Rabu, 16 November 2011

PENENTUAN WAKTU PENGAMATAN AGROMETEOROLOGI DI STASIUN KLIMATOLOGI




Secara umum pengamatan agrometeorologi di suatu stasiun dilakukan pada 3 waktu satu hari. Yakni pengamatan pada jam 07.00, 13.00 dan 18.00 waktu setempat. Misalnya menentukan suhu rata-rata yaitu :

T = (2 x T07.00 + T13.00 + T18.00)/4

Waktu pengamatan agrometeorologi tersebut (07.00, 13.00 dan 18.00) mengacu pada waktu setempat.

Penentuan waktu pengamatan di suatu stasiun klimatologi BMKG adalah dengan didasarkan pada waktu setempat (WS). Waktu Setempat (WS) adalah waktu yang ditentukan berdasarkan pada garis bujur suatu tempat. Dengan kata lain, WS adalah waktu yang ditentukan berdasarkan letak tinggi dari matahari.

Dasar penentuan WS

Indonesia dibagi atas 3 daerah waktu yaitu :
  1. Garis Bujur Dasar (GBD) Waktu Indonesia Barat (WIB) = 105° Bujur Timur (BT)
  2. Garis Bujur Dasar (GBD) Waktu Indonesia Tengah (WITA) = 120° Bujur Timur (BT)
  3. Garis Bujur Dasar (GBD) Waktu Indonesia Timur (WIB) = 135° Bujur Timur (BT)
Pada tempat-tempat yang terletak pada garis bujur dasar (GBD) maka WS sama dengan WIB, WITA atau WIT (WS = WI).
Maksudnya :
Lokasi x pada 105° BT, jam 07.00 WS = 07.00 WIB.
Lokasi y pada 120° BT, jam 07.00 WS = 07.00 WITA
Lokasi z pada, 135° BT, jam 07.00 WS = 07.00 WIT.

Pada daerah yang terletak di sebelah timur garis bujur dasar maka : WS = WI - beda waktu berdasarkan garis bujur dasar. Sedangkan pada daerah di sebelah barat. Sedangkan daerah di sebelah barat garis barat garis bujur dasar dihitung dengan : WS = WI + beda waktu berdasarkan garis bujur dasar.

Contoh penentuan waktu setempat :

1. Stasiun Klimatologi Sampali
Terletak 98° 47' BT di sebelah barat GBD 105° BT, maka jam 07.00 waktu setempat (WS)nya adalah :

Beda Waktu = 4 x (GBD - Posisi Stasiun) menit.

Beda Bujur = 105° - 98° 47' = 1° 13'
Beda Waktu = 4 x (1° + 13') = (4 x 1°) menit + (4 x 13') detik = 4 menit 52 detik dibulatkan 5 menit.
Jam 07.00 WS di Staklim Sampali = 07.00 WIB + 5 menit = 07.05 WIB

2. Stasiun Klimatologi Semarang
Terletak 110° 25' BT di sebelah timu GBD 105° BT, maka jam 07.00 waktu setempat (WS)nya adalah :

Beda Waktu = 4 x (GBD - Posisi Stasiun) menit.

Beda Bujur = 110°25' - 105° = 4° 35'
Beda Waktu = 4 x (4° + 35') = (4 x 4°) menit + (4 x 35') detik = 16 menit 140 detik dibulatkan 18 menit.
Jam 07.00 WS di Staklim Semarang = 07.00 WIB - 18 menit = 06.42 menit.

3. Stasiun Klimatologi Banjarbaru
Terletak 114° 50' BT di sebelah barat GBD 120° BT, maka jam 07.00 waktu setempat (WS)nya adalah :

Beda Waktu = 4 x (GBD - Posisi Stasiun) menit.

Beda Bujur = 120° - 114°45' = 5° 15'
Beda Waktu = 4 x (5° + 15') = (4 x 5°) menit + (4 x 15') detik = 21 menit.
Jam 07.00 WS di Staklim Banjarbaru = 07.00 WIB + 21 menit = 07.21 waktu setempat (WS)

Berikut waktu pengamatan/ penggantian pias di Stasiun klimatologi ;



Sumber :
Didapatkan dari Diklat teknis klimatologi BMKG 2009 di Bogor


Senin, 19 September 2011

PEMAHAMAN AWAL TENTANG MODIS


Pentingnya MODIS
Salah satu isu penting pada zaman sekarang ini adalah perubahan iklim. Secara umum telah disepakati iklim bumi akan memodifikasi sebagai responsnya terhadap pemaksaan radiasi disebabkan oleh perubahan dalam jejak gas atmosfer, awan, jenis awan, radiasi matahari, dan aerosol troposfer (partikel cair atau padat tersuspensi di udara). Untuk mengembangkan konsep dan prediksi model iklim global, sangat penting untuk memantau hal ini.

MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) adalah program yang luas menggunakan sensor pada dua satelit yang masing-masing memberikan lengkap cakupan harian bumi. Data memiliki berbagai resolusi, spektral, spasial dan temporal. Satelit TERRA yang membawa sensor MODIS merupakan satelit pengamatan lingkungan yang dapat digunakan untuk mengekstraksi data permukaan yang bersifat regional. Satelit ini mempuntyai wilayah cakupan yang luas, yakni 2330 km dengan resolusi spasial 250 m (kanal 1 dan 2) dan resolusi spektral yang tinggi (36 kanal) serta resolusi temporal yang kurang lebih sama dengan satelit generasi sebelumnya yakni NOAA.

Sejarah dan mekanisme MODIS

Sensor MODIS pertama diluncurkan pada satelit Terra pada tanggal 18 Desember 1999 dan sensor MODIS kedua diluncurkan pada satelit Aqua pada tanggal 4 Mei 2002. Sensor MODIS melewati titik yang sama di bumi sekitar dua kali per hari baik sebagai satelit Terra dan Aqua mengorbit bumi pada arah yang berlawanan, dengan Terra melintasi khatulistiwa dari utara ke selatan di pagi hari dan Aqua melintasi khatulistiwa dari selatan ke utara di sore hari. Orbit ganda ini memungkinkan titik yang sama di bumi untuk dapat dilihat sekitar dua kali per hari, sekali selama pagi dan sore, yang memaksimalkan jumlah gambar bebas awan dikumpulkan dan di-download setiap hari. Sistem satelit ini terus menyiarkan data ganda MODIS secara real-time untuk stasiun di permukaan tanah dan semua data MODIS disediakan gratis untuk semua pengguna.

Instrumen MODIS "melihat" Bumi pada di 36 panjang gelombang yang berbeda spektrum, mulai dari cahaya tampak ke inframerah termal. Dengan resolusi lebar spektral dan petak melihat, MODIS membuat pengukuran yang berguna dalam berbagai macam disiplin ilmu sistem Bumi. Konsep animasi ini contohnya dapat menunjukkan MODIS mengukur produktivitas primer dari dedaunan hijau di darat dan fitoplankton di laut, diikuti dengan pengukuran tanah dan suhu permukaan laut. Ini adalah contoh dua dari produk data MODIS untuk mengumpulkan berbagai harian pada skala global.

Situs web MODIS, http://modis.gsfc.nasa.gov/index.php, adalah tempat yang baik untuk mulai belajar tentang pentingnya program ini. Situs ini memiliki link ke kelompok MODIS atmosfer, tanah dan lautan. Karena telah disebutkan sensor MODIS adalah dilakukan pada kedua satelit Terra dan Aqua, umumnya mungkin untuk mendapatkan gambar dalam pagi hari (Terra) dan sore hari (Aqua) untuk setiap lokasi tertentu. Malam waktu data juga tersedia dalam kisaran spektrum termal. Anda harus mempertimbangkan waktu saat memesan pemandangan untuk hari yang spesifik. Meskipun Anda dapat memesan sebuah adegan setiap hari untuk setiap tanggal tertentu dan lokasi, banyak konsolidasi produk yang telah dikembangkan dengan data MODIS. Ini termasuk 8-harian atau16-harian komposit gambar, berbagai indeks, dan berbagai produk global lainnya dalam berbagai skala waktu.

Senin, 14 Maret 2011

CERITA TSUNAMI DI JEPANG


Tanggal 11 Maret 2011 gempa bumi besar berkekuatan 8.9 SR melanda Jepang Utara, memicu tsunami yang kabarnya menyapu mobil, bangunan dan puing-puing lainnya. Badan Meteorologi Jepang memperkirakan tsunami lebih besar di daerah tersebut, dengan beberapa diantaranya diperkirakan mencapai lebih dari 30 kaki (10 m) di lepas pantai Hokkaido, pulau kedua terbesar di Jepang. Tsunami juga dihasilkan di lepas pantai Hawaii, yang dapat menyebabkan kerusakan di sepanjang garis pantai dari semua pulau di negara bagian Hawaii, menurut Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (Pacific Tsunami Warning Center). Peringatan tsunami yang berlaku di Hawaii juga.



Bencana menyerang lagi pada Sabtu, 12 Maret, sekitar 26 jam setelah gempa, sebuah ledakan di reaktor No 1 di Fukushima Daiichi Nuclear Power Station Nuklir disebabkan salah satu bangunan runtuh ke tanah. Sistem pendingin di reaktor gagal tak lama setelah gempa. Para pejabat khawatir bahwa krisis dapat terjadi, dan bahan radioaktif dideteksi di luar pabrik. Ketakutan ini terwujud pada hari Minggu, ketika para pejabat mengatakan mereka percaya bahwa kebocoran reaktor parsial terjadi pada No 1 dan No 3. Sistem pendinginan pada pabrik lain, Fukushima Daini juga terganggu, namun situasi di sana tampaknya kurang berbahaya. Lebih dari 200.000 warga diungsikan dari daerah sekitarnya. Masalah itu kemudian dilaporkan juga pada dua fasilitas nuklir lainnya. Selasa, dua ledakan lagi dan api sudah pejabat dan pekerja di Stasiun Fukushima Daiichi Tenaga Nuklir berjuang untuk mendapatkan kembali kontrol dari empat reaktor. Api, yang terjadi di reaktor Nomor 4, dirilis radioaktif langsung ke atmosfer. Pemerintah Jepang mengatakan kepada orang yang tinggal dalam jarak 20 mil dari pabrik Daiichi tinggal di dalam rumah, tidak menggunakan AC, dan menjaga jendela tertutup. Lebih dari 100.000 orang di daerah tersebut. Pada hari Rabu, 16 Maret sementara pekerja keamanan masih berusaha menahan api di reaktor Nomor 4, para pejabat mengumumkan bahwa reaktor No 3 mungkin telah pecah dan tampak melepaskan uap radioaktif. Menurut Tokyo Electric Power, operator pabrik, 5 pekerja tewas dan 22 lainnya menderita berbagai cedera sejak gempa.

Pada konferensi pers pada hari Minggu, Perdana Menteri Naoto Kan menegaskan titik berat situasi. "Saya berpikir bahwa gempa bumi, tsunami, dan situasi pada reaktor nuklir kami membentuk krisis terburuk dalam 65 tahun sejak perang. Jika bangsa bekerja sama, kami akan dapat mengatasinya," katanya. Pemerintah memanggil 100.000 pasukan untuk membantu upaya bantuan. Penyebaran ini adalah yang terbesar sejak Perang Dunia II.

Tsunami di Jepang mengingatkan pada bencana tahun 2004 di Samudra Hindia. Pada 26 Desember, gempa berkekuatan 9,0 SR gempa bumi terbesar dalam 40 tahun terakhir pecah di Samudra Hindia, lepas pantai barat laut pulau Sumatera Indonesia. Gempa bumi menimbulkan tsunami paling mematikan dalam sejarah dunia, begitu kuat bahwa gelombang menyebabkan hilangnya kehidupan di pantai Afrika dan bahkan terdeteksi di Pantai Timur Amerika Serikat. Lebih dari 225.000 orang meninggal dari bencana, setengah juta terluka, dan jutaan kehilangan tempat tinggal.

Jepang di dunia ini adalah negara yang tercatat paling banyak mengalami tsunami di dunia. Tsunami sering terjadi di Jepang. Hampir sepertiga dari seluruh tsunami besar yang tercatat terjadi di negara itu.

Kata "tsu-nami" dalam bahasa Jepang berarti "gelombang di pelabuhan". Nama yang berasal dari pengalaman nelayan di sana yang mana mereka hanya kembali dari laut ke pelabuhan yang aman ketika mereka menemukan kerusakan mengerikan yang disebabkan gelombang pada pantai. Tsunami dihasilkan oleh perpindahan cepat dari sejumlah besar air dengan perpindahan dari dasar laut yang dipicu oleh gempa bumi atau tanah longsor, juga oleh ledakan yang disebabkan oleh letusan gunung berapi atau dampak meteorit. Samudra Pasifik dikelilingi oleh batas-batas yang aktif dari lempeng tektonik litosfer, hampir 53% dari tsunami di seluruh dunia terjadi di sini dan 82% dari mereka yang disebabkan oleh gempa bumi.

Sejarah tsunami di Jepang

Pada tanggal 29 Nopember 684 M terjadilah gempa hebat di Hakuho yang diprakirakan berkekuatan 8.4 skala Richter. Jepang mencatat ada sekitar 20 tsunami dahsyat yang pernah terjadi di sana. Sebuah gempa di lepas pantai utara-timur juga menghasilkan tsunami besar pada tanggal 13 Juli 869. Tertulis di dalam "Nihon Sandai Jitsuroku" disusun pada tahun 901.

Sebuah gempa bumi pada tahun 1923 pernah meratakan Tokyo dan Yokohama, Jepang, menewaskan lebih dari 140.000 orang.

Penanganan gempa di Jepang

Jepang memiliki beberapa organisasi yang menangani bencana alam diantaranya Japan Metorological Agency (JMA), Geology Survey Japan (GSJ) dan Earth Remote Sensing Data Analysis Center (ERSDAC).

Sebagai badan utama, JMA mengoperasikan jaringan pengamatan gempaberupa 200 alat seismograf dan 600 seismik intensif. Mereka juga mengumpulkan data dari 3.600 alat pengukur seismik yang dikelola pemerintah daerah dan National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (NIED). Data ini juga masuk di bagian Earthquake Phenomena Observation System (EPOS) di Tokyo dan Observatorium Meteorologi di distrik Osaka.


Ketika gempa terjadi, JMA segera mendapatkan informasi mengenai hiposenter, magnitudo gempa dan intensitas seismik. Jika intensitas gempa lebih besar dari tiga, lembaga ini segera mengeluarkan laporan gempa. Informasi biasanya keluar kurang dari setengah menit setelah gempa.


Selanjutnya, informasi diberikan kepada pejabat pencegahan bencana melalui jaringan komunikasi khusus untuk mencapai masyarakat di sektiar gempa lewat pemerintah daerah dan media. Bagi Jepang, informasi ini berperan sangat penting untuk memulai operasi penyelamatan terkait gempa dan dampak lanjutan, tsunami misalnya. Intensitas gempa di Jepang menggunakan skala 1 sampai 7 dengan nilai 7 tertinggi.


Sistem Peringatan Dini Gempa Jepang memberikan pengumuman perkiraan intensitas seismik dan estimasi perkiraan waktu kedatangan gerak pokok pada saat gempa awal terjadi. Estimasi ini didasarkan pada analisis segera fokus gempa dan gelombang besar dengan menggunakan data yang diperoleh dari seismograf di dekat pusat gempa.


Sistem Peringatan Dini Gempa ditujukan untuk mengurangi kerusakan gempa terkait dengan tindakan pencegahan yang memungkinkan seperti segera memperlambat kereta, mengendalikan lift untuk menghindari bahaya dan memungkinkan orang untuk dengan cepat melindungi diri di berbagai lingkungan seperti pabrik, kantor, rumah dan dekat tebing.


Untuk tsunami sendiri, setelah Gempa, JMA langsung memperkirakan kemungkinan tsunami dari data observasi seismik. Jika tsunami mungkin terjadi di daerah pesisir, JMA mengeluarkan peringatan Tsunami sekitar dua menit setelah gempa. Jika tsunami terjadi di wilayah yang jauh, JMA akan melakukan koordinasi langsung dengan Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii.


Di Jepang, wilayah paling berbahaya adalah kawasan gempa Tokai, biasanya gempa berkekuatan di atas 8 SM. Ini terletak di daerah Suruga Bay. Mekanisme yang mereka lakukan sangat terperinci di mana setiap badan harus tahu seluruh kejadian saat berlangsung.


Persiapan detil memang harus dilakukan mengingat Jepang memiliki 108 gunung vulkanik aktif dengan sekitar 15 gempa vulkanik setiap tahun.





Senin, 21 Februari 2011

TEORI GEMPA DI MASA KEJAYAAN ISLAM



Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat tulisan berjudul The Science of Winds in the Bowels of the Earth, which Produce Many Earthquakes and Cave-in.

Ibnu Sina, yang dikenal sebagai seorang ilmuwan dan dokter, juga menyampaikan pandangannya mengenai gempa bumi. Ia mengutip sejumlah ilmuwan Yunani yang mengaitkan gempa bumi dengan tekanan gas yang tersimpan di dalam bumi dan kemudian berusaha keluar dari bumi.

Namun, Ibnu Sina tak sepenuhnya sependapat dengan pandangan para ilmuwan Yunani tersebut. Jadi, ia menentang teori mereka dengan memberikan penjelasan dari pemikirannya sendiri dan mengembangkan teorinya sendiri.

Ibnu Sina mengungkapkan, gempa terkait dengan tekanan besar yang terperangkap dalam rongga udara yang ada di dalam bumi. Tekanan ini, bisa datang dari air yang masuk ke dalam rongga bumi dan menghacurkan sejumlah bagian bumi.

Dalam esai panjangnya, Ibnu Sina memberikan sebuah metode untuk mengatasi dampak gempa bumi. Ia menyarankan masyarakat untuk menggali dan membuat sumur di tanah, supaya tekanan gas menurun. Sehingga, getaran akibat gempa bumi berkurang.

Beberapa sejarawan mengatakan, setelah abad ke-10 dan ke-11 teori para ilmuwan Muslim tentang penyebab gempa lebih menekankan pada sisi religius. Mereka berpikir bahwa gempa merupakan fenomena alam yang telah ditetapkan Tuhan.

Namun, pendapat lain mengemuka, para ilmuwan Muslim mengadopsi filsafat logika dan fisik, untuk menjelaskan penyebab terjadinya gempa bumi sejak abad ke-10. Pendekatan itu, agak dihindari menjelang periode berakhirnya kekuasaan Mamluk.

Sejumlah ilmuwan lain dalam periode klasik Islam yang menulis tentang gempa bumi, antara lain, Al-Biruni, Ibnu Rusyd, Jabir bin Hayyan. Mereka membahas gempa bumi dalam buku yang mereka tulis dalam bidang meteorologi, geografi, dan geologi.

Pada masa-masa berikutnya, kajian ilmiah tentang gempa bumi terus dilakukan oleh ilmuwan Muslim. Abu Yahya Zakariya' ibn Muhammad al-Qazwini, ahli geografi, astrnomi, fisika, abad ke-12 asal Persia, menyampaikan teorinya mengenai gempa.

Menurut Al-Qazwini, gempa bumi disebabkan oleh adanya gas bertekanan tinggi sampai menjadi cairan, kemudian berusaha keluar dari dalam bumi sehingga proses ini, selain menyebabkan gempa juga gunung berapi.

Ilmuwan yang sezaman dengan Al-Qazwini, yaitu Al-Tifashi, menambahkan, penumpukan gas menyebabkan tekanan terhadap bumi dan akhirnya menimbulkan gempa. Ia berpendapat, tekanan gas yang sangat kuat menggerakkan kerak bumi.

Ada pula ilmuwan lain, Al-Nuwayri yang hidup sekitar tahun 1373, mengadopsi teori pseudo-fisik yang mengatakan setiap wilayah di bumi memiliki kaitan dengan pegunungan Qaf, yang mengelilingi bumi. Saat Tuhan ingin menghukum manusia, Dia menggerakkan kaitan itu.

Sementara, studi awal mengenai bagaimana bertahan dari gempa bumi, ditulis seorang ilmuwan Mesir, Jalaluddin Al-Suyuti, yang hidup sekitar tahun 1505. Ia tak mengikuti teori fisik tentang gempa bumi yang diadopsi Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Qazwini, maupun Al-Tifashi.

Sebaliknya, Al-Suyuti malah menerima teori pseudo-fisik gunung Qaf dan menceritakan bahwa gempa bumi dan bencana alam lainnya adalah hukuman dari Tuhan terhadap orang-orang berdosa. Dia kemudian membuat catatan 130 gempa bumi yang terjadi di berbagai wilayah Muslim.

Rupanya karya Al-Suyuti menginspirasi karya-karya orang lain untuk menuliskan gempa bumi. Muridnya, Al-Dawudi, menambahkan informasi tentang delapan gempa bumi yang terjadi di Kairo, Mesir. Murid lainnya, Abdulqadir Al-Syadzili, hidup pada 1528, melakukan hal sama.

Al-Syadzili menuliskan pengalamannya saat mengalami dua gempa bumi. Lalu, ada Badr Al-Din Al-Ghazzi, yang pada 1576 memberikan informasi tentang tiga gempa bumi yang terjadi di Damaskus, Suriah. Najm Al-Din Al-Ghazzi menuliskan 12 gempa bumi di sejumlah tempat.

Menurut laman Muslimheritage, dari tinjauan catatan seismik di Arab, menujukkan adanya fenomena langit dan fenomena di permukaan bumi yang menyertai gempa bumi. Pada waktu itu terjadi gempa bumi yang disebabkan oleh sebuah komet atau meteor.

Pada tahun 1500 terjadi gempa bumi ringan di Kairo. Kala itu orang-orang melihat bintang-bintang di langit tercerai-berai. Pada tahun 1504 terlihat bintang jatuh di Yaman yang disertai dengan serpihan-serpihan materi bintang, lalu diikuti dengan terjadinya gempa bumi.

Pada tahun 1511 terdapat meteor yang terbang dari timur menuju ke utara dan itu diikuti oleh gempa bumi yang berlangsung selama tiga bulan di Kota Moza, Yaman. Sejumlah catatan pada masa itu juga menuliskan bahwa gerhana dan badai pun menyertai terjadinya gempa bumi.

Tak heran jika kemudian mereka menganggap indikasi akan datangnya gempa bumi jika ada meteor, gerhana, atau fenomena alam lainnya yang terjadi. Bahkan, astrologi juga terkadang ikut digunakan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi.

Merespons gempa
Selain mengurai kajian tentang gempa bumi, ilmuwan Muslim juga menyampaikan pandangannya mengenai apa yang bisa dilakukan masyarakat dalam menghadapi gempa. Termasuk bagaimana mendirikan bangunan agar bisa tahan gempa.

Di daerah-daerah yang rawan gempa, arsitek-arsitek Muslim menyampaikan serangkaian teori. Mereka menegaskan, agar bagunan memiliki fondasi yang kuat dan dalam. Dinding juga harus memiliki dimensi besar untuk menyangga kubah ketika terjadi gempa.

Dengan demikian, bangunan tidak runtuh saat digoyang gempa. Ini terbukti dengan masih tegak berdirinya monumen-monumen Islam yang ada di Kairo. Bangunan-bangunan itu mampu bertahan dari gempa besar pada 1992 dan masa-masa sebelumnya.

Pada masa kekuasaan Islam, masyarakat bereaksi secara berbeda-beda saat menghadapi gempa. Sejumlah orang segera menuju masjid dan gereja untuk berdoa. Namun, sebagian orang lainnya bergegas menuju area terbuka, kemudian membangun tenda pengungsian.

Ini terjadi pada 1431, saat gempa melanda Granada dan juga sejumlah gempa yang terjadi di Levant. Pada 1504, saat Kota Zayla, Yaman, diguncang gempa, warganya pergi ke area terbuka, yaitu pantai. Di sejumlah wilayah rawan gempa, mereka membangun gubuk kayu.

Gubuk tersebut dibangun di disamping rumah mereka, yang biasanya digunakan untuk bermalam saat terjadi gempa. Sebagian lain menghabiskan malam di area terbuka atau perahu.

Disalin dari http://www.wartaislam.com/2009/11/teori-gempa-di-masa-kejayaan.html