran

Obat Alami WC mampet mengatakan...

menarik dan penuh wawasan
terimakasih
ditunggu info yang lain nya

Starbio plus Untuk Mencegah septictank mengatakan...

terimakasih info agan sangat menambah wawsan

Cara Mengatasi septictank penuh mengatakan...

cara penyampaian nya sangat bagus gan
terus lanjutkan