Rabu, 28 Januari 2009

GERHANA MATAHARI 26 JANUARI 2009

Memasuki tahun astronomi 2009, masyarakat Indonesia disuguhi fenomena langka berupa gerhana matahari cincin. Setelah sembilan tahun lalu, fenomena itu muncul lagi pada 26 Januari 2009. Indonesia adalah satu-satunya wilayah daratan yang dapat mengamati peristiwa alam ini.

Gerhana matahari cincin (GMC) terjadi karena piringan bulan tidak menutup sepenuhnya piringan matahari, hanya sekitar 92 persen. Karena itu, saat puncak gerhana, matahari terlihat seperti cincin yang memancarkan sinar di langit. Bagian tengah matahari tertutup bulan sehingga tampak gelap.

Penampakan seperti cincin bersinar inilah yang membedakan GMC dengan gerhana matahari total (GMT). Saat puncak GMT, seluruh piringan matahari tertutupi secara sempurna oleh piringan bulan. Akibatnya, suasana terang akan berubah gelap untuk beberapa saat.

Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki waktu puncak GMC paling lama adalah Pringsewu, Lampung, dengan lama fase cincin 6 menit 12 detik. Di Pringsewu, gerhana dimulai pukul 13.19 WIB hingga pukul 17.52. Puncak gerhana terjadi pukul 16.41.

Wilayah di muka bumi yang dapat mengamati GMC ini adalah daerah yang dilewati antumbra atau perpanjangan bayangan inti bulan. Pada gerhana kali ini, beberapa kota di Indonesia yang dapat menyaksikan GMC adalah Tanjung Karang (Lampung), Serang (Banten), Tanjung Pandan (Belitung), Ketapang (Kalbar), Puruk Cahu (Kalteng), dan Samarinda (Kaltim).

Hal ini sesuai dengan prakiraan Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi BMG Staklim Banjarbaru, M Yahya kepada BPost mengatakan, gerhana matahari yang akan terjadi pada 26 Januari 2009 nanti adalah Gerhana Matahari Anular atau Cincin. "Selain beberapa daerah di Indonesia, Gerhana Matahari Cincin juga bisa disaksikan sebagian besar warga Kalsel," ujar Yahya. Menurut beliau, proses gerhana matahari tersebut dimulai pukul 12.57 Wita, kemudian gerhana cincin baru dimulai pukul 14.05 Wita. Selanjutnya pada pukul 15.46 Wita adalah pertengahan gerhana, dan gerhana cincin berakhir pukul 17.53 Wita. Gerhana keseluruhan berakhir pukul 19.01 Wita. (B.Post, 16-1-2009)

Proses Gerhana Matahari

Gerhana matahari terjadi ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Gerhana matahari dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu:

Gerhana Matahari Total (GMT) = Total Solar Eclipse
Sebuah gerhana matahari dikatakan sebagai gerhana total apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringan Bulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan Bumi-Matahari.



Gerhana Matahari Sebagian (GMS) = Partial Solar Eclipse
Gerhana sebagian terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Pada gerhana ini, selalu ada bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan.


Gerhana Matahari Cincin (GMC) = Annular Solar Eclipse
Gerhana cincin terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan Bulan lebih kecil dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada di depan piringan Matahari, tidak seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang bercahaya.

Tuntunan Gerhana dalam Agama Islam

Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٥)

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui” (Yunus:5)

Dan Dia juga berfirman ,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (٣٧)

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (Fushilat:37)

Shalat gerhana adalah sunnah muakadah menurut kesepakatan para ulama, dan dalilnya adalah As Sunnah yang tsabit dari Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.

Gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti para hamba-Nya. Allah berfirman ,

وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا (٥٩)

“Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti” (Al Israa:59)

Ketika terjadi gerhana matahari di jaman Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau keluar dengan bergegas, menarik bajunya, lalu shalat dengan manusia, dan memberitakan kepada mereka: bahwa gerhana adalah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dengan gerhana tersebut Allah menakut-nakuti para hamba-Nya; boleh jadi merupakan sebab turunnya adzab untuk manusia, dan memerintahkan untuk mengerjakan amalan yang bisa menghilangkannya. Beliau memerintahkan untuk mengerjakan sholat, berdo’a, istighfar, bersedekah, memerdekakan budak, dan amalan-amalan shalih lainnya ketika terjadi gerhana; hingga hilang musibah yang menimpa manusia.

Dalam gerhana terdapat peringatan bagi manusia dan ancaman bagi mereka agar kembali kepada Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya.

Mereka di zaman jahiliyyah meyakini bahwa gerhana terjadi ketika lahirnya atau matinya seorang pembesar. Maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membantah keyakina tersebut dan menjelaskan tentang hikmah ilahiyyah pada terjadinya gerhana.

Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Mas’ud Al Anshari berkata ,

“Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim Bin Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam maka manusia mengatakan, “Terjadi gerhana matahari karena kematian Ibrahim”. Maka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat yang demikian itu, maka bersegeralah untuk ingat kepada Allah dang mengerjakan Sholat” “.

Dalam hadits lain dalam Ash Shahihain, ,

“Maka berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah Sholat hingga matahari terang”.

Dari Shahih Al Bukhari dari Abu Musa, (artinya),

“Tanda-tanda yang Allah kirimkan ini bukanlah karena kematian atau kehidupan seseorang, tetapi Allah sedang manakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya, maka jika kalian melihat sesuatu yang demikian itu, bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a dan meminta ampun kepada-Nya”.

Allah Subhanahu Wata’ala memberlakukan pada dua tanda kekuasaan-Nya yang besar ini (matahari dan bulan) kusuf dan khusuf (gerhana); agar para hamba mengambil pelajaran dan tahu bahwa keduanya adalah makhluk yang terkena kekurangan dan perubahan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya; untuk menunjukkan kepada hamba-Nya dengan peritiwa itu atas kekuasaan-Nya yang sempurna dan hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi sebagaimana firman Allah ,

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (٣٧)

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ilalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (Fushilat:37)

Waktu shalat gerhana: dari mulai terjadinya gerhana sampai hilang berdasar sabda beliau Sholallahu ‘Alaihi Wasallam , “Apabila kalian melihat (artinya: sesuatu dari peristiwa tersebut), maka shalatlah”. (Mutafaqqun ‘Alaih)

Dan dalam hadits lainnya , “Dan jika kalian melihat yang demikian itu maka sholatlah hingga matahari kelihatan”. (Diriwayatkan oleh Muslim)

Shalat gerhana tidak diqadha setelah hilangnya gerhana tersebut, karena telah hilang waktunya. Jika gerhana telah hilang sebelum mereka mengetahuinya, maka mereka tidak perlu melakukan shalat gerhana.

Dan disunnahkan untuk shalat dengan berjama’ah berdasar perbuatan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan Boleh untuk mengerjakan sendiri-sendiri, tetapi mengerjakannya dengan berjama’ah lebih utama.

Disunnahkan bagi imam untuk memberikan nasehat kepada manusia setelah shalat gerhana, mengingatkan mereka dari kelalaian dan kelengahan serta memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan istighfar.

Dalam Ash Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha (artinya),

“Bahwa Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam telah selesai shalat dan matahari telah nampak, lalu beliau berkhutbah di hadapan manusia, memuji Allah dan memuja-Nya, dan bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terkena gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang, jika kalian melihat yang demikian itu, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbir, mengerjakan shalat, dan bershadaqahlah…”.”

Apabila shalat sudah selesai sebelum gerhana hilang, hendaknya mengingat dan berdo’a kepada Allah hingga gerhana tersebut hilang, dan tidak perlu mengulang shalat, seharusnya menyempurnakan shalat dan tidak menghentikannya; berdasar firman Allah ,

وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ (٣٣)

“Dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu” (Muhammad:33)

Maka shalat dilakukan pada waktu terjadinya gerhana berdasar sabda beliau, “hingga gerhana itu hilang”, dan sabda beliau, “Hingga dihilangkan apa yang menimpa kalian”.

Video Peristiwa Gerhana Matahari 26 Januari 2009

Berikut ini adalah video peristiwa gerhana matahari tersebut yang dirilis dari NASA dan video amatir







Sumber :

http://rukyatulhilal.org/gerhana.html
http://202.146.4.120/read/artikel/4688 (banjarmasinpost.co.id)
http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/23/tuntunan-shalat-gerhana/
http://www.youtube.com/watch?v=B_M6wgVkc88&NR=1
http://www.youtube.com/watch?v=h5xI4Vl6y_Y



Kamis, 15 Januari 2009

INFORMASI IKLIM DALAM BUDIDAYA PERTANIAN

Oleh Abujamin Ahmad Nasir

Budidaya pertanian dalam artian luas adalah merupakan suatu upaya memanen energi surya, zat hara dari dalam tanah dan air yang terkandung di dalam tanah. Bahan-bahan tersebut dibentuk melalui proses metabolisme di dalam sel tanaman atau ternak menjadi bagian dari organ tubuh yang dipanen. Proses ini berlangsung terus-menerus selama hidup melalui tahapan pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development). Hasil panen sangat tergantung pada 4 hal: (i) kesehatan benih, (ii) keadaan fisiografi lahan, sifat fisika dan kimia tanah, (iii) sifat iklim dan perubahan cuaca, (iv) kemampuan petani sebagai pengelolanya.

Keadaan cuaca di suatu tempat serta perubahannnya dalam jangka pendek berpengaruh kuat terhadap proses metabolisme sel dan kadar air di dalam tanah. Terdapat pola hubungan antara cuaca dan proses fisiologi tanaman maupun ternak. Data cuaca sehari-hari bermanfaat untuk membantu tindakan operasional dalam usaha tani. Dalam jangka panjang dapat diketahui hubungan antara data iklim dengan data pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman dan ternak tertentu. Data iklim akan sangat bermanfaat untuk perencanaan tataguna lahan bagi pertanian. Dari data tanaman dan data iklim kita dapat memilih tempat-tempat yang memiliki iklim yang sesuai bagi pengembangan tanaman atau ternak tertentu.

Data Biologi

Pengaruh cuaca/iklim terhadap tanaman atau ternak baru dapat diketahui setelah kita hubungkan "rekaman" proses metabolisme yakni data biologi dengan "rekaman" proses perubahan atmosfer yakni data cuaca. Tanaman yang berasal dari benih yang sehat, cukup haranya dan kebutuhan airnya, maka pertumbuhan dan perkembangannya sepenuhnya tergantung pada perubahan cuaca selama periode hidupnya. Gejala pertumbuhan dinyatakan oleh pertambahan satuan panjang, volume dan berat hasil fotosintesis yang disimpan dalam organ tubuhnya. Dari tiga macam parameter pertumbuhan tersebut dapat dipilih yang paling praktis untuk digunakan. Pengukuran lebih jauh sering diperlukan terhadap kadar zat-zat tertentu di dalamnya antara lain kadar pati, gula, air, selulose, minyak dan sebagainya. Perkembangan tanaman dapat diartikan sebagai perubahan bentuk, struktur dan komposisi, serta fungsi dari bagian tanaman secara teratur. Perubahan tersebut berlangsung fase demi fase selama satu daur hidup. Fase-fase perkembangan meliputi benih, kecambah, pertumbuhan organ vegetatif, berbunga, persarian bunga, pembentukan biji dan pemasakan buah/biji. Masing-masing tahapan sangat tergantung pada keadaan cuaca.


Sebagai makhluk biologis yang lebih dinamis ternak mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang lebih kompleks. Misalnya dalam pengambilan zat hara dan air yang telah tersedia cukup, pengambilannya masih dipengaruhi oleh faktor kemauannya untuk makan dan minum. Faktor kemauan ini sangat sulit diperhitungkan karena faktor penyebabnya sangat luas. Timbulnya kemauan lebih diatur oleh mekanisme pada susunan syaraf.

Data Cuaca dan Iklim yang Diperlukan

Unsur-unsur cuaca dan iklim di lapangan memberikan pengaruh terhadap kehidupan tanaman atau ternak dalam bentuk interaksi yang seringkali sangat kompleks. Kadang-kadang sulit untuk melihat pengaruh suatu unsur cuaca atau iklim terhadap tanaman atau ternak, tanpa memperhatikan pengaruh unsur cuaca/iklim lainnya.

Sejalan dengan luasnya data biologi/fisiologi yang diperlukan untuk menilai pertumbuhan, perkembangan dan produksi maka dibutuhkan bermacam data cuaca/iklim yang mempengaruhinya. Keperluan data cuaca/iklim untuk pertanian dapat digolongkan ke dalam tiga katagori sebagai berikut:
  1. data mikrometeorologi dari suatu lahan pertanian contoh (stasiun agromet khusus) untuk mengetahui berbagai hubungan cuaca-tanaman (atau ternak) yang bersifat mendasar.
  2. data cuaca atau iklim dari stasiun termasuk jaringan pengamatan cuaca/iklim meso. Data ini disediakan untuk penggunaan oleh petani dalam memperbaiki penyelenggaraan usaha taninya.
  3. data cuaca dan iklim dari stasiun yang merupakan jaringan pengamatan cuaca/iklim makro (regional). Data tersebut bermanfaat untuk peramalan cuaca/iklim makro (regional). data tersebut bermanfaat untuk peramalan cuaca/iklim pada daerah luas dan untuk melihat kesesuaian iklim bagi tanaman dan ternak. Dari data iklim makro di berbagai tempat di seluruh dunia memungkinkan pemetaan kelas-kelas iklim serta memudahkan pertukaran informasi unsur-unsur iklim yang diperlukan untuk usaha introduksi tanaman dan ternak ke wilayah lain.
Data unsur-unsur tanaman dan iklim katagori tersebut tercantum dalam Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Unsur-unsur cuaca dan iklim yang perlu diamati untuk kepentingan pertanian (Chang, 1974)



Peranan data Cuaca dan Iklim

Pada penelitian agrometeorologi di stasiun percobaan dilakukan pencatatan serentak yang meliputi parameter pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan parameter cuaca sebagai penyebab. Kedua data tersebut dianalisa untuk mengetahui sebab-akibatnya. Dari percobaan berulang-ulang akhirnya dapat diperoleh pola hubungan yang jelas antara keduanya. Pola hubungan ini dapat digunakan sebagai pembaku (reference). Selanjutnya dari data cuaca harian di tempat lain dan waktu yang berbeda, dapat diperkirakan respons tanaman yang diusahakan. Apabila cuaca pada suatu saat ternyata menyimpang dari keadaan optimumnya, sampai batas-batas tertentu dapat diusahakan tindakan pencegahannya dengan cara memodifikasi. Tindakan memodifikasi cuaca umumnya hanya dapat dilakukan pada tingkat mikro, yaitu cuaca di sekeliling tanaman. Dengan pencatatan data cuaca secara teratur dan kontinyu dapat membantu tindakan operasional sehari-hari pada unit-unit usaha tani. Pada daerah yang iklimnya telah diperhitungkan sesuai atau cocok untuk suatu jenis usaha tani tanaman atau ternak, keadaan dan perubahan cuaca sehari-hari selama periode hidup merupakan faktor penentu dan kualitas hasil panen.

Proses cuaca berlangsung sangat dinamis menurut ruang dan waktu. Penggerak dari proses perubahan ini adalah penerimaan energi dari radiasi surya. Keteraturan pada hubungan peredaran bumi terhadap surya dalam kurun waktu lama dan akan menghasilkan pola cuaca jangka panjang yang didefinisikan sebagai iklim. Iklim dapat dianggap sebagai nilai statistik dari cuaca pada daerah luas dan dalam jangka panjang. Unsur-unsur iklim dapat diartikan sebagai nilai rata-rata, maksimum, minimum dan nilai-nilai statistik lainnya dari nilai-nilai unsur cuaca jangka panjang dan daerah luas. Jangka waktu pengukuran yang diperlukan untuk memperoleh data iklim yang baku sulit ditentukan. WMO menyarankan jangka waktu selama 30 tahun untuk pencatatan data iklim. Mengingat periode tersebut belum mencukupi untuk satu periode hidup dari jenis-jenis tanaman perenial tertentu, maka untuk kepentingan agroklimatologi beberapa tanaman perenial masih diperlukan periode yang lebih lama dari 30 tahun.

Berdasarkan catatan data cuaca dan data pertumbuhan dan perkembangan dan hasil panen (kuantitas dan kualitasnya) dalam jangka panjang tersebut dapat diperoleh pola hubungan iklim dan tanaman atau ternak yang diusahakan. Apabila kedua macam data tersebut diperoleh dari pusat-pusat produksi pertanian dengan hasil panen yang optimum, maka data iklim yang diperoleh dapat digunakan sebagai pembaku bagi tanaman atau ternak yang bersangkutan. Data iklim dari daerah sentra produksi yang telah "berumur" lama dengan hasil panen optimum yang selanjutnya dapat dianggap sebagai persyaratan iklim yang cocok tanaman atau ternak. Dalam pengertian agroklimatologi, perilaku iklim di suatu tempat dianggap cocok bagi usaha tani jenis ternak atau varietas tanaman tertentu apabila perilaku iklim setempat dapat mendorong pertumbuhan, perkembangan, kuantitas dan kualitas hasil panen ke arah optimum selama periode panjang (berpuluh-puluh tahun).

Perlu diperhatikan bahwa kecocokan iklim untuk tanaman atau ternak berbeda dengan kecocokan iklim untuk tumbuhan atau hewan. Pada tumbuhan dan hewan unsur kuantitas dan kualitas hasil panen belum diperhatikan. Contoh keadaan iklim hutan-hutan tempat asal tanaman dan ternak, keadaan iklim di sana telah memungkinkan untuk pertumbuhan dan perkembangan secara lestari tetapi di tempat tersebut belum tentu dapat dibuka sentra produksi karena iklimnya belum tentu cocok untuk mendorong keunggulan kuantitas dan kualitas hasil panen.

Persyaratan iklim yang diperoleh dari pusat-pusat produksi pertanian ini sangat penting bagi pengembangan pertanian di tempat lain. Seringkali iklim setempat tidak cocok bagi tanaman atau ternak yang didatangkan dan gejala ketidakcocokan baru terlihat setelah usaha tani berjalan beberapa tahun. Kegagalan semacam ini dapat menimbulkan kerugian besar berupa biaya, tenaga, waktu dan kekecewaan. Analisis kesesuaian antara iklim dan tanaman atau ternak mutlak diperlukan dalam perencanaan pengembangan pertanian di daerah luas. Apabila ada perencanaan pembukaan daerah pertanian, atau pada rencana introduksi jenis tanaman atau ternak yang baru tidak dilakukan analisis kesesuaian iklim, berarti kita telah meletakkan resiko kegagalan di waktu mendatang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa data iklim mutlak diperlukan dalam perencanaan pertanian.

Metode Analisis Hubungan Cuaca/Iklim dan Tanaman/Ternak

Untuk dapat menganalisis hubungan sebab-akibat antara cuaca/iklim dan tanaman/ternak diperlukan pengetahuan terhadap aspek mekanisme fisiologis tumbuh tanaman dan ternak, serta mekanisme cuaca dan iklim. Dengan mengetahui mekanisme fisiologis (metabolisme) di dalam tubuh tanaman atau ternak kita dapat memilih unsur cuaca atau iklim yang kuat pengaruhnya. Selanjutnya dapat dilakukan analisis terhadap hubungan antara kedua data tersebut, serta menarik kesimpulan-kesimpulan yang berguna.

Analisis terhadap data aktual cuaca dan tanaman atau ternak dapat menghasilkan: model-model persamaan, grafik-grafik empiris dan nilai-nilai statistik. Hasil-hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar pendugaan pertumbuhan, perkembangan dan produksi-produksi di tempat lain. Analisis terhadap data cuaca aktual dan data fenologi (tanggal-tanggal dan sifat perkembangan) dapat digunakan untuk menyusun jadwal tanam dan panen di tempat lain. Bila disusun analisis untuk suatu wilayah luas, maka hasilnya dapat digunakan untuk pembuatan peta-peta fenologi regional. Dari sistem klasifikasi iklim yang disusun berdasarkan unsur-unsur iklim yang kuat pengaruhnya terhadap pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman atau ternak dapat disusun peta klasifikasi iklim yang dapat digunakan untuk pemilihan daerah bagi usaha tani. Contoh klasifikasi semacam ini yakni yang disusun menurut metode Koppen untuk penyebaran tumbuhan secara umum dan menurut metode Oldeman untuk kesesuaian padi sawah dan palawija. Contoh-contoh analisis hubungan cuaca/iklim dengan tanaman/ternak telah banyak disusun oleh para ahli: Fisiologi tanaman, Fisiologi ternak, Klimatologi, agrometeorologi, Ekologi dan Geografi.

Sumber :
Anonim. 1991. Kapita Selekta dalam Agrometeorologi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bogor.






Selasa, 13 Januari 2009

ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN MUSIM

Berikut ini adalah sekedar penjelasan agar anda bisa memahami beberapa istilah dan pengertian dalam prakiraan musim yang biasanya kita temui di dalam buletin evaluasi dan prakiraan hujan bulanan yang diterbitkan oleh sebuah stasiun klimatologi.

Curah hujan (mm) : merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul
dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) millimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu
millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

Curah hujan kumulatif (mm) : merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut. Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

Zona Musim (ZOM) : adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan. Daerah-daerah yang pola hujan rata-ratanya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan, disebut Non ZOM.

Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan. Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten, dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

Permulaan Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya. Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

Permulaan Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya. Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

Dasarian : adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu :

a. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.

b. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.

c. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

Sifat Hujan : merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun.)

Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) katagori, yaitu :

a. Diatas Normal (AN) : jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya.
b. Normal (N) : jika nilai curah hujan antara 85%--115%
terhadap rata-ratanya.
c. Di bawah Normal (BN) : jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap rata-ratanya.

Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama 30 tahun berturut-turut yang periodenya sudah ditetapkan, yaitu:
1) 1 Januari 1901 s/d 31 Desember 1930
2) 1 Januari 1931 s/d 31 Desember 1960
3) 1 Januari 1961 s/d 31 Desember 1990
4) 1 Januari 1991 s/d 31 Desember 2020
dan seterusnya.

Cuaca ekstrim, yaitu keadaan cuaca yang terjadi apabila:
  1. Jumlah hari hujan yang tercatat paling banyak melebihi hingga harga rata-rata pada bulan yang bersangkutan di stasiun tersebut
  2. Intensitas hujan terbesar dalam 1 (satu) jam selama periode 24 jam dan intensitas dalam 1(satu) hari selama periode satu bulan yang melebihi rata-ratanya.
  3. Terjadi kecepatan angin di atas 45 km/jam.
  4. Terjadi suhu adara di atas 35°C atau di bawah 15°C.
  5. Terjadi kelembapan udara di bawah 40%


Sabtu, 10 Januari 2009

STASIUN KLIMATOLOGI BANJARBARU

Gambar 1. Kantor Stasiun Klimatologi Banjarbaru

Gambar 2. Peta Kota Banjarbaru

Kota Banjarbaru adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarbaru merupakan sebuah kota yang baru dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, berdiri pada tanggal 20 April 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999. Kota Banjarbaru memiliki luas wilayah 371,30 km² (37.130 ha) yang terbagi atas 5 kecamatan dan 12 kelurahan.

Kota Banjarbaru terletak pada koordinat 03°27' s/d 03°29' LS dan 114°45' s/d 114°45' BT. Posisi geografis Kota Banjarbaru terhadap Kota Banjarmasin adalah 35 km pada arah 296°30' sebelah tenggara Kota Banjarmasin, sedangkan posisi terhadap Martapura, Kabupaten Banjar adalah 5 km pada arah 55°30' sebelah barat daya Kota Martapura. Kota Banjarbaru terletak pada perlintasan utama kota-kota di Kalimantan Selatan. Ruas jalan utama Kalsel yakni Jalan Jendral Achmad Yani, membelah Kota Banjarbaru menjadi 2 sisi.

Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) terletak di Jalan Trikora dengan alamat Jalan Trikora Kotak Pos 1049 Banjarbaru Kalimantan Selatan 70714 Telp. (0511) 4787229 fax. (0511)4787159. Ketinggian di atas permukaan laut (dpl) adalah 55 m . Stasiun Klimatologi Banjarbaru berada pada koordinat 03°27"43' LS dan 114°50"27' BT.

Mulai beroperasi pada tahun 1974. Awalnya Stasiun Klimatologi Banjarbaru berlokasi di Jalan Unlam III No. 3 Banjarbaru 70714, kemudian pindah ke Jalan Trikora pada sekitar tahun 2005 an. Lokasi kantor, taman dan perumahan dinas yang lama kini telah berubah menjadi Fakultas MIPA Unlam dan kantor Koordinator Unlam.

Gambar 3. Taman Alat di Staklim Banjarbaru



Rabu, 07 Januari 2009

BANJIR DAN INFORMASI YANG MENDUKUNG UNTUK PENANGGULANGANNYA

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan pokoknya. Hal ini berlanjut dengan peningkatan aktivitas dan peningkatan infrastruktur yang akan menyebabkan banyaknya alih guna lahan. Dilihat dari dimensi ekonomi dan sosial eksploitasi alam berlebihan dan pemanfaatannya meningkat, akan tetapi dalam dimensi lingkungan terjadi degradasi karena cenderung terabaikan. Masalah ini adalah akar dari bencana terutama adalah bencana banjir. Daerah Kalimantan Selatan bencana yang dominan adalah banjir yang terjadi dari tahun ke tahun. 

Pengertian banjir adalah aliran sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melimpas dari palung sungai. Penyebab banjir dikarenakan faktor alam dan manusia. Perubahan penggunaan lahan, erosi dan sedimentasi, sampah, bangunan di bantaran sungai/drainase, curah hujan yang tinggi, perubahan fisiografi sungai, kapasitas sungai/drainase yang tak memadai, pengaruh air pasang (rob), penurunan tanah, drainase lahan yang menurun, kerusakan bangunan pengendali banjir dan perencanaan sistem pengendali banjir yang tak tepat adalah diantara faktor-faktor penyebabnya. Diakui degradasi akibat ulah manusia memang diakui adalah faktor terbesar. Gejala-gejala banjir adalah curah hujan tinggi dalam waktu yang lama dan pasang laut yang tinggi disertai adanya badai. Kita masih ingat terjadinya rekor curah hujan yang terjadi pada 5 Maret 2008 mencapai 182 milimeter dengan durasi lebih dari 12 jam dalam pencatatan kami di Stasiun Klimatologi Banjarbaru. Ukuran ini adalah yang terbesar sejak tahun 1974 yang mengakibatkan banjir terjadi di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Contoh untuk kejadian pasang naik adalah banjir di daerah Aluh-Aluh terjadi dimulai pada tanggal 15 Desember 2008 ketika itu dua hari dari bulan purnama 15 Dzulhijjah tanggal 13/14 Desember. Bulan baru dan Bulan purnama adalah posisi Matahari, Bulan dan Bumi berada pada satu posisi garis lurus. Saat itu terjadi pasang naik tertinggi disebut sebagai pasang purnama (spring tides). Banjir ini didukung dengan catatan hujan dari alat ARG (Automatic Rain Gauge) di Pelaihari Tala menunjuk angka 52 mm dan 73 mm untuk tgl 15 dan 16 Desember 2008, termasuk kategori lebat. 

 Berdasarkan beberapa kejadian bencana banjir semestinya pemberian informasi yang tepat adalah solusi untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan. Informasi yang tidak tepat dapat memberikan ekses yang negatif bagi masyarakat kita. Informasi yang menyatakan terjadi air pasang ‘tsunami’ di daerah Aluh-Aluh dan gosip adanya tsunami di Tabanio adalah contoh informasi tidak tepat yang dapat memberi kecemasan masyarakat berlebihan. Kesiagaan bencana harus dimulai dari pra bencana bukan cuma setelah terjadi kejadian bencana banjir. Kajian bahaya banjir dapat dilakukan dengan menggunakan catatan kejadian banjir, pemetaan topografi wilayah data banjir, data hujan (kejadian hujan yang ekstrim dan periode ulang), peta penggunaan lahan dan peta sebaran penduduk. Sehingga pada akhirnya pemerintah punya peta wilayah rawan banjir yang dapat digunakan dalam mitigasi bencana.

Kami menggunakan informasi iklim untuk membantu memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat dan pemerintah. Unsur-unsur cuaca cuaca yang diamati (radiasi matahari, suhu udara, tekanan udara, kelembapan nisbi udara, perawanan, curah hujan, penguapan dan pengembunan) datanya dikumpulkan dan dibuat menjadi informasi, kumpulan data cuaca dalam kurun waktu yang panjang itu akhirnya menjadi data iklim.Informasi iklim ini dapat digunakan untuk penanggulangan bencana. Pemanfaatan informasi iklim dalam penanggulangan bencana adalah dilihat dari penggunaan jenis informasinya. Jenis informasi iklim meliputi informasi karakteristik iklim dan informasi prakiraan. Karakteristik iklim terdiri dari keadaan rata-rata, maksimum/minimum, variasibilitas dan tendensinya. Pemanfaatannya dengan memahami karakteristik unsur-unsur iklim dapat digunakan sebagai parameter perencanaan. Batas ambang dan informasi iklim dan cuaca bagaimana yang dapat menyebabkan bencana. Informasi prakiraan dalam klimatologi meliputi prakiraan musim, prakiraan hujan bulanan dan prakiraan fenomena tertentu yang bisa digunakan sebagai peringatan dini. 

Adapun indikator yang dapat dilihat untuk kesiagaan bencana alam banjir adalah melalui curah hujan harian. Pengamatan curah hujan yang telah terjadi dilakukan secara manual pada pos-pos hujan di seluruh Kalimantan Selatan dan dikirim secara periodik kepada kami. Informasi ini didukung dengan alat pengukur otomatis yang dapat dilihat secara up to date. Saat ini di Kalimantan Selatan baru terdapat alat pengukur hujan otomatis (Automatic Rain Gauge) di Pleihari (SMPK Pleihari) dan di HST (SMPK Pantai Hambawang) dan Automatic Weather Sistem (AWS) di Banjarbaru (Stasiun Klimatologi Banjarbaru). Peralatan otomatis tersebut tidaklah memadai untuk wilayah seluas Kalimantan Selatan idealnya tiap kabupaten mempunyai satu alat otomatis.Informasi-informasi iklim Kalimantan Selatan dan pencatatan ARG ini dapat dilihat secara on line melalui situs kami http://klimatologibanjarbaru.com.

Apabila curah hujan di atas 50 mm/hari katagorinya lebat (siaga), bila curah hujan di atas 100 mm/hari katagorinya sangat lebat (waspada) dan bila di atas 150 mm/hari katagorinya amat sangat lebat (awas). Apabila terjadi curah hujan di atas 50 milimeter maka kami langsung berkoordinasi dengan Satkorlak Kalimantan Selatan dan pemerintah daerah terkait untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat. Selain itu kami selalu memberikan informasi tentang prakiraan dan peringatan dini pada media. 

Yang paling penting dalam penanggulangan bencana banjir adalah partisipasi seluruh masyarakat. Kesadaran penduduk dalam menjaga lingkungan adalah kunci semuanya. Upaya penghijauan, pembuatan saluran air, pendidikan dan sosialisasi pentingnya memelihara lingkungan hidup dari skala terkecil adalah beberapa solusi yang dapat dilakukan tiap orang. Mulailah dari hal yang kecil, mulailah dari diri anda sendiri.

Khairullah, CPNS Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Banjarbaru