Jumat, 24 April 2009

PENGERTIAN KEKERINGAN DAN LANGKAH-LANGKAH MENGANTISIPASINYA


Pengertian & Latar Belakang

Kekeringan adalah merupakan salah satu bencana yang sulit dicegah dan datang berulang. Secara umum pengertian kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah dari kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Terjadinya kekeringan di suatu daerah bisa menjadi kendala dalam peningkatan produksi pangan di daerah tersebut. Di Indonesia pada setiap musim kemarau hampir selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan intensitas dan luas daerah yang berbeda tiap tahunnya.

Kekeringan merupakan salah satu fenomena yang terjadi sebagai dampak penyimpangan iklim global seperti El Nino dan Osilasi Selatan. Dewasa ini bencana kekeringan semakin sering terjadi bukan saja pada periode tahun-tahun El Nino, tetapi juga pada periode tahun dalam keadaan kondisi normal.

Klasifikasi Kekeringan

Pengertian kekeringan dapat diklasifikasikan lebih spesifik sebagai berikut :

a. Kekeringan Meteorologis

Kekeringan ini berkaitan dengan tingkat curah hujan yang terjadi berada di bawah kondisi normal dalam suatu musim. Perhitungan tingkat kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama terjadinya kondisi kekeringan.

Intensitas kekeringan berdasarkan definisi meteorologis sebagai berikut:
  • kering : apabila curah hujan antara 70%-80%, dari kondisi normal (curah hujan di bawah normal)
  • sangat kering : apabila curah hujan antara 50%-70% dari kondisi normal (curah hujan jauh di bawah normal)
  • amat sangat kering : apabila curah hujan di bawah 50% dari kondisi normal (curah hujan amat jauh di bawah normal).
b. Kekeringan Hidrologis

Kekeringan ini berkaitan dengan berkurangnya pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan hidrologis diukur dari ketinggian muka air waduk, danau dan air tanah. Ada jarak waktu antara berkurangnya curah hujan dengan berkurangnya ketinggian muka air sungai, danau dan air tanah, sehingga kekeringan hidrologis bukan merupakan gejala awal terjadinya kekeringan.

Intensitas kekeringan berdasarkan definisi hidrologis adalah sebagai berikut:
  • kering: apabila debit sungai mencapai periode ulang aliran di bawah periode 5 tahunan
  • sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran jauh di bawah periode 25 tahunan
  • amat sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran amat jauh di bawah periode 50 tahunan
c. Kekeringan Pertanian

Kekeringan ini berhubungan dengan berkurangnya kandungan air dalam tanah (lengas tanah) sehingga tak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bagi tanaman pada suatu periode tertentu. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan meteorologis.

Intensitas kekeringan berdasarkan definisi pertanian adalah sebagai berikut:
  • kering : apabila 1/4 daun kering dimulai pada ujung daun (terkena ringan s/d sedang)
  • sangat kering : apabila 1/4-2/3 daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena berat)
  • amat sangat kering: apabila seluruh daun kering (puso)
d. Kekeringan Sosial Ekonomi

Kekeringan ini terjadi berhubungan dengan berkurangnya pasokan komoditi yang bernilai ekonomi dari kebutuhan normal sebagai akibat dari terjadinya kekringan meteorologis, pertanian dan hidrologis.

Intensitas kekeringan sosial ekonomi dapat dilihat dari ketersediaan air minum atau air bersih sebagai berikut:


e. Kekeringan Antropogenik

Kekeringan ini terjadi karena ketidaktaatan pada aturan yang disebabkan: kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan sebagai akibat ketidaktaatan pengguna terhadap pola tanam/pola penggunaan air, dan kerusakan kawasan tangkapan air, sumber air sebagai akibat dari perbuatan manusia.

Intensitas kekeringan akibat ulah manusia terjadi apabila:
  • Rawan: apabila penutupan tajuk 40%-50%
  • Sangat rawan: apabila penutupan tajuk 20%-40%
  • Amat sangat rawan: apabila penutupan tajuk di DAS di bawah 20%.
Batasan tentang kekeringan bisa bermacam-macam tergantung dari cara meninjaunya. Ditinjau dari Agroklimatologi yaitu keadaan tanah dimana tanah tak mampu lagi memenuhi kebutuhan air untuk kehidupan tanaman khususnya tanaman pangan. Ada tiga faktor yang sangat mempengaruhi kekeringan ini yaitu tanaman, tanah dan air.

Tanaman khususnya tanaman pangan mempunyai kebutuhan air yang berbeda-beda, baik keseluruhan maupun jumlah kebutuhan pada setiap tahap pertumbuhannya. Tanaman padi misalnya, memerlukan cukup banyak air selama pertumbuhannya. Sedangkan tanaman kedelai termasuk tanaman yang relatif tahan terhadap kekeringan. Namun demikian kedelai mempunyai periode yang riskan terhadap kekurangan air yaitu pada periode perkecambahan dan periode pembentukan biji. Kepekaan tiap tanaman terhadap kekurangan air berbeda dari satu tanaman ke tanaman lainnya dan dari satu tahapan pertumbuhan tanaman ke tahap lainnya dalam satu jenis tanaman.


Tanah merupakan faktor yang menentukan pula kemungkinan terjadinya kekeringan. Besar kecilnya kemampuan tanah untuk menyimpan lengas menentukan besar kecilnya kemungkinan terjadinya kekeringan. Perbedaan fisik tanah juga akan menentukan cepat lambatnya atau besar kecilnya kemungkinan tanaman mengalami kekeringan.

Air untuk daerah tadah hujan diperoleh dari air hujan. Ciri atau sifat hujan di suatu daerah menentukan kemungkinan terjadi atau tidaknya kekeringan di daerah itu. Perubahan yang tak beraturan dari waktu ke waktu adalah tantangan yang besar dalam memprakirakan kebutuhan air tanaman. Jumlah hujan yang besar dan terbagi rata tak akan dirasakan sebagai penyebab kekeringan. Apabila curah hujan tak merata dan menyimpang dari kebiasaan itulah yang akan menyebabkan kekeringan.

Selain tiga faktor tersebut, ada beberapa hal lain yang bisa menyebabkan tanaman kekeringan yaitu:
  1. Petani tak memperhatikan pola tanam, artinya petani menanam padi semaunya dan kapan saja.
  2. Terjadinya perubahan iklim. Misalnya awal musim hujan terjadi lebih lambat atau lebih awal atau musim kemarau yang terjadi lebih awal, sehingga kebutuhan air untuk tanaman tak mencukupi.
  3. Terjadi kerusakan jaringan pengairan.
  4. Keadaan ekstrim.
Langkah-Langkah yang Dilakukan untuk Menghadapi Kemungkinan Kekeringan

A. Penentuan Daerah Rawan Kekeringan

Daerah rawan kekeringan adalah daerah yang pada setiap musim kemarau yang normal selalu berpeluang untuk terjadinya kekurangan air atau kekeringan. Pada umumnya daerah rawan kekeringan adalah daerah dengan tipe iklim kering dan kurang memiliki sarana dan prasarana irigasi.

Daerah rawan kekeringan dapat ditentukan dengan cara:
  1. Pembuatan peta kekeringan
  2. Penentuan tipe-tipe iklim di daerah kita
Peta kekeringan dapat diperoleh dari instansi terkait yang mempunyainya. Mungkin di dinas pertanian setempat, dan lain-lain. Kami di stasiun Klimatologi Banjarbaru Badan Meteorologi dan Geofisika memberikan layanan tersebut. Berikut adalah contoh peta potensi kekeringan di Kalimantan Selatan bulan Mei 2009.

Peta potensi kekeringan/kebakaran hutan 2009 diperuntukkan bulan Mei sampai dengan Oktober. Sedangkan peta potensi banjir/tanah longsor dibuat untuk bulan Januari sampai dengan Juni dan Nopember sampai Desember. Untuk melihat keseluruhan peta dapat dilihat pada blog http://miftahulmunir.wordpress.com.

Dasar pembuatan peta potensi tersebut adalah:
  1. Rata-rata curah hujan sepanjang pengamatan (minimal 5 tahun).
  2. Curah hujan rendah (di bawah 100 mm/bulan) berpotensi terjadi kekeringan.
  3. Curah hujan tinggi (di atas 300 mm/bulan) berpotensi terjadi banjir dan tanah longsor.
  4. Peta dapat digunakan sebagai gambaran awal untuk perencanaan. Faktanya agar dilakukan evaluasi di lapangan.
Adapun kriteria yang digunakan dalam curah hujan bulanan adalah:
  1. Rendah, bila curah hujan di bawah 100 mm/bulan
  2. Sedang, bila curah hujan antara 100-300 mm/bulan
  3. Tinggi, bila curah hujan di atas 300 mm/bulan
Penentuan tipe iklim antara lain:

a. Tipe iklim Thornwaite

Thornwaite memperhatikan suatu hubungan nisbah/perbandingan antara curah hujan dan penguapan yang disebut dengan indeks kelengasan.

Keterangan :
P = Curah hujan bulanan
T = Suhu bulanan rata-rata
E = Penguapan

b. Tipe iklim Mohr

Mohr menentukan 3 kriteria kebasahan yaitu:
  • Bulan kering jika curah hujan satu bulan kurang dari 60 mm.
  • Bulan lengas jika curah hujan satu bulan antara 60 mm sampai 100 mm
  • Bulan basah jika curah hujan satu bulan lebih dari 100 mm
Penggolongan iklim menurut Mohr ditentukan oleh banyaknya bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering dari rata-rata curah hujan bulanan selama periode beberapa tahun pada umumnya 10 tahun.

c. Tipe iklim Schmidt-Ferguson

Schmidt dan Ferguson meneruskan ide Mohr. Untuk menentukan penggolongan iklim Schmidt-Ferguson menggunakan nilai perbandingan (Q) yaitu perbandingan antara rata-rata banyaknya bulan-bulan kering dan rata-rata banyaknya bulan basah, atau

Schmidt-Ferguson menggolongkan iklim di Indonesia menjadi 8 (delapan) golongan yaitu:

d. Tipe Iklim Boerema

Boerema menggolongkan tipe iklim berdasarkan pola curah hujan bulanan di suatu wilayah. Dengan mengetahui tipe iklim ini kita dapat mengetahui periode rata-rata musim hujan dan musim kemarau. Secara umum iklim di Indonesia terbagi menjadi 3 pola iklim :

1. Pola equatorial

Ditandai dengan terjadinya dua kali puncak hujan dalam setahun sehingga dikatakan dalam daerah bertipe equatorial mempunyai 2 kali musim hujan dan sekali musim kemarau.

2. Pola Monsun

Ditandai dengan perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan umumnya terjadi pada periode Oktober-Maret dan musim kemarau terjadi pada periode April-September.
3. Pola Lokal

Pola ini dipengaruhi oleh kondisi geografi dan topografi setempat serta keadaan sekitarnya. Daerah-daerah dengan pola iklim lokal umumnya mempunyai perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan periode musim kemarau. Namun waktunya berlawanan dengan pola monsun. Apabila daerah berpola monsun sedang dalam periode musim hujan maka daerah berpola monsun sedang mengalamai periode musim hujan, maka daerah dengan pola lokal sedang mengalami musim kemarau dan begitu sebaliknya.

d. Tipe Iklim Oldeman

Oldeman membuat dan menggolongkan tipe iklim di Indonesia berdasarkan pada kriteria bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering secara berturut-turut.
  • Bulan basah (BB) : Bulan dengan curah hujan satu bulan > 200 mm
  • Bulan lembab (BL) : Bulan dengan curah hujan satu bulan 100-200 mm
  • Bulan kering (BK) : Bulan dengan curah hujan satu bulan < 100 mm.
Oldeman membagi tipe utama iklim menjadi 5 katagori yaitu A, B, C, D dan E berdasarkan jumlah bulan basah secara berturut-turut.

Sedangkan subdivisi ditentukan menjadi 4 didasarkan pada jumlah bulan kering berturut-turut.

Berdasarkan lima tipe utama dan empat subdivisi tersebut maka tipe iklim dapat dikelompokkan menjadi 17 zona agroklimat Oldeman. Untuk menentukan tipe iklim Oldeman menggunakan skema yang disebut skema segitiga. Kriteria tipe iklim Oldeman sebagai berikut:



Data yang diperlukan adalah data curah hujan bulanan selama 10 tahun atau lebih yang diperoleh dari sejumlah pos hujan/stasiun yang selanjutnya dihitung rata-ratanya.

Penjelasan lebih detil dan aplikasi klasifikasi iklim ini akan dijelaskan pada posting yang akan datang.

B. Pengecekan Neraca Klimatologi

Setelah mengetahui daerah-daerah yang rawan kering, kita mencari tahu tingkat kekeringannya dengan menggunakan salah satu analisa Ketersediaan Air Tanah (KAT), misalnya metode Neraca Air Tanah Thornwaite dan Mather.

Prosedur perhitungan neraca air dibuat berdasarkan sistem tata buku Thornwaite dan Mather dengan satuan tinggi air dalam mm.

Untuk neraca air tanaman, evapotranspirasi yang digunakan adalah evapotranspirasi tanaman (ETc) yang menunjukkan jumlah penguapan air yang terjadi pada tanaman sesuai dengan umur dan jenis tanaman selama masa pertumbuhan.

Terlebih dahulu disusun kolom isian analisis sebagai berikut :

KL = TLP =


Keterangan :
KL = Kapasitas Lapang, TLP = Titik Layu Permanen, APWL = Accumulation Potential of Water Loss, KAT= Kandungan Air Tanah, DKAT= Perubahan kandungan air tanah

Langkah-langkah penghitungan :
  1. Kolom curah hujan (CH), diisi curah hujan rata-rata bulanan.
  2. Kolom evapotranspirasi potensial (ETp) diisi nilai ETp standar (vegetasi rumput) dengan urutan prioritas sbb: ETp lisimeter, Evaporasi Panci Kelas A dikalikan tetapan, ETp hasil perhitungan dengan rumus Pennman, Thornwaite, Blaney Criddle dan seterusnya.
  3. Kolom CH - ETp diisi selisih jumlah curah hujan dan evapotranspirasi potensial
  4. Kolom APWL (Akumulasi Potensial untuk penguapan), diisi jika hasil kolom CH - ETp negatif dan kemudian diakumulasikan jika pada periode berikutnya CH - ETp negatif.
  5. Pengisian kolom KAT dimulai dari bulan pertama terjadi APWL berdasarkan tabel Soil Moisture retention atau rumus sebagai berikut : k = 1.000412351 + (-1.073807306)/KL
  6. Kolom DKAT (Perubahan KAT) diisi nilai KAT dari bulan tersebut dikurangi KAT bulan sebelumnya.
  7. Kolom ETa (Evapotranspirasi Aktual) diisi jika CH > ETp maka ETa = ETp. Pada bulan-bulan terjadi APWL (CH <>
  8. Kolom defisit (D) diisi ETp-ETa
  9. Kolom surplus (S) diisi saat tak ada D, maka S = CH-ETp-DKAT.
Lalu disusun neraca air lahan sesuai langkah-langkah tersebut di atas. Detil dan aplikasi dari neraca air lahan akan dijelaskan pada posting yang akan datang.

Setelah mengetahui daerah-daerah yang rawan kering, kita perhatikan keadaan iklim global dengan melihat terjadi atau tidak El Nino dan La Nina.

C. El-Nino

El Nino adalah peristiwa di lautan berupa penyimpangan suhu laut di atas rata-ratanya di daerah Pasifik tengah dan timur. Pada saat yang bersamaan terjadi perubahan pola tekanan udara di belahan bumi selatan yang dikenal sebagai Indeks Osilasi Selatan (SOI) yaitu perbedaan tekanan di Tahiti dan Darwin. Karena peristiwanya terjadi bersamaan antara El Nino dan SOI maka dikenal dengan istilah ENSO (El Nino Southern Oscillation).

Ciri-ciri terjadinya El Nino :
  1. Memanasnya suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di atas rata-ratanya (penyimpangan positif) > 1.5 °C di kawasan equator Samudera Pasifik bagian timur. Mendinginnya suhu muka laut hingga di bawah rata-ratanya (penyimpangan negatif) < -1,5 °C di kawasan Indonesia.
  2. Perubahan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin (SOI) nilai negatif (< -10)
  3. Melemahnya angin pasat timur di atas perairan Samudera Pasifik hingga di bawah normalnya.
Efek dari kejadian El Nino untuk daerah Indonesia, mengakibatkan curah hujan berkurang. Sehingga yang perlu kita waspadai bila El Nino terjadinya pada musim kemarau dan efek terburuknya bisa terjadi kekeringan. Bila terjadinya pada musim hujan hanya mengakibatkan curah hujannya berkurang.

Sedangkan pengertian La Nina terjadi hal sebaliknya dimana suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur lebih rendah (penyimpangan negatif) dari rata-ratanya dan perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin (SOI) bernilai positif. Serta suhu muka laut di kawasan Indonesia di atas rata-ratanya (penyimpangan positif).

Efek dari kejadian La Nina di Indonesia adalah bertambahnya curah hujan. Sehingga yang perlu kita waspadai bila La Nina terjadi pada musim hujan dan efek terburuknya bisa terjadi banjir.

Dengan mengetahui terjadi tidaknya El Nino, kita makin yakin tingkat kerawanan kering di suatu tempat.

D. Prakiraan Musim

BMKG setiap tahunnya pada bulan Maret menerbitkan Prakiraan Musim Kemarau dan bulan September menerbitkan Prakiraan Musim Hujan. Pada prakiraan itu diinformasikan:
  1. Permulaan musim yang menginformasikan kapan awal musim akan terjadi.
  2. Perbandingan terhadap rata-ratanya yang menginformasikan maju mundurnya awal musim.
  3. Sifat hujan yang menginformasikan berapa besar dan sifat curah hujan selama musim tersebut.
Informasi ini dapat dipergunakan untuk mempertajam tingkat kecurigaan kita terhadap kekeringan. Misalnya sudah terindikasi kemungkinan akan terjadi kekeringan, selanjutnya musim kemarau yang diprakirakan terjadi lebih awal atau kemaraunya lebih panjang. Maka ini dapat memperkuat indikasi akan terjadinya kekeringan.

E. Prakiraan Curah Hujan Bulanan

Stasiun Klimatologi Klas I dan Klas II setiap bulan membuat prakiraan curah hujan sehingga pendeteksian kekeringan dapat dipertajam lagi dengan prakiraan hujan pada bulan yang akan datang. Untuk Stasiun Klas III dan IV dapat meminta prakiraan dari Stasiun Klas I atau Klas II. Bila prakiraan curah hujan pada bulan yang akan datang lebih kecil maka dapat diprediksikan kekeringan dapat terjadi. Dan bila hal ini terjadi maka Stasiun yang menjadi koordinator dapat memberikan peringatan dini kepada user dan bagi stasiun.

Sumber :


Gusti Rusmayadi. 2002. Klimatologi Pertanian. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.

Indrawan Sani. 2006. Analisis Ketersediaan Air Tanah dan Kekeringan dalam Diklat Teknis Klimatologi dan Kualitas Udara. Badan Meteorologi dan Geofisika. Jakarta.

Kentjus Soesilo. 2007. Gawar Dini Kekeringan dalam Workshop Penguatan Kemampuan UPT BMG dalam Pelayanan Informasi MKKuG untuk Mendukung Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi, Cuaca dan Iklim Tahap II. Badan Meteorologi dan Geofisika. Jakarta.




Kamis, 23 April 2009

HUJAN TINJAUAN SECARA ILMIAH DAN ISLAMI

Pengertian :

Siklus air atau siklus hidrologi adalah siklus yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi (evapotranspirasi).

Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara terus menerus.

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:

  • Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke atmosfer dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (presipitasi) dalam bentuk hujan, salju, es.
  • Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
  • Air Permukaan - Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.
Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut.

Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

Curah hujan 1 (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan persatuan jangka waktu tertentu.

Satuan curah hujan selalu dinyatakan dalam satuan millimeter atau inchi namun untuk di Indonesia satuan curah hujan yang digunakan adalah dalam satuan millimeter (mm).

Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk presipitasi lainnya adalah salju dan es, yaitu bentuk padat. Dapat pula dalam bentuk aerosol yakni embun atau kabut.

Jenis hujan berdasarkan ukuran butirannya :
  1. Hujan gerimis / drizzle, diameter butirannya kurang dari 0,5 mm
  2. Hujan salju, terdiri dari kristal-kristal es yang suhunya berada dibawah 0° Celsius
  3. Hujan batu es, curahan batu es yang trun dalam cuaca panas dari awan yang suhunya dibawah 0° Celsius
  4. Hujan deras / rain, curahan air yang turun dari awan dengan suhu diatas 0° Celsius dengan diameter ±7 mm.
Jenis-jenis hujan berdasarkan besarnya curah hujan :
  1. hujan sedang/ normal, 20 – 50 mm per hari
  2. hujan lebat, 50-100 mm per hari
  3. hujan sangat lebat, di atas 100 mm per hari
Hujan dibedakan berdasarkan faktor yang menyebabkan terjadinya hujan tersebut :

a. Hujan Orografi

Hujan ini terjadi karena adanya penghalang topografi, udara dipaksa naik kemudian mengembang dan mendingin terus mengembun dan selanjutnya dapat jatuh sebagai hujan. Bagian lereng yang menghadap angin hujannya akan lebih lebat dari pada bagian lereng yang ada dibelakangnya. Curah hujannya berbeda menurut ketinggian, biasanya curah hujan makin besar pada tempat-tempat yang lebih tinggi sampai suatu ketinggian tertentu.



b. Hujan Konvektif

Hujan ini merupakan hujan yang paling umum yang terjadi di daerah tropis. Panas yang menyebabkan udara naik keatas kemudian mengembang dan secara dinamika menjadi dingin dan berkondensasi dan akan jatuh sebagai hujan. Proses ini khas buat terjadinya badai guntur yang terjadi di siang hari yang menghasilkan hujan lebat pada daerah yang sempit. Badai guntur lebih sering terjadi di lautan dari pada di daratan.


c. Hujan Frontal

Hujan ini terjadi karena ada front panas, awan yang terbentuk biasanya tipe stratus dan biasanya terjadi hujan rintik-rintik dengan intensitas kecil. Sedangkan pada front dingin awan yang terjadi adalah biasanya tipe cumulus dan cumulunimbus dimana hujannya lebat dan cuaca yang timbul sangat buruk. Hujan ini terjadi apabila massa udara yang dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Hujan front ini tidak terjadi di Indonesia karena di Indonesia tidak terjadi front.


d. Hujan Siklon Tropis

Siklon tropis hanya dapat timbul didaerah tropis antara lintang 0°-10° lintang utara dan selatan dan tidak berkaitan dengan front, karena siklon ini berkaitan dengan sistem tekanan rendah. Siklon tropis dapat timbul dilautan yang panas, karena energi utamanya diambil dari panas laten yang terkandung dari uap air. Siklon tropis akan mengakibatkan cuaca yang buruk dan hujan yang lebat pada daerah yang dilaluinya.

Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis, namun keberadaan siklon tropis di sekitar Indonesia, terutama yang terbentuk di sekitar Pasifik Barat Laut, Samudra Hindia Tenggara dan sekitar Australia akan mempengaruhi pembentukan pola cuaca di Indonesia. Perubahan pola cuaca oleh adanya siklon tropis inilah yang kemudian menjadikan siklon tropis memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia.

Dampak tidak langsung atas adanya siklon tropis dapat berupa berbagai hal, diantaranya yaitu:

1. Daerah pumpunan angin.

Siklon tropis yang terbentuk di sekitar perairan sebelah utara maupun sebelah barat Australia seringkali mengakibatkan terbentuknya daerah pumpunan angin di sekitar Jawa atau Laut Jawa, NTB, NTT, Laut Banda, Laut Timor, hingga Laut Arafuru. Pumpunan angin inilah yang mengakibatkan terbentuknya lebih banyak awan-awan konvektif penyeab hujan lebat di daerah tersebut.

Dilihat dari citra satelit, daerah pumpunan angin terlihat sebagai daerah memanjang yang penuh dengan awan tebal yang terhubung dengan perawanan siklon tropis, sehingga terlihat seolah-olah siklon tropis tersebut mempunyai ekor. Itulah sebabnya daerah pumpunan angin ini seringkali disebut sebagai ekor siklon tropis.

2. Daerah belokan angin

Adanya siklon tropis di perairan Samudra Hindia Tenggara kadangkala menyebabkan terbentuknya daerah belokan angin di sekitar Sumatra bagian Selatan atau Jawa bagian Barat. Daerah belokan angin ini juga dapat mengakibatkan terbentuknya lebih banyak awan-awan konvektif penyebab hujan lebat di daerah tersebut.

3. Daerah defisit kelembaban

Bersamaan dengan adanya siklon tropis di perairan sebelah utara Sulawesi atau di Laut Cina Selatan seringkali teramati bersamaan dengan berkurangnya curah hujan di wilayah Sulawesi bagian utara atau Kalimantan. Meskipun belum ada penelitian lebih lanjut, namun ditengarai bahwa fenomena ini disebabkan karena siklon tropis tersebut menyerap persediaan udara lembab yang terdapat dalam radius tertentu di sekitarnya, termasuk yang terkandung di atmosfer di atas Kalimantan dan Sulawesi bagian utara sehingga di wilayah ini justru udaranya kering dan kondisi cuacanya cenderung cerah tak berawan.

Tentang fenomena pembentukan awan dan hujan itu, Alquran pun menjelaskannya secara akurat.

Alquran surat Annur ayat 43 Allah berfirman


Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”



surat Ar-Ruum ayat 48 Allah berfirman,


Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

Harun Yahya memberikan penjelasan tentang tahapan hujan ini :

TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".

TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.

Doa-Doa Ketika Hujan

Doa ketika hujan turun
اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
“Ya Allah! Turunkanlah hujan yg bermanfaat {untuk manusia tanaman dan binatang}.” (192)(192) HR. Al-Bukhari dgn Fathul Bari 2/518.65-

Doa Setelah hujan turun
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
“Kita diberi hujan krn karunia dan rahmat Allah.” (193)(193) HR. Al-Bukhari 1/205 Muslim 1/83.66-

Doa agar hujan berhenti

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami jangan kepada kami. Ya Allah! Berilah hujan ke daratan tinggi beberapa anak bukit perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.” (194)(194) HR. Al-Bukhari 1/224 dan Muslim 2/614.

Kebenaran Alquran telah diakui para saintis Barat. Prof Alfred Kroner, guru besar Departemen Geosains Universitas Mainz, Jerman, mengaku terkagum-kagum dengan isi Alquran yang mampu menjelaskan asal mula terbentuknya alam semesta. “Memikirkan dari mana Muhammad berasal … saya berpikir hampir tak mungkin dia telah mengetahui banyak hal tentang asal mula alam semesta,” paparnya.

Atas dasar itu, Prof Kroner juga meyakini bahwa Alquran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW adalah firman yang berasal dari Tuhan. Hal senada diungkapkan Prof Yushidi Kusan, direktur Observatorium Tokyo, Jepang,. Ia juga menyatakan sangat terkagum-kagum dengan apa yang dijelaskan Alquran tentang alam semesta.

“Saya sangat terkesan dengan fakta-fakta astronomi dalam Alquran yang terbukti kebenarannya. Kami, para astronom modern, baru mempelajari secuil saja tentang alam semesta,” ungkapnya. “Dengan membaca Alquran dan menjawab pertanyaan, saya kira, saya dapat menemukan jalan di masa depan untuk menginvestigasi alam semesta.”

Minggu, 12 April 2009

BAHAYA PETIR BAGI MANUSIA DI MUSIM PANCAROBA DAN TINJAUANNYA DALAM ISLAM

Pada musim pancaroba terbentuknya awan konvektif sering terjadi. Seringnya hujan pada siang hari sampai sore hari karena terbentuknya daerah konvergen atau tempat berkumpulnya massa udara yang membentuk awan konvektif. Awan konvektif menjadi awan cumulonimbus (Cb) yang menyebabkan hujan turun disertai dengan petir, bahkan juga pertanda munculnya angin puting beliung (gust) pada awan cumulonimbus yang tiba-tiba gelap.

Gambar 1. Awan cumulonimbus

Gambar 2. Angin puting beliung


PENGERTIAN PETIR DAN TIPE-TIPENYA

Petir adalah fenomena alam yang merupakan pelepasan muatan elektrostatis yang berasal dari badai guntur. Pelepasan muatan ini disertai dengan pancaran cahaya dan radiasi elektromagnetik lainnya. Arus listrik yang melewati saluran pelepasan muatan tadi dengan cepat memanaskan udara dan berkembang sebagai plasma yang menimbulkan gelombang bunyi yang bergetar (guntur) di atmosfer.

Pelepasan muatan elektrostatis adalah arus listrik yang mengalir tiba-tiba dan sangat cepat karena adanya kelebihan muatan listrik yang tersimpan pada sebuah benda yang isolator ke benda yang berbeda potensialnya, misalnya tanah. Badai guntur atau badai listrik adalah suatu karekter cuaca dimana terjadi petir dan guntur, biasanya disertai dengan hujan lebat. Plasma adalah istilah fisika yaitu gas yang terionisasi sehingga fase materinya berbeda dengan gas itu sendiri. Guntur adalah bunyi dari getaran gelombang yang disebabkan oleh petir yang memanaskan udara sampai 30.000 °C. Udara yang sangat panas itu mengembang dengan cepat dan mengerut ketika dingin. Peristiwa ini menimbulkan gelombang bunyi.

Bagaimana terbentuknya petir

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Proses pembuangan elektron inilah yang menyebabkan perpindahan arus listrik yang biasa kita lihat sebagai kilatan cahaya ketika hujan. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.

Secara ringkas terbentuknya petir adalah sebagai berikut:
  • Pemisahan muatan positif dan negatif dalam awan dan udara
  • Bintik hujan atau es terpolarisasi melalui medan listrik di atmosfer
  • Kristal positif naik sehingga puncak awan bermuatan positif dan yang bermuatan negatif dan batu es berkumpul di lapisan tengah dan bawah awan sehingga membentuk muatan negatif.
Tipe petir yang paling umum adalah:
  1. Petir dari awan ke tanah (CG). Petir yang paling berbahaya dan merusak. Kebanyakan berasal dari pusat muatan yang lebih rendah dan mengalirkan muatan negatif ke tanah, walaupun kadang-kadang bermuatan positif (+) terutama pada musim dingin. Gambar 3. Petir tipe CG
  2. Petir dalam awan (IC). Tipe yang paling umum terjadi antara pusat muatan yang berlawanan pada awan yang sama. Biasanya kelihatan pada cahaya yang menghambur biasanya berkelap-kelip. Kadang-kadang kilat keluar dari batas awan dan seperti saluran yang bercahaya yang terlihat dari beberapa mil seperti tipe CG. Gambar 4. Petir tipe IC
  3. Petir antar awan (CC). Terjadi antara pusat muatan pada awan yang berbeda. Pelepasan muatan terjadi pada udara cerah antara awan tersebut. Gambar 5. Petir tipe CC
  4. Petir awan ke udara (CA). Terjadi jika udara di sekitar awan (+) berinteraksi dengan udara yang bermuatan (-). Jika ini terjadi pada awan bagian bawah maka merupakan kombinasi dengan petir tipe CG. Petir CA tampak seperti jari-jari yang berasal dari petir CG. Gambar 6. Petir tipe CA
Tipe petir menurut muatannya yaitu :
  1. Petir negatif (-), biasanya terjadi sambaran berulang-ulang dan bercabang-cabang. Gambar 7. Petir negatif
  2. Petir positif (+), biasanya terjadi hanya satu kali sambaran. Gambar 8. Petir positif
Bahaya petir bagi manusia :
  • Jika seseorang disambar petir 50% kemungkinan akan fatal. Biasanya petir menyambar kepala atau salah satu telinga.
  • Setelah itu petir menyerang lagi kulit tubuh manusia sedalam beberapa cm sehingga terbakar, karena petir merupakan arus listrik yang sangat tiba-tiba dan aliran arus yang terjadi pada permukaan benda konduktor seperti daging.
  • Orang bisa mendapat serangan jantung, buta dan tuli sementara.
  • Petir mempunyai efek yang sangat besar jika seseorang bisa hidup dari sambaran petir. Kebanyakan sarafnya rusak permanen.
Di bawah ini beberapa tips untuk menghindari tersambar petir :
  1. Jika anda melihat kilat atau mendengar gelegar guruh segeralah menuju bangunan yang telah dilindungi dengan penangkal petir atau mendekatlah ke mobil atau truk. Lebih aman lagi jikalau anda mengamankan diri ketika melihat tanda hari akan hujan, ingat biasanya hujan didahului oleh kilat dan petir.
  2. Pakailah sepatu dari kulit atau karet yang tidak bocor, usahakan memakai kaos kaki yang kering, sebagai upaya memisahkan tubuh kita dari tanah sehingga petir enggan melalui tubuh anda.
  3. Jika anda berada diluar rumah hindari area terbuka, tempat ketinggian, berada di lokasi yang berair, di bawah pohon yang tinggi dan benda logam yang menjulang tinggi.
  4. Jika tempat berlindung tidak diperoleh anda harus jongkok tapi hindarkan tangan anda menyentuh tanah dan jangan berbaring, karena akan memudahkan penyaluran tenaga petir ke tanah.
  5. Jika anda berada diluar raung jangan berdiri bergerombol dengan orang lain buatlah jarak orang ke orang sekitar lima ( 5 ) meter diantara masing masing orang.
  6. Jika anda berada ditempat terbuka dan merasakan rambut anda berdiri itu pertanda petir akan menyambar anda, anda harus melakukan gerakan rukuk yaitu menekuk badan ke arah depan dan menempatkan tangan diatas kedua lutut, insya Allah selamat.
  7. Jika anda berada dalam ruangan hindarilah dekat pintu, jendela dan tempat yang berair.
  8. Barang barang elektronik seperti televisi , radio , komputer dan lain-lain, sebaiknya dimatikan dan cabut kabel power dari stop kontak listrik. Jika peralatan elektronik tersebut tidak memungkinkan dicabut seperti halnya telepon, menjauhlah dari padanya.
  9. Begitu pula jika anda membawa HT, HP dan Radio Saku matikan segera, pisahkan antenna dari bodi untuk mengurangi rangsangan petir menyambar.
  10. Jika ada korban terkena sambaran petir tangani dengan hati hati dan jangan dibawa bersama barang yang bermuatan listrik agar tidak kembali disambar petir.
TINJAUAN PETIR DALAM ISLAM

Harun Yahya di dalam websitenya menjelaskan bagaimana petir itu terjadi. Kilat petir terjadi dalam bentuk setidaknya dua sambaran. Pada sambaran pertama muatan negatif (-) mengalir dari awan ke permukaan tanah. Ini bukanlah kilatan yang sangat terang. Sejumlah kilat percabangan biasanya dapat terlihat menyebar keluar dari jalur kilat utama. Ketika sambaran pertama ini mencapai permukaan tanah, sebuah muatan berlawanan terbentuk pada titik yang akan disambarnya dan arus kilat kedua yang bermuatan positif terbentuk dari dalam jalur kilat utama tersebut langsung menuju awan. Dua kilat tersebut biasanya beradu sekitar 50 meter di atas permukaan tanah. Arus pendek tersebut di titik pertemuan antara awan dan permukaan tanah tersebut, dan hasilnya sebuah arus listrik yang sangat kuat dan terang mengalir dari dalam jalur kilat utama itu menuju awan. Perbedaan tegangan pada aliran listrik antara awan dan permukaan tanah ini melebihi beberapa juta volt.

Energi yang dilepaskan oleh satu sambaran petir lebih besar daripada yang dihasilkan oleh seluruh pusat pembangkit tenaga listrik. Suhu pada jalur di mana petir terbentuk dapat mencapai 10.000 derajat Celsius. Suhu di dalam tanur untuk meleburkan besi adalah antara 1.050 dan 1.100 derajat Celsius. Panas yang dihasilkan oleh sambaran petir terkecil dapat mencapai 10 kali lipatnya. Panas yang luar biasa ini berarti bahwa petir dapat dengan mudah membakar dan menghancurkan seluruh unsur yang ada di muka bumi. Perbandingan lainnya, suhu permukaan matahari tingginya 700.000 derajat Celsius. Dengan kata lain, suhu petir adalah 1/70 suhu permukaan matahari. Cahaya yang dikeluarkan oleh petir lebih terang daripada cahaya 10 juta bola lampu pijar berdaya 100 watt. Sebagai pembanding, satu kilatan petir menyinari sekelilingnya secara lebih terang dibandingkan ketika satu lampu pijar dinyalakan di setiap rumah di Istanbul. Allah mengarahkan perhatian pada kilauan luar biasa dari petir ini dalam Al Qur'an.

"...Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (Q.S. An Nuur, 24:43)

Kilauan yang terbentuk turun sangat cepat ke bumi dengan kecepatan 96.000 km/jam. Sambaran pertama mencapai titik pertemuan atau permukaan bumi dalam waktu 20 milidetik, dan sambaran dengan arah berlawanan menuju awan dalam tempo 70 mikrodetik. Secara keseluruhan petir berlangsung dalam waktu hingga setengah detik. Suara guruh yang mengikutinya disebabkan oleh pemanasan mendadak dari udara di sekitar jalur petir. Akibatnya udara tersebut memuai dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, meskipun gelombang kejutnya kembali ke gelombang suara normal dalam rentang beberapa meter. Gelombang suara terbentuk mengikuti udara atmosfer dan bentuk permukaan setelahnya. Itulah alasan terjadinya guntur dan petir yang susul-menyusul.

Saat kita merenungi semua perihal petir ini, kita dapat memahami bahwa peristiwa alam ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Bagaimana sebuah kekuatan luar biasa semacam itu muncul dari partikel bermuatan positif dan negatif, yang tak terlihat oleh mata telanjang, menunjukkan bahwa petir diciptakan dengan sengaja. Lebih jauh lagi, kenyataan bahwa molekul-molekul nitrogen, yang sangat penting untuk tumbuhan, muncul dari keukuatan ini, sekali lagi membuktikan bahwa petir diciptakan dengan kearifan khusus.

Allah secara khusus menarik perhatian kita pada petir ini dalam Al Qur'an. Arti surat Ar Ra'd, salah satu surat Al Qur'an, sesungguhnya adalah "Guruh". Dalam ayat-ayat tentang petir Allah berfirman bahwa Dia menghadirkan petir pada manusia sebagai sumber rasa takut dan harapan. Allah juga berfirman bahwa guruh yang muncul saat petir menyambar bertasbih dan memujiNya. Allah telah menciptakan sejumlah tanda-tanda bagi kita pada petir. Kita wajib berpikir dan bersyukur bahwa guruh, yang mungkin belum pernah dipikirkan banyak orang seteliti ini dan yang menimbulkan perasaan takut dan pengharapan dalam diri manusia, adalah sebuah sarana yang dengan rasa takut kepada Allah semakin bertambah dan dikirim olehNya untuk tujuan tertentu sebagaimana yang Dia kehendaki.

KUMPULAN DO'A KETIKA TERJADI PERISTIWA PETIR, ANGIN KENCANG DAN HUJAN

Do'a ketika mendengar bunyi halilintar dan petir

Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau bunuh kami dengan kemurkaan-Mu dan janganlah Engkau binasakan kami dengan siksaan-Mu dan selamatkanlah kami sebelum kejadian ini. (H.R Tirmizi dan al Hakim dalam al-Mustadrak; Dhaiful Jami' 4428 dengan isnad dhaif)

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ
"Maha Suci Allah yang halilintar bertasbih dengan memujiNya, begitu juga para malaikat, karena takut kepada-Nya." (H. R. Bukhari dalam Al Muwaththa' 2/992. Al-Albani berkata: Hadits di atas mauquf yang shahih sanadnya). "

Do'a ketika angin kencang berhembus


Artinya: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikannya (angin) dan kebaikan yang dibawanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang dibawanya eburukan apa saja yang ada di dalamnya.” (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Do'a ketika hujan
Artinya: “Ya Allah, semoga hujan ini membawa kesuburan dan kemakmuran.” (H. R. Bukhari)



Sumber :

Buku :

Hafiah dkk (Tim Gema Insani). 1999. 300 Do'a dan Zikir Pilihan. Gema Insani Press. Jakarta.

Muhammad Husni & Siswono. 2007. Mengenal Bahaya Petir dalam Kumpulan Makalah Workshop Penguatan UPT-BMG dalam Pelayanan Informasi MKKuG untuk Mendukung Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi, Cuaca dan Iklim Tahap II 2-6 Juli 2007 di Wisma UNJ. Jakarta.

Said bin Ali Al-Qathani. 1996. Do'a-Do'a dari Al Qur'an dan Sunnah (Hisnul Muslim min Adzkari Al-Kitab wa As-Sunnah). Penerbit. Al Kautsar. Jakarta.

Website :

http://id.wikipedia.org/wiki/Petir

http://www.harunyahya.com/indo/artikel/092.htm