Minggu, 31 Oktober 2010

ALAT MONITORING KUALITAS UDARA

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pengamatan kualitas udara di Indonesia sejak tahun 1976. Dimulai dengan pengamatan SPM (Suspended Particle Matter) di kantor pusat BMG di Jakarta. Latar belakang pemantauan kualitas udara di BMKG adalah adanya program WMO (World Meteorogical Organization) yang terdiri dari :
  1. Global Ozone Observaring System (GO3OS) pada tahun 1950
  1. Background Air Pollution Monitoring Network (BAPMoN) tahun 1960Global Atmosphere Watch (GAW) dan GAW Urban Research Meteorology and Environment (GURME) tahun 1989.

Pengamatan kualitas udara dilakukan di stasiun-stasiun pemantau BMKG meliputi pengukuran konsentrasi debu (SPM), Ozon permukaan dan pengamatan Aerosol dilakukan di dua stasiun BMKG pusat dan GAW Kototabang. Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang (Global Atmosphere Watch) terletak di pulau Sumatera, berjarak 17 km arah Utara kota Bukittinggi. GAW Kototabang adalah salah satu stasiun GAW yang berada di dunia.

Gambar 1. Stasiun global yang ada di dunia.

Sampai saat ini BMKG memiliki 43 jaringan stasiun pemantau kualitas udara. Dari 43 Stasiun/ Unit Kerja Pemantau Kualitas Udara, melakukan pengamatan parameter kualitas udara sebagai berikut: Sebanyak 41 Stasiun melakukan pengamatan SPM, dan 29 stasiun diantaranya selain SPM juga melakukan pengamatan komposisi kimia atmosfer/tingkat keasaman/kimia air hujan.

Gambar 2. Jaringan stasiun kualitas udara BMKG

Kegiatan pemantauan kualitas udara meliputi pengambilan sampel ke Laboratorium Kualitas Udara di BMKG pusat dan analisis terhadap sampel di laboratorium untuk menghasilkan nilai konsentrasi dari setiap parameter kualitas udara. Peralatan kualitas udara terdiri dari:

  1. Peralatan sampling (alat untuk mengambil sampel)
  2. Peralatan pemantau otomatis
  3. Peralatan laboratorium
Peralatan Kualitas Udara yang Ada di Stasiun Klimatologi Banjarbaru:

1. High Volume Sampler (HV Sampler)

Gambar 3. HV Sampler

Fungsinya untuk mengambil sampel SPM (Suspended Particle Matter). Prinsip kerjanya yaitu: udara yang mengandung partikel debu dihisap mengalir melalui kertas filter dengan menggunakan motor putaran kecepatan tinggi. Debu akan menempel pada kertas filter yang nantinya akan diukur konsentrasinya dengan cara kertas filter tersebut ditimbang sebelum dan sesudah sampling di samping itu dicatat flowrate dan waktu lamanya sampling sehingga didapat konsentrasi debu tersebut.

Gambar 4. Kertas filter

2. Automatic Rain Sampler

Fungsinya adalah untuk mengambil sampel air hujan yang akan diukur konsentrasi kimia Air Hujan.

Gambar 5. Automatic rain Sampler

Automatic Rain Sampler adalah peralatan yang digunakan untuk mengambil sampel air hujan Wet dan Dry. Prinsip kerjanya jika terjadi hujan maka sensor akan memberikan trigger kepada sistem kontrol untuk membuka tutup tempat penampungan air yang digerakkan oleh motor listrik, selama hujan penutup tersebut tetap terbuka kemudian setelah hujan berhenti maka penutup akan bergerak ke posisi semula. Sehingga air hujan yang di tempat penampungan tak terkena kotoran lain karena tertutup rapat. Kemudian sampel air hujan tersebut dikirim ke Laboratorium Kualitas Udara BMKG Jakarta untuk dianalisa.


Gambar 6. Sampel air hujan dari seluruh Indonesia

Peralatan Kualitas udara yang tidak ada di Banjarbaru:

1. Aerosol Sampler

Gambar 7. Aerosol Sampler

Fungsinya untuk mengambil sampel aerosol. Aerosol sampler mempunyai sistem kerja hampir sama dengan HV Sampler. Perbedaannya hanya pada ukuran dan bentuk kertas filter dimana udara masuk melalui kertas filter yang dipasang pada tempat filter yang berbentuk bulat dengan dihisap menggunakan motor pompa debu akan menempel di kertas filter.

2. Passive Sampler


Gambar 8. Passive sampler

Passive sampler merupakan peralatan untuk mengambil sampel SO2 dan NO2 dari udara ambient. Prinsip kerjanya tidak membutuhkan power listrik karena bersifat pasif dimana alat ini berbentuk bulat dan di dalamnya terdapat kertas filter yang sudah diberi cairan khusus dari bahan kimia yang fungsinya untuk menangkap gas SO2 dan NO2 yang ada di udara sekeliling. Setelah sampling kemudian passive sampler tersebut dianalisa di Laboratorium Kualitas Udara BMKG Jakarta untuk mendapatkan data SO2 dan NO2.

3. Ozone Analyzer

Gambar 9. Ozone Analyzer

Ozone Analyzer adalah peralatan sampling otomatis untuk mengukur konsentrasi Ozon permukaan yang berada di udara sekeliling. Fungsinya untuk mengukur konsentrasi Ozone Permukaan dengan pengukuran UV Photometry. Prinsip kerjanya adalah udara di sekeliling dihisap masuk melalui inlet yang berbahan plastik atau teflon kemudian dialirkan melalui pipa slang plastik menuju Surface Ozone Analyzer di mana di dalamnya terdapat kolom pipa yang melalui lampu UV dan Detector sehingga udara yang mengalir akan melalui pancaran sinar Ultra Violet yang akan diterima oleh detektor di dalam kolom tersebut. Secara garis besar prinsipnya untuk mengukur UV Absorption oleh molekul Ozone.

4. Carbon Dioxide Analyzer

Fungsinya mengukur konsentrasi gas Karbondioksida dengan metode pengukuran menggunakan sistem sinar Infra merah. Carbon Dioxide Analyzer adalah peralatan untuk mengukur konsentrasi gas CO2 dimana mempunyai prinsip kerja udara ambient dihisap masuk melalui inlet dan mengalir melalui pipa slang plastik masuk ke CO2 Analyzer dimana konsentrasi sampel gas CO2 diukur dengan cara mengukur seberapa banyak sinar infra merah yang diserap sampel gas yang mengalir melalui korelasi multi-cell diisi memutar pada satu sisi dengan referensi CO2 cell.

5. Carbon Monoxide Analyzer

Peralatan untuk mengukur konsentrasi gas CO dimana mempunyai prinsip kerja hampir sama dengan CO2 Analyzer yang membedakan hanya gas standar yang dipakai untuk kalibrasinya. Di samping itu juga ada yang menggunakan sistem Ultra Violet Photometry.


Gambar 10. Carbon Monoxide Analyzer

6. Nephelometer

Nephelometer adalah peralatan sampling otomatis untuk mengukur parameter aerosol ukuran PM 2.5. Prinsip kerja udara ambient dihisap melalui inlet secara kontinyu mengalir melalui pipa slang plastik udara ambient masuk ke M9003 Nephelometer Analyzer yang terdapat kolom pipa yang isinya lampu LED dan detektor dimana data dihasilkan dengan mengukur light scattering (hamburan sinar) yang dipengaruhi oleh konsentrasi PM 2,5 yang diterima oleh detektor.

Gambar 11. Nephelometer

7. BAM 1020 Analyzer

Beta Atteunation Monitoring (BAM) 1020 Analyzer adalah peralatan sampling otomatis untuk mengukur parameter aerosol ukuran PM 10. Prinsip kerjanya udara ambient dihisap dengan motor listrik masuk melalui inlet cyclone, jika partikel itu kecil akan mengalir melalui pipa aluminium karena beratnya ringan dan jika partikel lebih besar dari PM 10 maka akan berputar-putar dan tidak masuk ke BAM 1020 Analyzer. Lalu partikel debu mengalir melalui kertas filter melalui Nozzel dan menempel di kertas filter yang nantinya akan diukur dengan sinar Beta dengan metode pengecilan atau pelemahan sinar beta oleh ketebalan konsentrasi debu PM 10 yang menempel di kertas filter.

Gambar 12. BAM 1020 Analyzer

8. Solar Radiation Monitoring

Adalah peralatan untuk mengukur radiasi matahari secara langsung. Menggunakan pyranometer dengan prinsip kerja thermo couple dimana sifat benda hitam/black body yang lebih banyak menyerap radiasi panas sinar matahari, perubahan dari perbedaan suhu antara kedua benda yang akan menimbulkan gaya gerak listrik sehingga menimbulkan tegangan yang nantinya akan dikonversi ke satuan radiasi matahari seperti joule/jam atau watt/jam.

Gambar 13. Solar Radiation Monitoring

9. Air Kit Flask Sampling

Fungsinya untuk mengambil sampel udara yang akan dianalisa dengan menggunakan gas Kromatografi.


Gambar 14. Air Kit Flask Sampling

Perhatian Ilmuwan muslim terhadap kualitas udara dan kesehatan :

Al- Kindi
Pada abad ke-9 M, ilmuwan Muslim bernama Ya'qub ibnu Ishaq al-Kindi telah berhasil menulis risalah tentang cara-cara mengatasi polusi udara agar tak berbahaya bagi kesehatan manusia. Al-Kindi menulis risalah tentang bahaya polusi udara terhadap kesehatan itu bersumber dari buku Sabian atau pengetahuan sekte Mandaean yang merupakan keturunan dari para pemuja bintang di Babilonia. Selain itu, sumber risalah Al-Kindi juga berasal dari buku-buku India.

Qusta ibnu Luqa
Qusta ibnu Luqa dikenal sebagai salah seorang penerjemah dan penulis buku terkemuka di abad ke-10 M. Salah satu karyanya yang terkait dengan isu lingkungan adalah risalah tentang penyakit menular. Ibnu Luqa mengungkapkan, penyakit menular berpindah dari tubuh yang sakit ke tubuh yang sehat. Sedangkan penularannya melalui berbagai macam cara antara lain, melalui udara di sekitar penderita dan melalui infeksi.

Dalam risalahnya, dia juga menerangkan hubungan antara penyakit menular dengan polusi lingkungan. Polusi yang berasal dari bumi antara lain; uap dari hutan dan rawa-rawa, asap dari gunung berapi, dan asap dari jenazah yang dibakar. Lingkungan yang banyak polusinya membuat penyakit menular bisa menular dengan lebih cepat.

Ia juga mengungkapkan, faktor ekstrem dari langit juga bisa membuat orang-orang menjadi mudah sakit, antara lain; panas yang sangat ekstriem pada musim panas dan dingin yang sangat ekstrim pada musim dingin. Dalam cuaca yang sangat ekstrem, papar Ibnu Luqa, kekebalan tubuh manusia cenderung menurun.

Salah satu karya besar yang ditulis Ibnu Luqa adalah buku pedoman kesehatan bagi para jamaah haji yang berjudul Medical Regime for the Pilgrims to Mecca. Buku tersebut berisi petunjuk kesehatan bagi para jamaah haji yang akan menghadapi lingkungan ekstrem di kota Makkah.

Beberapa bab dalam buku tersebut juga berisi tentang kaitan antara lingkungan dengan penyakit diantaranya: Pada bab empat, Ibnu Luqa membahas tentang berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh hembusan angin yang berbeda-beda. Selain itu, pada bab enam, ia juga memaparkan tentang batuk dan pilek yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan bagaimana cara menyembuhkannya.

Pada bab ketujuh, Ibnu Luqa juga mengkaji tentang penyakit mata yang disebabkan oleh debu dan angin serta cara menanganinya. Dalam bab kedelapan, sang ilmuwan membahas tentang pengujian tentang berbagai macam air untuk mencari tahu jenis air yang terbaik. Pada bab selanjutnya, Ibnu Luqa memaparkan cara memperbaiki air yang telah terkontaminasi.

Al-Razi
Sang ilmuwan dikenal sangat peduli dengan berbagai macam kejadian alam. Dalam karyanya yang berjudul Types of Water, al-Kindi mengkaji masalah air dari berbagai macam sudut pandang baik secara medis maupun geologis. Dalam karya itu, dia mengutip beberapa tulisan dari Ibnu Masawaih, Ali ibnu Raban at-Tabari dan Hunain ibnu Ishaq.

Al-Tamimi
Buku al-Tamimi mengenai hubungan antara ekologi dengan lingkungan bisa dibilang cukup lengkap pada abad ke-10 M. Al-Tamimi membuat buku secara berseri, buku tersebut diklasifikasikan sebagai berikut: Pertama, berbagai macam tipe polusi udara di negara-negara Islam dan hubungannya dengan kondisi geografi.

Kedua, tentang berbagai macam penyakit akibat polusi udara dan berbagai macam infeksi alami. Ketiga, tentang prosedur hieginisasi lingkungan ketika epidemi penyakit terjadi. Keempat tentang cara mengatasi polusi air. Kelima, cara merawat air di kolam dan berbagai macam polusinya.

Keenam, obat untuk menguatkan ketahanan tubuh. Ketujuh, tentang penggunaan wewangian, musik dan terapi psikologi guna meningkatkan kekebalan tubuh dari infeksi. Kedelapan, al-Tamimi juga membahas ciri-ciri cacar dan campak serta cara mengobatinya. Kesembilan, sang dokter juga membahas tentang obat-obatan bagi penderita masuk angin.

Selain buku tersebut, dia juga menulis buku tentang jus asam dan acar untuk mencegah penyakit , buku berisi metode untuk memperbaiki tingkat kualitas udara, dan meningkatkan ketahan tubuh dari penyakit.

Abu Sahl al-Masihi
Al-Masihi merupakan seorang ilmuwan yang terkenal karena keteraturan dan kejelasannya dalam menyusun sebuah karya. Dia mengklasifikasikan penyakit berdasarkan penyebabnya dan menentukan cara penyembuhannya berdasarkan tipe penyakitnya termasuk, jadwal pemberiaan obatnya dan alasannya.

Risalah al-Masihi dibagi menjadi empat seksi antara lain: Pentingnya udara untuk kehidupan, perubahan komposisi isi udara dan dampaknya terhadap kesehatan tubuh, cara epidemi menjangkiti tubuh dan pencegahan dan penyembuhan menurut tipe-tipe epidemi penyakit.

Dalam seksi kedua risalah tersebut, al-Masihi menjelaskan perbedaan antara penyakit endemik (al-amrad al-biladiyyah), penyakit epidemik (al-waba‘), juga penyakit akibat bencana (al-muwatan). Beberapa sebab epidemik antara lain tingkat kelembaban dan kepanasan suhu di udara yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi normal selama setahun, udara kering yang berlebihan, udara tidak normal, juga bencana alam.

Ibnu Sina
Beberapa karya Ibnu Sina yang terkait antara ekologi dan kesehatan antara lain, proses pelapukan, tipe udara termasuk kualitasnya dan cara perawatannya, penyakit-penyakit yang disebabkan udara yang tidak murni, serta cara mendesain rumah dan pemilihan lokasi rumah berdasarkan kesehatan.

Selain itu, sang dokter agung itu juga membahas tentang binatang-binatang yang menimbulkan polusi dan penyakit.Ia juga menyebutkan tanda-tanda alam yang menunjukkan bakal munculnya wabah atau bencana antara lain, tikus dan binatang-binatang di dalam tanah keluar ke permukaanan. Ini merupakan fenomena alam yang disebutkan oleh Ibn sina untuk pertama kalinya.

Senin, 19 Juli 2010

SYARAT PERMINTAAN DATA Rp 0,00 (NOL RUPIAH) UNTUK KEPERLUAN PENDIDIKAN DAN PENELITIAN NON KOMERSIAL

Bila anda ingin mendapatkan data dari kantor kami, berikut persyaratannya:

SYARAT PERMINTAAN DATA RP. 0,00 (NOL RUPIAH) UNTUK KEPERLUAN PENDIDIKAN DAN PENELITAN NON KOMERSIAL

BERDASARKAN PERATURAN KBMKG NOMOR: KEP. 17 TAHUN 2009

TENTANG

TATA CARA DAN SYARAT PENGENAAN TARIF RP. 0,00 (NOL RUPIAH) ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK TERHADAP KEGIATAN TERTENTU DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

1. Surat Pengantar dari Rektor/Dekan/Ketua Jurusan pada Universitas/Fakultas yang bersangkutan;

2. Proposal Penelitian berisi maksud dan tujuan penelitian;

3. Surat pernyataan tidak digunakan untuk kepentingan lain dari pemohon tarif sebesar Rp.0,00 (nol rupiah);

4. Surat pernyataan kesediaan menyerahkan salinan hasil penelitian dari pemohon tarif sebesar Rp.0,00 (nol rupiah).

BANJARBARU, 23 JUNI 2010

KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI BANJARBARU,

Ir. SUCANTIKA BUDI, M.Si

NIP. 195602181979011001

Silahkan anda lihat contoh surat permohonan di Staklim Banjarbaru atau download di sini : SYARAT PERMOHONAN DATA UNTUK PENDIDIKAN DAN PENELITIAN NON KOMERSIAL.

Selasa, 25 Mei 2010

HUBUNGAN CUACA DAN IKLIM TERHADAP HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

Iklim dan cuaca memiliki peran penting baik langsung ataupun tak langsung pada penyebaran, pemencaran, kelimpahan dan perilaku serangga serangga serta pelepasan dan peletakan spora., infeksi dan penetrasi, kolonisasi dan pembentukan organ pembiakan pada cendawan dan bakteri. Ada 2 proses yang memiliki peranan penting langsung maupun tak langsung yakni proses fisik yang ditampilkan dalam bentuk pola dan fenomena iklim atau cuaca, mikro maupun makro serta proses biologi yang ditampilkan dalam bentuk pertumbuhan, perkembangan dan dinamika populasi (epidemiologi).

PENGARUH IKLIM TERHADAP SERANGGA HAMA

Menurut Andrewartha dan Birch (1974), komponen hidup hewan terdiri atas 4 komponen yaitu: cuaca, makanan, organisme dan hewan lain termasuk preditor dan parasit, serta tempat hidup hewan tersebut.

Kehidupan serangga sebagai hewan berdarah dingin (poikilotermal) akan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca dan iklim tempat hidup/ habitatnya. Cuaca dan iklim berpengaruh besar terhadap perilaku, perkembangan populasi maupun penyebaran suatu spesies serangan.

Messenger (1959) dan Sunjaya (1970) berpendapat penelaahan komponen iklim dalam hubungannya dengan kehidupan serangga mencakup beberapa hal:
  1. Menentukan faktor iklim apa dan berapa intensitasnya yang mempengaruhi habitat serangga sehingga dapat dianalisis hubungan keadaan dan perubahan iklim secara makro di suatu daerah dengan timbul dan lenyapnya serangga-serangga di daerah tersebut.
  2. Mengetahui penyebaran daerah-daerah yang mempunyai pengaruh faktor-faktor iklim yang berpengaruh tersebut dan erat hubungannya dengan klasifikasi iklim.
  3. Memperhatikan dan meneliti perubahan iklim mikro yang mendadak dan tanggap yang diwujudkan serangga. Termasuk diantaranya kemungkinan pendugaan perubahan iklim di masa depan.
Dalam memahami hubungan antara cuaca dan iklim dengan serangga yang lebih penting adalah memahami keadaan iklim mikro di dalam pertanaman tempat serangga itu hidup.

Krebs (1978) mengatakan bahwa sebaran geografik suatu organisme dibatasi oleh faktor-faktor fisik yaitu : suhu, kelembapan, air dan cahaya di habitatnya.

Faktor-faktor iklim yang diduga berpengaruh terhadap hama menurut Kisimoto dan Dyck (1976) di antaranya adalah suhu, kelembapan relatif, curah hujan dan angin.

1. Curah hujan/presipitasi

Hujan adalah gejala gerak konveksi udara yang kemudian mengalami pendinginan (di dalam atmosfer) sehingga terjadi kondensasi dan akhirnya jatuh sebagai titik air. Unsur-unsur penting dari hujan yang berhubungan dengan pertumbuhan hama adalah jumlah volume curah hujan, jumlah hari hujan dan intensitas hujan.

Periodesitas timbulnya hama sangat berhubungan dengan periode hujan tahunan dan perubahan-perubahan jangka panjang. Pengaruh hujan terhadap perkembangan hama dapat secara langsung berupa pengaruh mekanis, misalnya hujan lebat dapat menghanyutkan serangga. Sedangkan banyak sedikitnya hujan dapat berpengaruh tak langsung terhadap perkembangan hama, karena tinggi rendahnya hujan erat hubungannya dengan suhu maksimum, minimum serta tekanan udara.

2. Suhu Udara

Pengaruh suhu udara terhadap hama dan penyakit tumbuhan antara lain mengendalikan perkembangan, kelangsungan hidup dan penyebaran serangga (Massenger, 1976). Suhu dinyatakan dalam derajat panas, sumber pada permukaan tanah berasal dari radiasi matahari. Tinggi rendahnya intensitas cahaya matahari berbanding lurus dengan tinggi rendahnya suhu udara.

Tinggi rendahnya suhu tubuh serangga menyesuaikan suhu udara lingkungannya (hyphothermal). Pengaruh suhu lingkungan terhadap serangga hama dapat dikelompokkan menjadi 5 zona:
  • Zona suhu maksimum: daerah suhu dimana serangga tak lagi dapat bertahan maupun menyesuaikan diri sehingga mati karena terlampau panas.
  • Zona suhu tinggi inaktif atau estivasi: daerah suhu dimana serangga masih dapat bertahan hidup tapi tak lagi aktif atau bergerak dan tak pula mati karena proses fisiologis organ-organ tubuh masih bekerja. Beristirahat/tidurnya serangga dalam melakukan aktivitas kehidupan diebut estivasi/diapuze. Jika suhu udara turun sampai titik tertentu maka serangga akan aktif kembali dan hidup normal.
  • Zona suhu optimum atau efektif, daerah suhu dimana serangga hidup secara normal dan segala aktivitas berlangsung secara lancar dan optimal sehingga perkembangan serangga terjadi maksimal.
  • Zona suhu rendah inaktif/hibernasi, daerah dimana serangga masih dapat hidup tapi tak aktif atau bergerak karena keadaan terlampau dingin. Serangga tidak mati karena proses fisiologis organ-organ tubuhnya masih bekerja, hal ini disebut hibernisasi. Jika suhu udara meningkat sampai titik panas tertentu maka serangga akan aktif kembali dan hidup normal.
  • Zona suhu minimum, daerah dimana serangga tak dapat bertahan hidup atau menyesuaikan diri lagi terhadap lingkungan sehingga mati kedinginan.
3. Kelembapan udara (Lengas Udara)

Kebutuhan serangga akan air sangat dipengaruhi dan berhubungan erat dengan keadaan lingkungan hidupnya terutama kelembapan dan ketersediaan air. Untuk menyatakan kandungan air di udara tau kelembapan udara dilakukan dengan cara antara lain lengas udara mutlak, lengas udara spesifik, lengas udara nisbi dan tekanan uap.

Kemampuan serangga bertahan hidup terhadap lengas udara sangat berbeda-beda tergantung spesiesnya. Hama Trips tabaci dapat bertahan hidup dalam lengas udara di bawah 50%. Dalam lengas udara nisbi 10%, kumbang bubuk kacang hijau betina meletakkan telur rata-rata 44.4 butir, namun pada lengas nisbi 25%, menghasilkan telur 49.8 butir.

Gambar 1. Trips tabaci


4. Cahaya dan Radiasi Matahari

Semua cahaya sangat berhubungan erat dengan kehidupan serangga. Umumnya serangga sangat tertarik dengan cahaya dan untuk kebutuhan hidupnya memerlukan energi yang bersumber dari cahaya matahari atau bulan. Penyesuaian serangga terhadap kondisi cahaya selain dalam bentuk kebiasaan/karakteristik hidup juga dalam hal fisiologis, anatomis, morfologis, indra penglihatan dan warna tubuh.


Gambar 2. Locusta migratoria

Ngengat serangga noktural akan aktif di malam hari, sedangkan belalang kembara (Locusta migratoria manilensis) arah mengembaranya mengikuti langsung arah cahaya matahari dan berkumpulnya mengikuti arah berputarnya matahari. Belalang kembara dewasa gregraria terbang pada siang hari dan malamnya akan berkumpul pada tanaman untuk makan, kawin dan meletakkan telur. Sedangkan yang soliter terbang pada malam hari dan siangnya tinggal di pepohonan.

Panjang dan pendeknya periodesitas radiasi matahari akan berpengaruh pada suhu udara, lengas udara dan lamanya pengembunan yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri, virus dan sporalisasi cendawan.

5. Angin dan gerakan udara

Angin merupakan gerak udara horisontal dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Secara langsung angin dan gerakan udara tak berpengaruh terhadap pertumbuhan hama. Namun angin merupakan faktor penting dalam menyebarkan hama dan penyakit tumbuhan. Kecepatan terbang belalang kembara sangat dibantu oleh kecepatan dan arah angin, pada angin yang sepoi-sepoi terbang melawan arah angin, tapi bila angin kencang terbang mengikuti arah angin. Serangga ordo Hymenoptera, Diptera, Coleoptera dan Orthoptera umumnya terbang pada cuaca cerah tanpa angin. Jika kecepatan angin melampaui 15 km/jam, aktivitas terbang terhenti.

PENGARUH IKLIM TERHADAP PENYAKIT TANAMAN

Cuaca dan iklim sangat berpengaruh terhadap penyakit tanaman, khususnya penyakit yang disebabkan oleh angin, air dan serangga. Penyakit tumbuhan dapat diartikan sebagai kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, virus, mikroplasma dan yang disebabkan oleh faktor lingkungan tak cocok (kelebihan atau kekurangan hara tertentu, polusi dan lain-lain. Diantaranya penyebab penyakit tersebut, cendawan dan bakteri merupakan patogen yang banyak menyerang tanaman.

Cendawan umumnya disebarkan dalam bentuk spora atau potongan hifa. Penyebarannya dapat dibantu oleh angin, air hewan, manusia, kontak langsung atau terkandung dalam bagian tanaman (biji, umbi). Bakteri juga dapat menyebar dengan cara yang sama. Sedangkan virus dan mikroplasma kebanyakan disebarkan serangga, manusia sendiri atau melalui bagian tanaman.

Perubahan faktor lingkungan fisik, iklim atau cuaca akan sangat berpengaruh terhadap penyakit pada saat patogen di luar jaringan tanaman (pre penetrasi). Pada waktu tersebut patogen sangat peka dan menentukan apakah iklim atau cuaca cukup menentukan perkembangan.

Dalam meninjau pengaruh iklim atau cuaca terhadap perkembangan penyakit maka yang paling penting adalah bagaimana menjelaskan perilaku iklim mikro sekitar pertanaman atau bahkan pada lapisan yang lebih tipis di sekitar daun atau batang yang disebut boundary layer. Perubahan lingkungan fisik lapisan tipis atau di sekitar pertanaman itulah yang sangat menentukan keberhasilan patogen menimbulkan penyakit. Dalam beberapa hal masalah tersebut sulit diteliti sehingga diperlukan pengertian mengenai hubungan antara pola iklim makro dan iklim mikro di sekitar tanaman.
Gambar 3. Boundary Layer

1. Kelembapan Udara

Kelembapan udara yang relatif tinggi sepanjang tahun di Indonesia merupakan kondisi potensial timbulnya penyakit. Terjadinya infeksi pateogen kerap ditentukan kondisi kelembapan di sekitar pertanaman, terutama bagi patogen cendawan.

Gambar 4. penyakit cara pada tanaman teh (Exobasidium vexans)

Contoh pada kasus penyakit cara teh. Penyakit ini dapat secara drastis dikurangi tingkat serangannya dengan cara mengurangi kelembapan sekitar tanaman melalui pemotongan atau pengurangan tanaman pelindung.

Berbeda dengan penyakit cendawan, penyakit yang disebabkan virus umumnya lebih berkembang pada musim kering.

Tingginya kelembapan di Indonesia juga menimbulkan masalah tersendiri pada penanganan pasca panen yaitu banyaknya pernyakit yang menyerang hasil panen di tempat-tempat penyimpanan.

2. Air dan embun

Air yang dimaksud adalah air bebas yang sangat besar peranannya dalam perkembangan penyakit. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker kina yang disebabkan Phytopthora cinnamoni atau penyakit penyakit lanas tembakau (Phytopthora nocotiane) dapat tersebar luas terbawa air hujan. Air gutasi juga dapat membantu timbulnya penyakit seperti pada Xanthomonas campestris yang menyerang kol.

Embun juga dapat berperan dalam perkembangan spora dan infeksi. Penyebab penyakit bulai pada jagung (Sclerospora maydis) hanya dapat membentuk spora pada waktu malam jika daun berembun.


Gambar 5. Penyakit bulai pada jagung

3. Angin

Pengaruh angin umumnya secara tak langsung terhadap kelembapan dan terjadinya embun. Pengaruh langsungnya adalah terhadap penyebaran spora, penyebaran serangga vektor dan perlukaan akibat gesekan noleh tiupan angin. Contohnya adalah pelepasan dan pemencaran konidia Pyricularia oryzae yang sangat dipengaruhi kecepatan angin.

4. Suhu lingkungan

Ketinggian tempat dari permukaan laut akan memberikan suhu tertentu kebanyakan penyakit hanya merugikan pada tempat-tempat dengan ketinggian tertentu. Penyakit bulai pada jagung, penyakit karat daun kopi dan cendawan akar merah pada teh (Ganoderma pseudofrreum) hanya merugikan pada tempat-tempat rendah yang suhunya relatif tinggi. Sedangkan penyakit tepung, cacar teh, bercak bergaris pada padi (P. oryzae) dan cendawan akar merah bata (Poriahypolateritia) serta cendawan akar hitam (Roselliniaarcuata) pada teh hanya merugikan pada tempat yang tinggi yang suhu lingkungan relatif lebih rendah.

Pada keadaan tertentu, suhu pada malam hari bersama-sama kelembapan dapat berpengaruh terhadap penyakit dengan pembentukan embun dan terjadinya gutasi. Suhu lingkungan sangat menentukan terutama pada masa prapenetrasi.

5. Radiasi surya

Pengaruh radiasi surya secara tak langsung terhadap berkurangnya kelembapan dan meningkatnya suhu lingkungan. Sedangkan secara langsung adalah pada efek mematikan spora atau pembuluh kecambah spora pada kebanyakan patogen.

Sumber:
Yonny Koesmaryono. 1991. Pengaruh Iklim terhadap Hama dan Penyakit Tanaman dalam Kapita Selekta Agrometeorologi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bogor.

Selasa, 20 April 2010

SEJARAH SINGKAT BMKG


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (disingkat BMKG), sebelumnya bernama Badan Meteorologi dan Geofisika (disingkat BMG) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulai pada tahun 1841 diawali dengan pengamatan yang dilakukan secara perorangan oleh Dr. Onnen, Kepala Rumah Sakit di Bogor. Tahun demi tahun kegiatannya berkembang sesuai dengan semakin diperlukannya data hasil pengamatan cuaca dan geofisika.

Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut oleh Pemerintah Hindia Belanda diresmikan menjadi instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium (Observatorium Magnetik dan Meteorologi) yang dipimpin oleh Dr. Bergsma.

Pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942 sampai dengan 1945, nama instansi meteorologi dan geofisika tersebut diganti menjadi Kisho Kauso Kusho.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, instansi tersebut dipecah menjadi dua yakni:

  1. Biro Meteorologi yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia, Yogyakarta, khusus untuk melayani kepentingan Angkatan Udara.
  2. Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang berada di Jakarta dibawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga.

Pada tanggal 21 Juli 1947, Jawatan Meteorologi dan Geofisika diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan namanya diganti menjadi Meteorologisch en Geofisiche Dienst. Sementara itu, ada juga Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang dipertahankan oleh Pemerintah Republik Indonesia yang berkedudukan di Jalan Gondangdia, Jakarta.

Pada tahun 1949, setelah penyerahan kedaulatan negara Republik Indonesia dari Belanda, Meteorologisch en Geofisiche Dienst diubah menjadi Jawatan Meteorologi dan Geofisika dibawah Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum.

Selanjutnya pada tahun 1950, Indonesia secara resmi masuk sebagai anggota Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization atau WMO) dan Kepala Jawatan Meteorologi dan Geofisika menjadi Permanent Representative of Indonesia with WMO.

Pada tahun 1955, Jawatan Meteorologi dan Geofisika diubah namanya menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika dibawah Departemen Perhubungan, dan pada tahun 1960 namanya dikembalikan menjadi Jawatan Meteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan Udara. Namun 10 tahun kemudian diubah lagi menjadi Direktorat Meteorologi dan Geofisika.

Pada tahun 1972, Direktorat Meteorologi dan Geofisika diganti namanya menjadi Pusat Meteorologi dan Geofisika, suatu instansi setingkat eselon II di bawah Departemen Perhubungan, yang pada tahun 1980 statusnya dinaikkan menjadi suatu instansi setingkat eselon I dengan nama Badan Meteorologi dan Geofisika, dengan kedudukan tetap berada dibawah Departemen Perhubungan.

Pada tahun 2002, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 46 dan 48 tahun 2002, struktur organisasinya diubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) dengan nama tetap Badan Meteorologi dan Geofisika.

Terakhir, melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, BMG berganti nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dengan status tetap sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen.




Rabu, 14 April 2010

PUTING BELIUNG

Gambar 1. Kejadian angin puting beliung (tornado skala kecil)

Pengertian

Puting beliung sama dengan tornado skala kecil. Akan tetapi tornado seperti yang biasa kita lihat di tv di luar negeri tak pernah terjadi di Indonesia. Menurut pengertian meteorologi tornado adalah kolom udara yang berputar kencang dengan membentuk hubungan antara awan Cumulonimbus atau kejadian langka dari dasar awan Cumulus dengan permukaan tanah.

Gambar 2. Contoh akibat kejadian tornado di AS yang menimbulkan kerusakan yang hebat


Puting beliung di Indonesia adalah tornado dalam skala F0-F1 pada skala Fujita, yang memiliki daya rusak rendah dibandingkan di wilayah lintang tinggi dimana memiliki daya rusak terparah hingga skala F5. Puting beliung umumnya terjadi pada masa pancaroba dan musim hujan, dengan waktu kejadian antara siang hingga malam hari. Kondisi ini dikarenakan sinar matahari sebagai bahan bakar utamanya, secara maksimal diperoleh pada periode (frekuensi bulanan yang berkaitan dengan musim) dan waktu (frekuensi harian) tersebut.

Gambar 3. Skala kerusakan tornado menurut Fujita

Puting beliung biasa terjadi pada :
a. Pancaraoba baik dari hujan ke kemarau maupun sebaliknya;
b. Musim penghujan dengan kriteria sebagai berikut :
  • 1-2 atau lebih kondisi cuacanya clear atau panas, biasanya hujan terjadi pada hari berikutnya akan lebat disertai petir dan angin kencang.
  • Biasanya pada pagi hari cerah dan berawan, maka pada sore harinya berpeluang terjadi angin kencang/puting beliung.
Sifat angin puting beliung:
  • Tidak bisa diprediksi secara spesifik hanya peluang dalam batasan wilayah, setelah melihat atau merasakan tanda-tandanya baru bisa diprediksi 0.5-1 jam sebelumnya dengan tingkat keakuratan kurang dari 50%.
  • Angin puting beliung hanya berasal dari awan Cumulonimbus (Cb), bukan dari pergerakan angin monsun atau pergerakan angin pada umumnya, sehingga dapat berpindah/bergeser sesuai dengan tekanan tinggi ke tekanan rendah dalam skala luas.
  • Tidak semua jenis awan Cb menimbulkan kejadian puting beliung, karena sangat mikro maka sangat sulit membedakannya, secara teori puting beliung dari awan Cb bersel tunggal, super sel dan multisel, kesemuanya hanya dapat dilihat di lapangan terbuka bukan dari teori monsun atau siklon atau pula model cuaca.
  • Suatu daerah yang terlanda puting beliung maka kecil kemungkinannya terjadi kedua kali, atau tak ada puting beliung susulan karena berasal dari awan Cb yang sifat tumbuhnya tergantung dari intensitas konvektif yang juga sulit diprakirakan.
  • Sangat lokal.
  • Bergerak secara garis lurus.
  • Waktunya singkat sekitar 3 menit dan tiba-tiba.
  • Terjadinya pada siang atau sore hari.
  • Malam jarang terjadi.
  • Puting beliung sulit diprediksi, namun tanda-tandanya dapat diketahui di luar rumah.
  • Terjadi pada tanah lapang yang vegetasinya kurang.
  • Jarang terjadi pada daerah perbukitan atau hutan lebat.
Gambar 4. Sejumlah bocah bermain disekitar kubah Masjid Hidayatusolikin di Desa Aluh aluh Besar, Kecamatan Aluh Aluh, Kabupaten Banjar, Kalsel, yang terjatuh akibat disapu angin puting beliung, Rabu (18/2). (dokumen dari Metro Banjar). Kabupaten Banjar didominasi daerah tanah lapang dengan vegetasi yang kurang rawan kejadian puting beliung.

Tanda-tanda datangnya angin puting beliung:
  • Satu hari sebelumnya udara pada malam hari sampai pagi hari udaranya panas/pengap.
  • Sekitar jam 10.00 terlihat tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.


Gambar 5. Awan Cumulus
  • Tahap berikutnya adalah awan tersebut akan berubah warna menjadi hitam gelap.
Gambar 6. Awan menjadi gelap

  • Perhatikan pepohonan di sekitar anda berdiri apakah ada dahan atau ranting yang sudah bergoyang cepat, jika ada hujan dan angin kencang sudah akan datang.
  • Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.
  • Terdengar sambaran petir yang cukup keras, apabila indikator itu dirasakan oleh kita, maka ada kemungkinan hujan lebat, petir dan angin kencang akan terjadi.
  • Jika 1 atau 3 hari berturut-turut tak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam katagori puting-beliung ataupun tidak.
Daerah Kalimantan Selatan diprakirakan akan memasuki musim kemarau di sebelah barat pegunungan Meratus (Tabalong, Balangan, HSU, HST, HSS, Tapin, Banjarmain, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala) pada sekitar bulan Mei pada dasarian I sampai dasarian III. Sedangkan di bagian timur (Kotabaru dan Tanah Bumbu) pada bulan Juni dasarian I sampai Juli dasarian II dan Tanah Laut pada Mei dasarian II sampai Juni dasarian II

Jadi sekarang kita menuju ke musim pancaroba, perlu berhati-hati dan siaga pada kemungkinan bencana ini.

Tinjauan Islam terhadap angin kencang

Doa apabila ada angin kencang

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan apa yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang ada padanya, dan kejelekan apa yang dibawanya." (H.R. Muslim).

Aisyah r.ha berkata, "Apabila terjadi awan hitam dan angin kencang, wajah Nabi saw yang biasa memancarkan nur, akan terlihat pucat karena takut kepada Allah. Beliau keluar-masuk mesjid dalam keadaan gelisah sambil terus menerus membaca doa :
"Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang berada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim dengannya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini dan kejahatan yang berada di dalamnya dan kejahatan yang Engkau kirim dengannya."

Aisyah r.ha bercerita lagi: Apabila hujan mulai turun, maka wajah Rasulullah saw akan menjadi tidak ceria. Aku bertanya kepada beliau. "Ya Rasulullah, apabila terjadi awan mendung semua orang merasa gembira karena menandakan hujan akan turun, tetapi mengapa engkau justru terlihat ketakutan?" Rasulullah saw menjawab, "Wahai Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa angin kencang dan awan mendung itu akan mendatangkan azab Allah? Kaum 'Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Ketika mereka melihat awan menndung, mereka merasa gembira karena mengira akan segera turun hujan. Padahal bukan hujan yang turun, melainkan azab Allah untuk membinasakan mereka.

Allah SWT berfirman :


24. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,
25. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa (Q. S Al Ahqaaf: 24-25).

Kamis, 01 April 2010

PERINGATAN HARI METEOROLOGI SEDUNIA 2010 DI BANJARBARU



Peringatan hari Meteorologi Sedunia (HMD) ke-60 dilaksanakan di Stasiun Klimatologi Banjarbaru oleh unit BMKG se Kalimantan Selatan pada hari Selasa, 23 Maret 2010. Tema Hari Meteorologi Dunia yang ditetapkan WMO tahun ini adalah “60 Years Services For Your Safety And Well‐Being” dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “60 Tahun Layanan Informasi Meteorologi Dan Klimatologi untuk Keselamatan dan Kesejahteraan Masyarakat."

Sebagai bagian dari WMO, BMKG mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama dengan masyarakat meteorologi dunia lainnya, yaitu senantiasa meningkatkan pengetahuan dan kemampuan profesionalismenya, agar dapat memberi kontribusi nyata pada kesejahteraan dan keselamatan masyarakat.

Sebagai inspektur upacara adalah Bapak Ir. Sucantiko Budi, MSi yaitu kepala Stasiun Klimatologi Klas I Banjarbaru. Cuma sayang sekali saya dan Miftahul Munir tak dapat mengikuti karena ada tugas mengisi materi Sekolah Lapang Iklim di Stasiun Meteorologi Pertanian Khusus (SMPK) Sungai Raya Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Upacara itu juga tak bisa dihadiri oleh Bapak Moh. Yahya dan Bapak Midi Soepardjo yang sakit, serta Dian Handiana yang sedang mengikuti Diklat di Jakarta.

Berikut adalah sambutan Kepala BMKG pada peringatan Hari Meteorologi Dunia ke-60 tahun 2010. Klik di sini.