Minggu, 04 November 2012

PENENTUAN KLASIFIKASI IKLIM SCHMIDT FERGUSON DI KALIMANTAN SELATAN

Klasifikasi adalah suatu proses dasar bagi semua ilmu pengetahuan dengan pengelompokan dalam grup, kelas ataupun tipe. Hal ini juga berlaku pada ilmu iklim. Bentuk-bentuk klasifikasi iklim antara lain adalah sistem klasifikasi Koppen, sistem klasifikasi Thornwaite, sistem klasifikasi Mohr, sistem klasifikasi Schmidt-Ferguson, sistem klasifikasi Oldeman dan lain-lain.

Klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utamanya. Hal ini karena keragaman (variasi) curah hujan di wilayah ini sangat nyata, sedangkan unsur-unsur iklim lain tidak berfluktuasi secara nyata sepanjang tahun. Klasifikasi iklim di Indonesia lebih banyak digunakan untuk mendukung pertanian. Curah hujan sangat penting karena unsur iklim ini merupakan faktor pembatas bagi budidaya pertanian secara umum.

Klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson adalah salah satu metode klasifikasi iklim yang menggunakan data curah hujan sebagai data penunjangnya. Informasi yang didapatkan dapat digunakan untuk pengambilan kebijakan pertanian terutama dalam bidang perkebunan dan kehutanan.

Sistem Klasifikasi iklim Schmidt Ferguson dikembangkan pada tahun 1950. Schmidt adalah  guru besar dan pejabat Direktur Lembaga Meteorologi dan Geofisika di Jakarta, sedangkan Ferguson seorang guru besar pengelolaan hutan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia pada waktu itu. Mereka membuat klasifikasi iklim ini dengan alasan sistem klasifikasi yang telah dikenal seperti Koppen, Thornwaite dan Thornwaite kurang sesuai dengan keadaan di Indonesia khususnya mengenai cara menilai curah hujan. Schmidt dan Ferguson mengakui  bahwa sistemnya adalah merupakan perbaikan dari sistem Mohr yang telah membuat klasifikasi iklim khususnya untuk daerah tropika (Wisnusubroto, 1999).

Schmidt dan Ferguson (1951) menerima metode Mohr dalam menentukan bulan basah dan bulan kering dan tiap-tiap tahunnya kemudian baru diambil nilai rata-ratanya. Stasiun hujan yang datanya kurang dari 10 tahun dihilangkan (Bayong, 2004). Klasifikasi tipe iklim menurut Schmidt Ferguson hanya menggunakan data curah hujan di suatu wilayah dengan memberikan kriteria curah hujan bulanan pada Bulan Kering, Bulan Lembab dan Bulan Basah.

Kriteria yang digunakan untuk menentukan bulan basah, bulan lembab dan kering adalah sebagai berikut :

  1. Bulan Basah (BB) : jumlah curah hujan lebih dari 100 mm/bulan.
  2. Bulan Lembab (BL) : jumlah curah hujan antara 60-100 mm/bulan.
  3. Bulan Kering (BK) : jumlah curah hujan kurang dari 60 mm/bulan
Gambar 1. Segitiga Schmidt Ferguson berdasarkan nilai Q

Schmidt dan Ferguson menentukan BB, BL dan BK tahun demi tahun selama pengamatan, yang kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya. Penentuan tipe iklimnya mempergunakan tipe iklimnya dengan mempergunakan nilai Q yaitu :


Menurut Rusmayadi (2002) atas dasar nisbah harga Q Schmidt dan Ferguson, maka diperoleh 8 penggolongan iklim sebagai berikut :

Zona Iklim
Keterangan
A
Wilayah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropika
B
Wilayah basah dengan masih vegetasi hutan hujan tropika
C
Wilayah yang agak basah dengan vegetasi hutan rimba, di antaranya terdapat jenis vegetasi yang daunnya gugur pada musim kemarau, misal jati
D
Wilayah sedang dengan vegetasi hutan musim
E
Wilayah agak kering dengan vegetasi hutan sabana
F
Wilayah kering dengan vegetasi hutan sabana
G
Wilayah sangat kering dengan vegetasi padang ilalang
H
Wilayah luar biasa kering (ekstrim kering) dengan vegetasi padang ilalang

Secara geografis Kalimantan Selatan berada di bagian tenggara pulau Kalimantan, memiliki kawasan dataran  rendah di bagian barat dan pantai timur, serta dataran tinggi yang dibentuk oleh Pegunungan Meratus di tengah. Kalimantan Selatan terdiri atas dua ciri geografi utama, yakni dataran rendah dan dataran tinggi. Kawasan dataran rendah kebanyakan berupa lahan gambut hingga rawa-rawa sehingga kaya sumber keanekaragaman hayati satwa air tawar. Kawasan dataran tinggi sebagian merupakan hutan tropis dan dilindungi.



Dari 84 lokasi pos hujan di Kalimantan Selatan yang data curah hujan bulanannya lebih atau sama dengan 10 tahun didapatkan bahwa mayoritas zona iklim Schmidt-Ferguson adalah tipe B, dengan jumlah 70 lokasi (83%). Sedangkan zona iklim dengan tipe A ada 6 lokasi (7%) dan zona iklim dengan tipe C ada 8 lokasi (10%). Sedangkan tipe D, E, F, G dan H tidak terdapat di Kalimantan Selatan.


Dari hasil perhitungan pada 84 pos hujan di Kalimantan Selatan yang datanya minimal 10 tahun sebagai berikut :


KABUPATEN/LOKASITIPE IKLIMNILAI Q
KAB. TABALONG
1.HARUAIB0.195
2.KELUAB0.275
3.MUARA UYAB0.252
4.MURUNG PUDAK/ MABURAIB0.157
5.MURUNG PUDAK/ PEMBATAANA0.122
6.TANJUNGB0.145
KAB. BALANGAN
7.BATUMANDIB0.155
8.JUAIB0.315
9.PARINGIN SELATANB0.280
KAB. HULU SUNGAI UTARA
10.AMUNTAI TENGAHC0.340
11.BABIRIKC0.509
12.SEI PANDANB0.232
KAB. HULU SUNGAI UTARA
13.BARABAIB0.176
14.BATANG ALAI SELATANB0.250
15.LABUAN AMAS UTARAB0.248
16.SMPK PANTAI HAMBAWANGB0.183
KAB. HULU SUNGAI SELATAN
17.ANGKINANGB0.232
18.DAHA SELATANB0.185
19.KANDANGANB0.182
20.PADANG BATUNGB0.201
21.SIMPURB0.249
22.SMPK SUNGAI RAYAB0.174
23.TELAGA LANGSATB0.195
Kab. TAPIN  
 24.BINUANGB 0.254
 25.CANDI LARAS SELATANB 0.245
 26.LOK PAIKATB 0.199
 27.TAPIN SELATANB 0.277
 28.TAPIN TENGAHC 0.379
 29.TAPIN UTARAB0.163
KOTA BANJARMASIN  
 30.BANJARMASIN UTARAB0.238
KOTA BANJARBARU  
31.CEMPAKAB0.187
32.STAKLIM BANJARBARUB0.202
33.STAMET SYAMSUDIN NOORB0.180
KAB. BANJAR  
34.BERUNTUNG BARUC0.412
35.DANAU SALAK/ ATANIKB0.212
36.DANAU SALAK/ ATAYOB0.251
37.DANAU SALAK/ GN. SARIB0.279
38.DANAU SALAK/ LAWAB0.293
39.DANAU SALAK/ LAWA BARUB0.233
40.DANAU SALAK/ MUNGGUB0.307
41.DANAU SALAK/ SALAMB0.300
42.DANAU SALAK/ UMBULC0.367
43.DAS-ARANIOB0.311
44.DAS-RANTAU BALAIC0.340
45.DAS-RANTAU BUJURC0.383
46.DAS-TIWINGAN LAMAB0.313
47.DAS-BUNGLAIB 0.310
48.DAS-BELANGIANB0.324
49.DAS-PULIINB0.280
50.DAS-KALAANB0.242
51.GAMBUTB0.274
52.KERTAK HANYARB0.242
53.KARANG INTANB0.249
54.MARTAPURAB0.320
55.MATARAMANB0.211
56.PENGARONA0.129
57.SIMPANG EMPATB0.204
58.SMPK SEI TABUKB0.296
59.SUNGAI PINANGB0.248
KAB. BARITO KUALA  
60.ANJIR MUARAB0.178
61.ANJIR PASARB0.257
62.BARAMBAIB0.271
63.MANDASTANAB0.266
64.MARABAHANB0.277
65.RANTAU BADAUHB0.267
66.TABUNGANENC0.465
67.TAMBANB0.309
68.WANARAYAB0.210
KAB. TANAH LAUT  
69.JORONGB0.232
70.KINTAPB0.163
71.KURAUB0.282
72.PANYIPATANB0.216
73.SMPK PELAIHARIB0.248
74.TAKISUNGB0.239
75.TAMBANG ULANGB0.218
KAB. KOTABARU  
76.PULAU LAUT TIMURB0.159
77.PULAU LAUT UTARAA0.120
78.KELUMPANG SELATANA0.136
79.STAMET STAGENB0.455
KAB. TANAH BUMBU  
80.ANGSANAA0.122
81.KARANG BINTANGA0.077
82.KUSAN HILIRB0.237
83.KUSAN HULUB0.159
84.SEI LOBANB0.185


Sumber :



Bayong Tjasyono,H.K. 2004. Klimatologi. Penerbit ITB. Bandung.Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. PT. Pustaka Jaya. Bogor.
Kartasapoetra, A.G. 2008. Klimatologi : Pengaruh Iklim terhadap Tanah dan Tanaman (Edisi Revisi. Bumi Aksara. Jakarta.
Munir, M. 2009. Membangun Aplikasi Otomatisasi Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson dan Oldeman. Buletin Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol. 5 No. 1 Maret 2009. Jakarta.
Rusmayadi, G. 2002. Klimatologi Pertanian (PNB 310). Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas   Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
Wisnusubroto, S. 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitra Widya Gama. Yogyakarta.




Tidak ada komentar: