Kamis, 31 Mei 2012

PENGERTIAN PALEOKLIMATOLOGI

Paleoklimatologi adalah studi tentang perubahan iklim yang diambil pada skala dari seluruh sejarah bumi. Menggunakan berbagai ilmu bumi dan alam sebagai prokurator untuk memperoleh data yang sebelumnya tersimpan di dalamnya (misalnya : batuan, sedimen, lapisan es, lingkaran pohon, batu karang, kerang dan fosil mikro. Kemudian menggunakan catatan ini untuk menentukan kondisi masa lalu iklim bumi berbagai daerah dan sistem atmosfernya.

Paleoklimatologi memiliki implikasi yang luas terhadap perubahan iklim sekarang. Para ilmuwan sering mengkaji perubahan lingkungan di masa lalu dan keanekaragaman hayatinya untuk merefleksikan situasi di masa kini dan secara khusus dampak iklim terhadap kepunahan massal dan pemulihan biota.

Para ahli paleoklimatologi menggunakan berbagai macam keahlian untuk sampai pada teori dan kesimpulan mereka.
  • Glasier dan kubah es banyak digunakan sebagai sumber data dalam paleoklimatologi. Es pada glasier mengeras dalam pola yang dapat diidentifikasikan, dimana setiap tahunnya meninggalkan suatu lapisan penciri pada inti es.
  • Dendrokronologi merupakan ilmu mengenai penentuan umur kayu dan fosil-fosil kayu berdasarkan lingkaran tumbuhnya.
  • Lapisan sedimen telah diteliti, terutama yang berada pada dasar danau dan lautan. Karakteristik dari tumbuhan, binatang, dan serbuk sari yang terawetkan, serta perbandingan isotop memberikan informasi.
  • Lapisan batuan sedimen memberikan pandangan yang lebih padat mengenai iklim, dikarenakan lapisan batuan sedimen berumur ratusan ribu sampai jutaan tahun. Para ilmuan bisa mendapatkan pegangan mengenai iklim jangka panjang dengan mempelajari batuan sedimen yang dapat berumur sampai dengan milliaran tahun.. Pembagian sejarah bumi menjadi beberapa periode terpisah umumnya berdasarkan perubahan yang terlihat pada lapisan batuan sedimen yang membatasi perubahan kondisi utama. Sering kali hal ini termasuk perubahan utama pada iklim



Selasa, 29 Mei 2012

ZONA MUSIM YANG BARU DI KALIMANTAN SELATAN

Zona musim (ZOM) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Daerah-daerah yang pola hujan rata-ratanya tak memiliki perbedaan yang jelas antara musim kemarau dan hujan disebut Non ZOM. Luas suatu wilayah ZOM tak sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.


Menurut Standar Normal yang baru (1981-2010) dengan proses clustering maka Kalimantan Selatan mempunyai 10 Zona Musim (ZOM) dan 1 daerah Non ZOM. Daerah Non ZOM ini didapatkan dari sebagian daerah Zona Musim 173 dan 174 yang dulu.


Daerah Non ZOM di Kalimantan Selatan (N36) ada di dua kabupaten yaitu kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu. Di Tanah Laut terletak di Jorong, Kintap dan bagian selatan Panyipatan. Di Tanah Bumbu meliputi Satui, Angsana, Sungai Loban dan bagian barat Kusan Hulu.

Daerah Non ZOM ini dapat terjadi sebagai akibat dari pengaruh angin timur dari lautan membentuk awan orografi pada bagian timur pegunungan Meratus yang berada di tengah-tengah Kalimantan Selatan. Fenomena ini menyebabkan kawasan di pesisir pantai tenggara Kalimantan Selatan cenderung lebih banyak terjadi hujan dan lebih basah. Pengaruh interaksi laut dan atmosfer mungkin juga perlu diperhatikan  dapat dilihat daerah non ZOM tersebut ada di sekitar tenggara yang perairannya diapit oleh  pulau Kalimantan dan pulau Laut di Kotabaru.  Maka nantinya perlu pengkajian secara khusus di daerah tersebut pola curah hujannya.






Berikut adalah penjabaran wilayah Zona Musim (ZOM) di Kalimantan Selatan :