Rabu, 04 Februari 2009

PEMANASAN GLOBAL




Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global termasuk Indonesia yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.


Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut. Menurut laporan Inter Govermental on Climate Change (Panel antar pemerintah tentang perubahan iklim-IPCC) sebelas dari 12 tahun terakhir merupakan tahun-tahun terhangat global sejak 1850. Dalam laporan yang dikeluarkan IPCC berjudul "Climate Change Impacts, Adaptation dan Vulnerability" disebutkan bahwa di Indonesia telah terjadi kenaikan suhu rata-rata antara 0.2-1 derajat Celcius per tahun berdasarkan data IPCC antara tahun 1970-2000.

Hal ini nyata terasa bukan hanya di kota-kota metropolitan di Indonesia tetapi juga di daerah tempat tinggal kami di Banjarbaru. Berdasarkan data kami di Stasiun Klimatologi Banjarbaru terjadi trend kenaikan suhu rata-rata bulanan mendekati 1 derajat Celcius, data tersebut diambil sejak tahun 1977 hingga 2006. Dampak yang paling dirasakan di daerah Kalimantan Selatan adalah pergeseran awal musim hujan dan kemarau hingga 4-6 dasarian tapi hal ini hanya terjadi di beberapa wilayah tertentu saja tidak terjadi di seluruh Kalimantan Selatan. Hal ini jelas berdampak kepada semakin sulitnya memberi peringatan dini kepada masyarakat terutama akan datangnya bencana alam, gagal panen, munculnya hama penyakit baru, musim hujan dan kemarau dan sebagainya.

Dampak Perubahan Iklim Global

Perubahan iklim yang diprakirakan akan menyertai pemanasan global adalah sebagai berikut:
  1. Mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut naik
  2. Air laut naik, maka akan menenggelamkan pulau dan menghalangi mengalirnya air sungai ke laut yang menimbulkan banjir di dataran rendah seperti pantai utara Pulau Jawa, dataran rendah Sumatera bagian timur, Kalimantan Selatan dan lain-lain.
  3. Hal yang paling mencemaskan adalah berubahnya iklim sehingga berdampak buruk pada pola pertanian di Indonesia yang mengandalkan makanan pokok beras pada pertanian sawah yang bergantung pada musim hujan. Suhu bumi yang panas menyebabkan mengeringnya air permukaan sehingga air menjadi langka. Ini memukul pola pertanian berbasis air.
  4. Meningkatnya resiko kebakaran hutan.
Terjadinya bencana alam dan kerugian bagi masyarakat Kalimantan Selatan seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Silih berganti peristiwa banjir kita alami. Peringatan Allah tentang kerusakan di permukaan bumi, telah tercantum dalam Al Quran pada surat Ar-Rum (30): 41 yang terjemahnya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.


Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Untuk mencegah dan mengurangi emisi gas karbondioksida dan efek rumah kaca mendorong lahirnya PROTOKOL KYOTO. Dinegosiasikan di Kyoto Jepang pada Desember 1997, dibuka untuk penandatanganan 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada tanggal 16 Pebruari 2005, setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.

Hingga 23 Oktober 2007 sudah 179 negara yang meratifikasi PROTOKOL KYOTO tersebut, Ada empat negara yang telah menandatangani namun belum meratifikasi protokol Kyoto tersebut yaitu, Australia (tidak berminat meratifikasi), Monako, Amerika Serikat yang merupakan pengeluar terbesar gas rumah kaca juga tidak berminat untuk meratifikasinya, sisanya Kazakstan. Tetapi setelah Australia meratifikasinya menjelang konferensi perubahan iklim di Bali, maka tinggal Amerika Serikat sendiri sebagai negara industri besar yang belum meratifikasinya. Negara lain yang belum memberikan reaksi adalah Afghanistan, Andorra, Brunei, Rep. Afrika Tengah, Chad, Komoro Island, Irak, Taiwan, Republik Demokratik Arab Sahrawi, San Marino, Somalia, Tajikistan, Timor Leste, Tonga, Turki, Vatikan, dan Zimbabwe.

Sumber:

http://geo.ugm.ac.id/archives/28
http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
http://independen69.wordpress.com/2007/12/03/pemanasan-global-global-warming/

4 komentar:

Jemiro mengatakan...

perlu diingat, bahwa "global warming" timbul karena keserakahan manusia!!

dikatakan bahwa salah satu penyebabya global warming adalah bertambahnya gas rumah kaca! hal ini merupakan sebuah impact yang ditimbulkan dari keserakahan manusia -ilegal loging- , membabi buta hutan dan menebang dengan tujuan untuk memuaskan keserrakahan manusia!.
oleh karena itu, mari kita himbau! kepada semua teman dan dan keluarga! dankhususnya bagi diri kita sendiri! mari kita beri nafas lega kepada Bumi tersayang kita

Asri Sahara mengatakan...

Semakin ingin menjaga bumi, dimulai dari diri kita sendiri...dengan menjaga lingkungan sekitar kita...

selimut mengatakan...

gmn mau mencegah global warming sementara sumber daya alam mau tidak mau dikeruk terus krn manusia bertambah banyak.

Green Warrior Indonesia mengatakan...

Mari Cegah pemanasan global dengan menanam pohon. Sekarang semakin menarik karena ada program revolusioner, "MENANAM POHON SEKALIGUS MENDAPATKAN MANFAAT EKONOMOMI DALAM PENANAMAN DAN KAMPANYENYA"


Cari Tahu caranya di : http://www.greenwarriorindonesia.com