Minggu, 18 November 2012

BEBERAPA METODE KLASIFIKASI IKLIM

Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum. Oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama.

KLASIFIKASI IKLIM MENURUT MOHR

Mohr tahun 1933 mengajukan klasifikasi iklim di Indonesia yang didasarkan curah hujan. Klasifikasi iklim ini didasarkan oleh jumlah Bulan Kering (BK) dan jumlah Bulan Basah (BB) yang dihitung sebagai harga rata-rata dalam waktu yang lama.

Klasifikasi Iklim Mohr berdasarkan hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan. Dasar penggolongan iklim menurut Mohr adalah adanya bulan basah dan bulan kering. Berdasarkan penelitian tanah, Mohr membagi tiga derajat kelembapan yaitu :
  • Bulan basah adalah bulan yang curah hujannya > 100 mm dalam 1 bulan. Jumlah curah hujan melampaui penguapan.
  • Bulan kering adalah bulan yang curah hujannya < 60 mm dalam 1 bulan. Penguapan banyak berasal dari dalam tanah daripada curah hujan.
  • Di antara bulan basah dan bulan kering disebut bulan lembab. Bulan lembab tak masuk dalam hitungan. Curah hujan dan penguapan relatif seimbang.
Curah hujan rata-rata yang digunakan diperoleh dari pengamatan curah hujan selama minimal 10 tahun.

Asumsi untuk penguapan/ evaporasi (E) adalah 2 mm per hari.
  • BB (Bulan Basah) CH > 100 mm ; CH > E
  • BK (Bulan Kering) CH < 60 mm ; CH < E
  • BL (Bulan Lembab) 60 < CH < 100 mm.
Langkah pertama adalah mencari bulan kering dan bulan basah, kemudian langkah kedua menentukan rata-rata curah hujan bulanan. Langkah ketiga menentukan kelas iklim dari kombinasi BK dan BB.


Contoh : BK=3, BB=6 berarti termasuk kelas iklim III.


KLASIFIKASI IKLIM SCHMIDT-FERGUSON

Prinsip digunakan hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Mohr, yaitu dengan mengambil bulan kering dan bulan basah, dengan cara sebagai berikut :

Data curah hujan diambil minimal untuk 10 tahun dan tentukan berapa bulan kering dan bulan basah per tahunnya. Curah hujan bulan basah dan bulan kering dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya.

Bulan lembab dalam penggolongan ini tidak dihitung. Persamaan yang dikemukakan Schmidt adalah sebagai berikut.



Dari persamaan tersebut dapat ditentukan nilai Q. Untuk memudahkan menentukan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson menggunakan skema :



Berdasarkan skema tersebut, Schmidt-Ferguson menggolongkan iklim di Indonesia menjadi 8 (delapan) yaitu:Dari persamaan tersebut dapat digolongkan iklim sebagai berikut :
A = sangat basah
B = basah
C = agak basah
D = sedang
E = agak kering
F = kering
G = sangat kering
H = luar biasa kering

Sering disebut Q model karena didasarkan atas nilai indeks nilai Q yang nilainya perbandingan rata-rata bulan kering dengan bulan basah.

Contoh :
Daerah x, Data ada 10 tahun dari 2001-2010, rata-rata bulan kering = 3; dan rata-rata bulan basah = 8; maka Q = 0.375 = 37.5%. Jadi tipe iklimnya adalah C.

KLASIFIKASI IKLIM OLDEMAN

Dasar yang digunakan adanya bulan basah yang berturut-turut dan adanya bulan kering yang berturut-turut pula. Kedua bulan ini dihubungkan dengan kebutuhan tanaman padi sawah dan palawija terhadap air.

Penentuan bulan basah menurut Oldeman :
  • Bulan basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan lebih dari 200 mm
  • Bulan kering (BK) adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm
Perbedaan dengan klasifikasi Mohr adalah: Mohr berdasarkan pada evaporasi tiap hari 2 mm, sedangkan Oldeman berdasarkan kebutuhan air untuk persawahan dan palawija.

Penggolongan menitikberatkan kepada bulan basah. Oldeman mengemukakan 5 zona utama bulan basah yaitu:
  1. Zona A, bulan basah (BB) lebih dari; 9x berturut-turut
  2. Zona B, bulan basah (BB) 7-9 x berturut-turut
  3. Zona C bulan basah (BB) 5-6 x berturut-turut
  4. Zona D bulan basah (BB) 3-4 x berturut-turut
  5. Zona E bulan basah (BB) < 3 x berturut-turut


Contoh : Data curah hujan rata-rata di X adalah :
 


BULAN
CH
JAN
330
FEB
302
MAR
295
APR
340
MEI
325
JUN
180
JUL
160
AGT
160
SEP
205
OKT
270
NOV
330
DES
360























Banyaknya bulan basah (BB) berturut-turut (> 200 mm/bulan) adalah 9 bulan, sedangkan banyak bulan kering berturut-turut (< 100 mm/bulan) adalah 0. Sehingga daerah ini tipe iklim Oldeman B1.

KLASIFIKASI IKLIM KOPPEN

Klasifikasi ini merupakan klasifikasi utama yang berdasarkan pada hubungan antara iklim dn pertumbuhan vegetasi  sistem klasifikasi ini paling dikenal dan digunakan secara internasional sejak publikasi pertamanya pada tahun 1901 sampai perbaikan-perbaikannya yang tertulis dalam buku Gruudis der Klimakunde tahun 1931.


Dasar klasifikasi ini adalah suhu dan hujan rata-rata bulanan maupun tahunan yang dihubungkan dengan keadaan vegetasi alami berdasarkan peta vegetasi De Candolle (1874).  Menurut Koppen vegetasi yang hidup secara alami menggambarkan iklim tempat tumbuhnya.  Vegetasi tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan hujan efektif yaitu kesetimbangan antara hujan, suhu dan evapotranspirasi.  Jumlah hujan yang sama akan berbeda kegunaannya bila jatuh pada musim yang berbeda.  Oleh karena itu batas-batas klasifikasi Koppen berkaitan dengan batas-batas penyebaran vegetasi.

Klasifikasi iklim Koppen disusun berdasarkan lambang atau simbul yang merumuskan sifat dan corak masing-masing tipe hanya dengan tanda yang terdiri dari kombinasi huruf yaitu :
  • Huruf pertama (huruf besar) menyatakan tipe utama
  • Huruf kedua (huruf kecil) menyatakan pengaruh hujan
  • Huruf ketiga (huruf kecil) menyatakan suhu udara
  • Huruf keempat (huruf kecil) menyatakan sifat-sifat khusus
Pada umumnya dalam menentukan tipe iklim menurut Koppen bila perumusannya telah sampai pada kombinasi dua huruf telah dianggap cukup untuk mencirikan iklim suatu daerah secara umum.
Koppen membagi tipe utama menjadi lima kelas yaitu :
A :  Iklim Hujan Tropik, Suhu bulan terdingin lebih dari 18C
B :  Iklim Hujan, evaporasi lebih dari curah hujan
C :  Iklim Sedang Berhujan, Suhu bulan terdingin antara –3oC sampai 18oC, suhu bulan terpanas  
      lebih dari10o C
D : Iklim Hujan Dingin (Boreal), suhu bulan terdingin kurang dari -3oC dan suhu bulan terpanas lebih dari 10oC
E : Iklim Kutub, suhu bulan terpanas kurang dari 10o C

Pengaruh hujan digambarkan pada huruf kedua, terdiri atas :
  • f : selalu basah, hujan setiap bulan di atas 60 mm.
  • s : bulan-bulan kering jatuh pada musim panas (summer).
  • S : semi arid (stepa atau padang rumput).
  • w : bulan-bulan kering jatuh pada musim dingin (winter).
  • W: arid (padang pasir).
  • m : khusus untuk kelompok tipe utama A (m=monsun), yang berarti musim kemaraunya pendek, tetapi curah hujan tahunan cukup tinggi, sehingga tanah cukup lembab dengan vegetasi hutan hujan tropik
  • F : daerah tertutup es abadi, seluruh musim dalam setahun suhunya selalu di bawah 0o C.

Selanjutnya pengaruh suhu dilambangkan sebagai huruf ketiga yang terdiri atas : 
a : suhu rata-rata dari bulan terpanas > 22.2o C
b : suhu rata-rata dari bulan terpanas < 22.2o C
c : hanya 1-4 suhunya > 10o C dan suhu bulan terdingin > -38o C
d : suhu bulan terdingin < 38o C
e : suhu rata-rata tahunan < 18o C
i : perbedaan suhu antara bulan terpanas dan terdingin < 5o C
k : suhu rata-rata tahunan < 18 C dengan suhu bulan terpanas 18o C
l : suhu semua bulan antara 10 – 22o C.


Berdasarkan dua kombinasi huruf pertama, maka ada 12 tipe iklim menurut klasifikasi Koppen yaitu : 
  • Daerah Iklim Hujan Tropik : Af, Aw, Am 
  • Daerah Iklim Kering : BS, BW
  • Daerah Iklim Sedang Berhujan : CF, Cs, Cw
  • Daerah Iklim Hujan Dingin : Df, Dw
  • Daerah Iklim Kutub : Ew, Ef


KLASIFIKASI IKLIM THORNWAITE

C.W.Thornthwaite (1993) membuat klasifikasi iklim berdasarkan pada curah hujan yang sangat penting untuk tanaman,sehingga selain jumlah curah hujan yang dipakai oleh  tanaman akan lebih kecil dari pada penguapannya kecil,pada jumlah curah hujan yang sama.

Dalam penentuan kelas iklim ini dikemukakan dua pengertian :
  1. Rasio suhu evaporasi (precipitation effect ratio), PE ratio = P/E
  2. Rasio temperatur evapotranspirasi (temperature effect ratio), TE ratio = T/E (T: suhu udara Fahrenheit dan E: evaporasi)
Thornwaite memperhatikan kelembapan, yaitu perbandingan antara kelebihan atau kekurangan air di satu pihak serta keperluan air di lain pihak.

a. PE ratio :
Pembuatan klasifikasi iklim Thornwaite dilakukan dengan asumsi sebagai berikut :
a. Rasio suhu evapotranspirasi (T/E)


Dimana :
P (presipitasi) dalam satuan inchi
T (temperatur) dalam satuan °F

Nilai PE akan memperoleh indeks efek presipitasi (PE indeks) yang merupakan jumlah jumlah PE dalam 12 bulan.



Tabel golongan kelembapan didasarkan pada indeks efek presipitasi (PE index) yakni :



b. TE ratio (rasio efek termal)


Dimana : T (temperatur) dalam satuan °F

Dari TE ratio akan diperoleh TE indeks, yaitu dengan menjumlahkan TE ratio dalam 12 bulan.


Tabel golongan suhu didasarkan pada TE index yakni :




Contoh klasifikasi iklim Thornwaite :

BA' : iklim tropis lembab
DB' : iklim mesotermal kering

1 komentar:

Scientist Writter mengatakan...

Terima kasih untuk artikelnya pak. Sangat membantu tugas meteorologi saya.