Kamis, 20 Agustus 2009

KARAKTERISTIK BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN, UPAYA MITIGASINYA SERTA BEBERAPA ISTILAH PENTING DALAM MITIGASI BENCANA

Gambar 1. Kebakaran lahan di dekat pemukiman

Kebakaran hutan atau lahan adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang menyebabkan kurang berfungsinya hutan atau lahan dalam menunjang kehidupan yang berkelanjutan sebagai akibat dari penggunaan api yang tidak terkendali maupun faktor alam yang dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan atau lahan.

Penyebabnya di antaranya :
  1. Aktivitas manusia yang menggunakan api di kawasan hutan dan lahan sehingga menyebabkan bencana kebakaran
  2. Faktor alam yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
  3. Jenis tanaman yang sejenis dan memiliki titik bakar yang rendah serta hutan yang terdegradasi menyebabkan semakin rentan terhadap bencana kebakaran.
  4. Angin yang cukup besar dapat memicu dan mempercepat menjalarnya api.
  5. Topografi yang terjal semakin mempercepat dan merembetnya api dari bawah ke atas.
Kebakaran hutan dan lahan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor manusia yang sengaja melakukan pembakaran dalam rangka penyiapan lahan. Di samping itu juga bisa terjadi kebakaran dalam rangka penyiapan lahan. Di samping itu juga bisa terjadi kebakaran akibat kelalaian, serta faktor alam. Kebakaran terjadi karena adanya bahan bakar, oksigen dan panas. Kerusakan lingkungan akibat kebakaran antara lain berupa hilangnya flora dan fauna serta terganggunya ekosistem. Bahkan dapat menyebabkan kerusakan sarana dan prasarana, pemukiman serta korban jiwa manusia. Dampak lebih lanjut akibat asap yang ditimbulkan pada kesehatan manusia terutama gangguan pernafasan serta gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari antara lain terganggunya lalu lintas udara, air dan darat.

Gambar 2. Contoh penanganan kebakaran hutan

Kajian bahaya:
  • Monitoring titik api serta menetapkan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.
  • Prediksi cuaca untuk mengetahui datangnya musim kering/kemarau.
  • Pemetaan daerah rawan bahaya kebakaran berdasarkan kejadian masa lalu dan meningkatnya aktivitas manusia untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu kawasan.
  • Pemetaan daerah tutupan lahan serta jenis tanaman sebagai bahan bakaran.
  • Pemetaan tata guna lahan.
Gejala dan peringatan dini:
  • Adanya aktivitas manusia menggunakan api di kawasan hutan dan lahan.
  • Ditandai dengan adanya tumbuhan yang meranggas.
  • Kelembapan udara rendah
  • Kekeringan akibat musim kemarau yang panjang.
  • Peralihan musim menuju ke kemarau.
  • Meningkatnya migrasi satwa keluar habitatnya.
Parameter :
  • Luas areal yang terbakar (hektar)
  • Luas areal yang terpengaruh oleh kabut asap (hektar)
  • Fungsi kawasan yang terbakar (Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Lindung, dll).
  • Jumlah penderita penyakit saluran pernafasan atas (ISPA).
  • Menurunnya keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.
  • Menurunnya fungsi ekologis.
  • Tingkat kerugian ekonomi yang ditimbulkan.
Komponen yang terancam :
  • Kerusakan ekologis yang mempengaruhi sistem penunjang kehidupan.
  • Hilangnya potensi kekayaan hutan.
  • Tanah yang terbuka akibat hilangnya tanaman sangat rentan terhadap erosi saat musim hujan sehinga akan menyebabkan longsor di daerah hulu dan banjir di daerah hilir.
  • Penurunan kualitas kesehatan masyarakat untuk daerah yang luas di sekitar daerah kebakaran.
  • Turunnya pendapatan pemerintah dan masyarakat akibat terganggunya aktivitas ekonomi.
  • Musnahnya aset negara dan sarana, prasarana vital.
Strategi Mitigasi dan upaya pengurangan bencana :
  • Kampanye dan sosialisasi kebijakan pengendalian kebakaran lahan dan hutan.
  • Peningkatan masyarakat peduli api.
  • Peningkatan penegakan hukum.
  • Pembentukan pasukan pemadaman kebakaran khususnya untuk penanganan kebakaran secara dini.
  • Pembuatan waduk di daerahnya untuk pemadaman api
  • Pembuatan skat bakar, terutama antara lahan, perkebunan, pertanian dengan hutan.
  • Hindarkan pembukaan lahan dengan cara pembakaran.
  • Hindarkan penanaman tanaman sejenis untuk daerah yang luas.
  • Melakukan pengawasan pembakaran lahan dengan cara pembakaran lahan untuk pembukaan lahan secara ketat.
  • Melakukan penanaman kembali daerah yang telah terbakar dengan tanaman yang heterogen.
  • Partisipasi aktif dalam pemadaman awal kebakaran di daerahnya.
  • Pengembangan teknologi pembukaan lahan tanpa membakar (pembuatan kompos, briket arang dll).
  • Kesatuan persepsi dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
  • Penyediaan dana tanggap darurat untuk penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.
  • Pengelolaan bahan bakar secara intensif untuk menghindari kebakaran yang lebih luas.
Beberapa istilah dalam mitigasi bencana yang perlu diketahui:

Bencana (disaster)
Bencana adlah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia, yang dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan serta melampaui kemampuan dan sumber daya manusia untuk menanganinya.

Bahaya (hazard)
Bahaya adalah suatu kejadian atau peristiwa yang mempunyai potensi dapat menimbulkan kerusakan, kehilangan jiwa manusia atau kerusakan lingkungan.

Kerentanan (vulnerability)
Kerentanan adalah suatu kondisi yang ditentukan faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan yang mengakibatkan peningkatan kerawanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Kemampuan (capacity)
Kemampuan adalah penguasaan sumber daya, cara dan kekuatan yang dimiliki masyarakat yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan dan mempersiapkan diri mencegah, menanggulangi, meredam serta dengan cepat memulihkan diri dari akibat bencana.

Resiko (risk)
Resiko adalah kemungkinan timbulnya kerugian pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang timbul karena suatu bahaya menjadi bencana. Resiko dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.

Mitigasi (mitigation)
Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk menekan timbulnya dampak bencana, baik secara fisik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fisik, maupun non fisik-struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.

Peringatan Dini (early warning)
Peringatan dini adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa kemungkinan bencana akan segera terjadi, peringatan dini harus bersifat menjangkau masyarakat (accesible), segera (immediate), tegas dan tidak membingungkan (coherent) dan resmi (official).

Tanggap Darurat (emergency responce)
Tanggap darurat adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.

Bantuan Darurat (relief)
Bantuan darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, perlindungan, kesehatan, sanitasi dan air bersih.

Pemulihan (recovery)
Keputusan dan aksi yang diambil setelah kejadian bencana dengan suatu tujuan untuk memulihkan atau meningkatkan kondisi kehidupan sebelum bencana dari masyarakat korban bencana. Hal tersebut dilakukan dengan penerapan upaya-upaya pengurangan resiko sehingga dapat mengurangi kejadian bencana di masa mendatang.

Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi adalah upaya yang diambil segera setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki/memfungsikan rumah, fasilitas umum dan fasilitas sosial serta menghidupkan kembali roda perekonomian.

Rekonstruksi (recontruction)
Rekonstruksi adalah program jangka menengah dan panjang yang meliputi perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.

Penanganan Bencana (disaster management)
Penanganan bencana adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana, mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.

Pemberdayaan Masyarakat (community empowerment)
Pemberdayaan masyarakat adalah program atau kegiatan yang dilakukan untutk meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat melaksanakan penanggulangan penanggulangan bencana baik pada saat sebelum, saat maupun sesudah bencana.

Korban Bencana
Manusia yang mengalami kerugian akibat bencana baik secara fisik, mental maupun sosial.

Pemerintah
Pemerintah terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota.

Sumber :
Anonim. 2005. Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Sekretariat BAKORNAS PBP. Jakarta.


Jumat, 14 Agustus 2009

KISAH EL NINO DI DALAM AL QUR'AN (KISAH NABI YUSUF AS.)

43. Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka: terangkanlah kepadaku tentang tabir mimpiku itu jika kamu dapat menabirkan mimpi.
44. Mereka menjawab: (Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu mentabirkan mimpi itu.
45. Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada) Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya: Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menabirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).
46. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.
47. Yusuf berkata: Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa: maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.
48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang akan kamu simpan.

49. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur (Q.S. Yusuf: 43-49).

Yusuf berkata :"Mesir akan mengalami tujuh tahun yang subur, maka pada tahun-tahun itu hendaklah kamu menanami tanahmu dengan gandum dan sya'ir. Kemudian hasil panennya kamu simpan dalam batang-batang gandumnya (tidak digiling) dan jangan boros dalam pemakaiannya kecuali sekedar yang dibutuhkan saja. Karena setelah itu akan datang tujuh tahun yang kering dimana kamu akan memakan persediaan gandum yang kamu simpan, dan janganlah pula dihabiskan untuk digunakan sebagai bibit bagi tanaman berikutnya.

El Nino bukanlah fenomena baru. Di dalam sejarah telah dituliskan pada zaman Mesir kuno pada masa Nabi Yusuf A.S. Kekeringan yang melanda Mesir selama 7 tahun dapat mereka atasi dengan persiapan yang matang melalui memaksimalkan masa 7 tahun panen.

Hal tersebut adalah merupakan contoh mitigasi terhadap bencana kekeringan/El Nino di zaman dulu. Mitigasi bencana merupakan upaya sungguh-sungguh dalam bentuk semua tindakan untuk mengurangi dampak dari suatu bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk persiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Mitigasi bencana meliputi perencanaan dan pelaksanaan tindakan-tindakan terencana untuk mengurangi resiko.

Orang di zaman dulu saja bisa membuat mitigasi bencana dengan seksama, bagaimana dengan kita di zaman sekarang?

Minggu, 09 Agustus 2009

PENGUKURAN SUHU TANAH

Gambar 1. Pengukuran suhu tanah 0, 5, 10, 20 dan 30 cm

Pengamatan suhu tanah sebetulnya dilakukan pada kedalaman 0 cm, 5 cm, 10 cm, 20 cm, 30 cm, 50 cm dan 100 cm. Pengukuran dilakukan pada tanah tertutup rumput dan pada permukaan tanah terbuka. Cara pembacaan termometer tanah tidak berbeda dengan pembacaan pada termometer bola kering.

Pengukuran suhu tanah pada lapisan atas perlu dilakukan lebih intensif (lebih sering) dari pada interval kedalaman yang lebih dalam, karena fluktuasi suhu tanah lebih besar dan perubahan suhu yang berlangsung lebih cepat pada lapisan atas tanah tersebut. Dengan pertimbangan ini World Meteorogical Organization (WMO) merekomendasikan pengukuran tanah pada kedalaman 5, 10, 20, 50 dan 100 cm. Pengamatan suhu tanah pada kedalaman 5, 10 dan 20 cm dilakukan tiga kali sehari, sedangkan yang 50 dan 100 cm dilakukan satu kali pada sore hari.

Hal yang perlu diperhatikan adalah harus diusahakan agar membaca termometer dengan cepat dan cermat sehingga menghindarkan kesalahan paralaks. Untuk kedalaman 5 sampai 30 cm biasanya dipakai termometer yang bisa dibaca dari luar, sedangkan untuk kedalaman 50 cm dan 100 cm biasanya dipakai termometer air raksa yang dimasukkan dalam tabung yang kuat.

Gambar 1. Termometer tanah kedalaman 50 cm dan 100 cm

Cara membaca termometer pada kedalaman 50 cm dan 100 cm :

  • Buka tutup tabung besi
  • Tarik tabung gelas yang terikat pada rantai dengan hati-hati
  • Pegang ujung gelas yang terikat dengan rantai
  • Baca termometer sampai persepuluhan derajat dengan cepat dan cermat
  • Waktu membaca usahakan membelakangi matahari, untuk menghindari pengaruh sinar matahari terhadap ketelitian pembacaan.
  • Kembalikan termometer ke tempat semula dengan hati-hati.

Suhu tanah berpengaruh terhadap proses-proses metabolisme dalam tanah, seperti mineralisasi, respirasi mikroorganisme dan akar serta penyerapan air dan hara oleh tanaman. Laju fluks panas ke dalam tanah ditentukan gradien suhu dan konduktivitas tanah yang nilai dipengaruhi oleh lengas dan bahan organik.

Fluktuasi suhu tanah bergantung pada kedalaman tanah. Karena pola tingkah laku perambatan panas tersebut, maka fluktuasi suhu tanah akan tinggi pada permukaan dan akan semakin kecil dengan bertambahnya kedalaman. Suhu tanah maksimum pada permukaan tanah akan tercapai pada saat intensitas radiasi matahari mencapai maksimum, tetapi untuk lapisan yang lebih dalam, suhu maksimum tercapai beberapa waktu kemudian. Semakin lama untuk lapisan tanah yang lebih dalam. Hal ini disebabkan karena dibutuhkan waktu untuk perpindahan panas dari permukaan ke lapisan-lapisan tanah tersebut.

Panas yang diterima permukaan tanah ditransfer ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam melalui proses Konduksi. Panas yang diterima oleh permukaan tanah diteruskan ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam melalui konduksi. Panas yang dijalarkan akan memerlukan waktu. Akibatnya suhu maksimum dan minimum di dalam tanah akan mengalami keterlambatan. Makin lama pemanasan permukaan tanah maka makin dalam pula suhu permukaan akan terasa ke lapisan yang lebih dalam.

Suhu tanah umumnya rata-rata lebih besar daripada suhu daripada suhu di atmosfer sekelilingnya. Hal ini disebabkan oleh penyimpanan panas di tanah lebih lama daripada di udara. Suhu tanah yang tertutup tanaman lebih kecil daripada suhu tanah gundul, karena tanaman memerlukan energi untuk keperluan transpirasi.


Senin, 03 Agustus 2009

AUTOMATIC WEATHER STATION (AWS)

Alat pengukur cuaca otomatis (Automatic Weather Station / AWS) merupakan alat yang terdiri dari beberapa sensor terintegrasi yang digunakan untuk melakukan pengukuran tekanan udara, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, radiasi matahari, serta curah hujan yang di rekam secara otomatis.

Spesifikasi dan Komponen

Tipe AWS yang digunakan oleh BPPT adalah tipe Vaisala MAWS-201 dengan komponen sensor yang terpasang adalah sensor suhu dan kelembaban (QMH101), tekanan (PMT16A), angin (QMW101), radiasi matahari (QMS101), dan hujan (34-T). Gambar 1 adalah gambar AWS lengkap dengan sensor-sensornya.

Pemasangan Peralatan

Pemasangan peralatan AWS cukup mudah. Persyaratan dalam melakukan pemasangan AWS tidak berbeda jauh dengan pemasangan ARG. Detail pemasangan AWS dapat dilihat pada modul presentasi pemasangan AWS, Secara berurutan, garis besar yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
  • Memasang tripod atau kaki penyangga AWS dan mengatur ketinggian tripod serta mengarahkan solar panel ke arah Selatan
  • Memasang sensor-sensor, serta pengkabelannya
  • Memasang baterai atau power supply dan menghubungkannya dengan solar panel
  • Menghubungkan AWS dengan Komputer untuk melakukan kalibrasi sensor angin
Gambar 1 : Peralatan AWS dengan komponen sensor yang terpasang

Proses Pengambilan Data

Hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk proses pengambilan data adalah sebagai berikut :
  • Kabel konektor antara Logger AWS dengan Komputer.
  • Komputer atau Laptop yang sudah di install program MAWS terminal untuk proses pengambilan data.
Urut-urutan berikut adalah prosedur pengambilan data dari logger AWS ke Komputer :
  1. Pastikan kabel konektor MAWS dan Komputer telah terpasang dengan baik. Jalankan program MAWS Terminal.
  2. Menu MAWS Terminal akan terbuka dengan keterangan “Port Opened” di bagian pojok kiri bawah, ini menunjukkan bahwa hubungan antara MAWS dengan Komputer.
  3. Lakukan download dengan klik menu “Tools” dan dilanjutkan dengan “Download Log Files”.
  4. Muncul menu yang berfungsi untuk memilih file-file mana yang ingin kita download. Di panel sebelah kiri adalah daftar file data yang ada di dalam logger AWS, dan panel sebelah kanan adalah daftar file data yang telah kita pilih untuk di download.
  5. Klik tombol “Add >” untuk memilih file satu persatu, tombol “add all >>” untuk memilih semua file, sementara tombol “remove” untuk menghapus file yang telah dipilih.
  6. Klik “Start Download” untuk memulai proses download data.
  7. Sebelum proses dimulai, secara default akan muncul menu download preferences. Di dalam menu ini ada opsi yang harus dalam kondisi terpilih (cek), yaitu “Delete log files from MAWS after download” (Menghapus data yang ada di dalam logger setelah proses download selesai) dan “Convert log file to CSV format” (merubah format data dari binari menjadi ascii). Juga perhatikan direktori hasil download dan hasil konversi.
  8. Lanjutkan dengan klik “Start Download” untuk memulai proses download.
  9. Setelah proses download selesai, akan muncul menu konfirmasi apakah data di dalam logger akan di hapus atau tidak. Klik OK untuk konfirmasi penghapusan.
  10. Setelah semua proses download selesai, di layar MAWS Terminal akan muncul prompt yang menandakan MAWS Terminal dalam posisi “service mode”.
  11. Ketik “close” (tanpa tanda kutip) dan dilanjutkan dengan menekan tombol enter untuk merubah “service mode” menjadi “monitoring mode”.
  12. Putuskan hubungan antara AWS dengan Komputer dengan melakukan klik pada menu “Connection” dan dilanjutkan dengan “Hangup”.
  13. Di pojok kiri bawah akan tampil keterangan “Port closed” yang menunjukkan bahwa hubungan antara AWS dan Komputer telah terputus. Lalu klik menu “Tools” dan “Exit” untuk menutup program MAWS Terminal.
Format Data

Data yang terekam di simpan menjadi file harian, contoh L2010326.dat adalah file binary dengan aturan penamaan sbb :
  • Semua log file di awali dengan nama kelompok log (log group), maksimum 2 karakter, diikuti dengan tanggal.
  • Nama Log group biasanya terdiri dari huruf diikuti dengan angka.
  • Contoh di atas mempunyai arti, L2 = log group nomor 2, 010326 = tahun 2001 bulan 03 tanggal 26 (YYMMDD).
Format data dari masing-masing file dengan jelas dapat dibaca dari header yang menyertainya di tiap file data. Gambar 2 di bawah ini adalah contoh header dan arti dari masing-masing kolom.


Gambar 2 : Tampilan contoh data AWS yang dibuka di Microsoft Excel

Dari Gambar 2 dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Header data terdiri dari 2 baris :
  • Baris pertama : memo
  • Baris kedua : Nama variabel
  • Baris ketiga, dan seterusnya : Nilai Variabel

Nama variabel antara satu AWS dengan AWS yang lainnya dapat berbeda tergantung setting yang kita persiapkan. Berikut adalah penjelasan masing-masing nama variabel dari contoh gambar.

  • Time : Tanggal dan Jam perekaman data, nilai ini mempunyai interval yang tetap sesuai dengan setting yang kita lakukan, untuk contoh diatas memiliki interval perekaman setiap 1 menit.
  • Status : Kondisi dari perekaman data, dapat bernilai valid atau invalid.
  • PR1M_SUM : Nilai akumulasi curah hujan dalam 1 menit
  • RH1M_AVG : Nilai rata-rata kelembaban relatif dalam 1 menit
  • SR1M_AVG : Nilai rata-rata radiasi matahari dalam 1 menit
  • TA1M_AVG : Nilai rata-rata suhu udara dalam 1 menit
  • W1dAve1m : Nilai rata-rata arah angin dalam 1 menit
  • W1sAve1m : Nilai rata-rata kecepatan angin dalam 1 menit.
Berikut adalah contoh tampilan dari AWS di komputer :