Rabu, 03 Desember 2008

KARAKTERISTIK IKLIM INDONESIA

Ada tiga faktor penting yang mempengaruhi watak iklim di Indonesia:

Pertama, adalah kedudukan matahari yang berubah-ubah selama berevolusi. Pada periode matahari berada di atas daratan Asia menyebabkan daratan Asia memiliki temperatur udara lebih tinggi dan berakibat tekanan relatif lebih rendah. Sebaliknya pada periode bersamaan di atas daratan Australia temperatur relatif rendah berakibat tekanan udara relatif tinggi. Akibatnya akan bertiup masa udara dari daratan Australia yang relatif kering menuju daratan Asia, sehingga ketika melewati pulau-pulau di Indonesia kecuali di lereng-lereng gunung yang tinggi yang menghadap ke tenggara dan wilayah yang jauh dari Australia, seperti Sumatera Utara dan Kalimantan bagian barat. Periode bertiupnya masa udara dari Australia ini biasanya disebut juga periode angin timur yang bertepatan dengan musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia. Pada periode kedudukan matahari di atas daratan Australia, daratan Australia mempunyai temperatur udara yang relatif tinggi, sedangkan di Asia relatif rendah. Pada periode ini bertiup masa udara dari Asia ke Australia yang bersifat relatif basah. Pada waktu melewati Indonesia banyak menimbulkan hujan. Periode bertiupnya masa udara Asia ini biasanya disebut periode angin barat yang bertepatan dengan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kedua, adanya wilayah Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau. Hal ini menyebabkan iklim di Indonesia bersifat menengah atau moderat.

Ketiga, di beberapa pulau di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Irian Jaya terdapat gunung-gunung yang tinggi. Gunung-gunung yang tinggi baik secara vertikal ataupun horisontal menyebabkan terjadinya perbedaan iklim yang jelas walaupun tempatnya tidak berjauhan. Sebagai contoh temperatur udara makin ke atas makin rendah (lapse rate). Sampai batas tertentu makin ke atas curah hujan makin banyak. Di lereng gunung atau pegunungan yang menghadap ke tenggara, misal Jawa Timur dan Jawa Tengah mempunyai curah hujan yang relatif lebih banyak(windward).

Curah Hujan

Indonesia terdiri lebih dari 12000 pulau besar dan kecil yang terbentang pada jarak 5000 km dimana sebagian besar pulaunya mempunyai pegunungan yang menyebabkan beragamnya tipe iklim (hujan). Di daerah dekat ekuator mempunyai pola hujan bimodal (mempunyai dua puncak hujan), akibatnya daerah tersebut dilalui ITCZ dua kali setahun. Sedangkan daerah lainnya mengalami musim hujan dan musim kemarau, bergantian dengan curah hujan yang sangat beragam.


Antara bulan Nopember sampai Pebruari, angin barat laut membawa udara lembab ke arah Pantai Timur Laut, Utara, Barat Laut dan Barat dari pulau-pulau di Indonesia. Kecuali bagian utara dan timur laut karena terletak di balik sisi bayang-bayang (leeward side)  pegunungan Malaysia dan sebelah barat Sulawesi Tengah yang berada di balik sisi bayang-bayang pegunungan di Kalimantan dimana wilayah tersebut kurang dipengaruhi oleh monsoon. Sepanjang pantai timur dan tenggara dari berbagai bagian pulau-pulau curah hujan yang lebih rendah dibandingkan Kalimantan Barat dan Sulawesi bagian Timur mempunyai curah hujan yang lebih kecil dari Sulawesi bagian barat. Pengaruh ini juga berlaku pada beberapa pulau kecil lainnya.
Bulan Pebruari mempunyai sifat yang agak kering dibandingkan bulan Januari terutama pada bagian ekuator yang disebabkan oleh mulai melemahnya monsoon barat laut. Udara kering dari benua Eurasia menerobos ke bagian utara Sumatera. Pada bulan Maret ITCZ melintasi Sumatera menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan buan Pebruari, hal ini juga terjadi di Sulawesi Tengah.

Selama periode April sampai Oktober, Indonesia dipengaruhi oleh angin tenggara yang relatif kering berasal dari Australia. Pengaruh angin tenggara ini pertama kali mulai dirasakan di sebelah tenggara Indonesia setelah ITCZ bergerak ke udara. Pada bulan Maret terjadi pengurangan curah hujan terutama di sepanjang pantai tenggara dari Nusa Tenggara dan pada bulan April ini wilayah ini menjadi kering. Walaupun demikian daerah pantai yang menghadap laut atau lautan di sebelah selatan atau tenggara pulau menjadi lebih basah (misalnya pantai timur Sulawesi Selatan, pantai selatan pulau Seram). Demikian pula di pantai selatan Jawa Barat dan pantai barat daya Sumatera menjadi basah. Pantai timur Kalimantan yang dihalangi oleh pegunungan di Sulawesi menjadi relatif kering.

Mulai bulan Mei aliran udara kering melingkupi hampir seluruh bagian Indonesia dan bulan Juli bagian timur dan timur laut di Indonesia berada dalam musim kering. Hanya sebagian kecil dari pantai selatan pulau Seram, Buru, Sulawesi Selatan, Jawa Barat,  Barat laut Sumatera dan Kalimantan Bagian tengah yang masih basah (hujan).

Dari bulan Agustus sampai Oktober bagian utara Indonesia dipengaruhi oleh monsoon barat daya terutama pantai barat Sumatera dan juga Kalimantan Barat serta barat daya Jawa Barat menerima curah hujan yang lebih tinggi. Sedangkan di bagian timur dan tenggara Indonesia mengalami musim kering terus-menerus.

Bulan Nopember ITCZ berada di atas Kalimantan, meskipun monsoon utara dan timur laut meningkat kekuatannya tetapi untuk pantai utara dan pantai timur dari daerah sebelah selatan ekuator masih relatif kering.

Awal musim hujan di Indonesia dimulai dari arah barat laut yaitu Sumatera bagian barat pada bulan Agustus menuju ke arah tenggara yaitu daerah Nusa Tenggara pada bulan Desember. Pada bulan September adalah  awal musim hujan untuk sebagian besar pulau Sumatera dan Kalimantan. Kemudian bulan Oktober adalah awal musim hujan untuk daerah Sumatera bagian selatan, Jawa Barat bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan sebagian Irian. Bulan Nopember adalah awal musim hujan untuk sebagian besar Pulau Jawa, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, sedangkan daerah Nusa Tenggara awal musim hujan pada bulan Desember. 

Gangguan siklon tropis yang sering terjadi di sekitar garis 10°LU pada bulan bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember dan sekitar garis 20°LS pada bulan Desember, Januari dan Pebruari dapat mempengaruhi sirkulasi monsoon di Indonesia. Peristiwa El-Nino pada tahun 1982-1983 dan 1992-1993 yang diakibatkan tidak normalnya suhu permukaan Lautan Pasifik Barat atau siklus Walker menjadi terganggu sehingga Indonesia mengalami kekeringan.

Puncak hujan atau curah hujan  tertinggi di Indonesia berbeda-beda untuk setiap daerah yang arahnya hampir sama dengan musim hujan. Karena awal musim hujan, puncak hujan bahkan pola hujan untuk daerah Indonesia berbeda-beda maka tidaklah benar mengeneralisasi bahwa musim hujan di Indonesia adalah pada bulan Nopemeber sampai April dan musim kemarau bulan Mei sampai Oktober. Berpedoman bahwa iklim atau musim berbeda-beda untuk setipa daerah di Indonesia, maka pendalaman mengenai iklim dalam skala propinsi atau daerah tipe iklim sangatlah bermanfaat di masa yang akan datang, baik untuk perencanaan, evaluasi pembangunan maupun ramalan iklim di masa akan datang.

Angin

Indonesia merupakan daerah monsoon yang terletak antara benua Asia dan Australia. Pengaruh angin passat timur laut dan angin passat tenggara tidak begitu jelas terutama untuk wilayah Indonesia Barat. Monsoon adalah keadaan musim dimana dalam musim panas angin permukaan berhembus dari seperempat penjuru angin (Barat-Utara) secara mantap (arah angin terbanyak > 40%) dan pada musim dingin arah angin berbalik dari seperempat penjuru angin yang lainnya (Timur-Selatan).

Pada bulan Desember, Januari dan Pebruari (musim dingin di belahan bumi utara) terdapat tekanan tinggi di Asia dan pusat tekanan rendah di Australia menyebabkan angin yang berhembus di Indonesia pada umumnya angin barat (west monsoon). Sebaliknya pada bulan Juni, Juli dan Agustus terjadi pusat tekanan rendah di Asia (musim panas di belahan bumi utara) dan pusat tekanan tinggi di Australia yang menyebabkan angin yang berhembus di Indonesia adalah angin timur (east monsoon).

Pada bulan Maret angin barat masih berhembus tapi kecepatan dan kemantapannya makin berkurang. Pada bulan April dan Mei arah angin tidak menentu/berubah-ubah dan periode ini dikenal sebagai musim peralihan atau pancaroba, demikian pula dengan bulan Oktober dan Nopember.

Kecepatan angin di sebagian besar wilayah Indonesia relatif rendah. Selama musim hujan angin didominasi oleh angin barat, kecepatan angin barat daya di pantai utara Jawa antara 1,9-2,4 m/detik. Selama musim kemarau kecepatan angin berasal dari timur sekitar 1,8 m/detik. Angin yang tidak menentu dengan kecepatan angin 1,1 m/detik terjadi dalam bulan April. Di Sumatera Utara angin barat berhembus dengan kencang sekitar 3-4 m/detik terutama pada bulan Juni sampai September di daerah celah pegunungan. Di Jakarta kecepatan angin bervariasi antara 1,7 m/detik pada pagi hari sampai 2,3 m/detik pada sore hari, sedangkan pada malam hari hanya 0,5 m/detik. Di Yogyakarta kecepatan angin rata-rata 0,8 m/detik. Di Jawa Timur kecepatan angin di pesisir dapat mencapai 4 m/detik pada siang hari. Bahkan pada malam hari kecepatan angin masih cukup kencang yaitu antara 3-4 m/detik, khususnya pada musim kemarau.

Sifat monsoon dari tahun ke tahun tidaklah sama baik arah, kecepatan maupun sifat udara yang dibawanya. Demikian pula keadaan cuaca yang ditimbulkan juga tidak sama, ada tahun yang lebih basah dari tahun ke tahun cukup bervariasi.

Suhu

Suhu di Indonesia memperlihatkan variasi musiman yang relatif kecil. Di sebelah utara ekuator suhu rata-rata bulanan mencapai maksimal sekitar bulan Mei dan suhu bulanan rata-rata bulanan terendah pada bulan Desember dan Januari. Di sebelah selatan ekuator suhu maksimum pertama terlihat pada bulan April-Mei dan maksimum kedua terjadi di akhir musim kemarau yaitu bulan Oktober. Meskipun ada variasinya tetapi rata-rata suhu bulanan hanya berkisar 25,2°C (Medan, Januari) dan 27,9°C (Kupang, Oktober). Suhu maksimum menunjukkan puncak-puncaknya pada April-Juli di wilayah utara ekuator sedangkan di selatan ekuator suhu siang hari tertinggi tercatat pada September sampai Nopember dengan puncak kedua April-Mei. Dalam bulan Juni dan Juli suhu maksimum bulanan rata-rata relatif rendah di sebelah selatan ekuator terutama oleh karena arus tenggara yang dingin, tetapi dalam bulan Januari dan Pebruari suhu malam hari relatif rendah oleh karena jumlah curah hujan yang cukup banyak.

Suhu minimum di wilayah pantai tidak banyak menunjukkan variasi seperti di daerah ekuator , tetapi ke arah tenggara temperatur minimum turun dalam periode Mei-Agustus. Di Pontianak temperatur minimum sepanjang tahun di sekitar 24
°C, di Kupang suhu minimum sekitar 24°C dalam bulan Desember-Januari (berawan, hujan banyak terjadi, radiasi matahari sedikit) tetapi suhu tersebut turun sampai 21°C dalam bulan Juli-Agustus (langit cerah).

Suhu udara sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut dan jarak dari pantai. Sebagai contoh di Pusakanegara (daerah pantai) mempunyai suhu maksimum 32
°C dan minimum 22°C, sedangkan di Mojowarno (inland plain) suhu maksimum mencapai 33°C pada bulan Oktober dan minimum hampir 20°C pada Juli-Agustus. Suhu kisaran harian di pantai antara 6-9°C sedangkan di pedalaman (inland plain) antara 8-12°C.


Tabel 1. Rata-rata suhu maksimum dan minimum pada beberapa ketinggian tempat °C
 
Radiasi Total dan Lama Penyinaran Matahari

Variasi tahunan disebabkan oleh variasi deklinasi matahari dan perubahan cuaca dengan adanya perubahan monsoon, oleh karena itu terdapat dua nilai minimum. Pertama dalam bulan Desember sampai dengan Pebruari pada waktu angin monsoon barat daya dengan kedudukan matahari jauh di selatan dan yang kedua pada bulan Juni sewaktu kedudukan matahari berada jauh di utara. Radiasi maksimum dalam bulan September pada waktu matahari berada di atas Jawa yang bertepatan dengan langit cerah.

Lama penyinaran matahari telah dilakukan pengukuran sejak tahun 1888 dengan menggunakan pencatat Jordan. Umumnya alat ini digunakan untuk menghitung keadaan cahaya matahari yang cerah antara pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00 dengan maksud lindungan gunung tidak mengganggu lama penyinaran yang akatual terutama pada wilayah lereng gunung. Alat pengukur tipe Campbell Stokes sekarang telah digunakan untuk menghitung persentase lama penyinaran matahari yangdihitung dengan membagi lama penyinaran yang tercatat pada kertas pias Campbell Stokes dibagi dengan angka 8 tanpa melihat waktu dalam satu tahun.

Penerimaan radiasi surya di Indonesia berkisar antara 278 (Cipanas) sampai 427 cal/cm
2/hari (Langrang). Pada musim hujan penerimaan radiasi surya berkisar antara 208 (Cipanas) sampai 431 cal/cm2/hari (Langrang), sedangkan pada musim kemarau berkisar 323-454 cal/cm2/hari.

Kelembapan Relatif

Kelembapan udara di Indonesia pada umumnya di atas 90%. Pada musim hujan kelembapan udara di siang hari di daerah pantai sekitar 80-85% sedangkan pada musim kemarau turun menjadi sekitar 70% dan pada musim kemarau pada siang hari di daerah pedalaman kelembapan turun sampai 55%.

Evaporasi

Evaporasi di Indonesia untuk daerah dataran rendah bervariasi antara 4 mm/hari pada musim hujan sampai 5 mm/hari pada musim kemarau. Namun di daerah yang lebih kering evaporasi dari panci klas A mencapai 6,5 mm/hari pada akhir musim kemarau.

Dari panci evaporasi tipe klas A diketahui bahwa sangat kuat hubungan dengan radiasi total seperti halnya suhu. Evaporasi harian di Yogyakarta dengan ketinggian 137 m dpl rerata 4,5 mm/hari. Di Cipanas pada ketinggian 1100 m dpl bervariasi dari lebih kecil ketimbang 3 mm/hari dalam musim hujan sampai 4,6 mm/hari dalam musim kemarau. Di Muara yang berlokasi pada ketinggian 250 m dpl evaporasi dalam musim hujan sekitar 3,3 mm/hari dan 4,6 mm/hari dalam musim kemarau.

Sumber :

Anonim. 1999. Kapita Selekta Agroklimatologi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan IPA. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Gusti Rusmayadi. 2002. Klimatologi Pertanian. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.

Sri Hartati Soenarmo. 2001. Meteorologi Tropis. Departemen Geofisika dan Meteorologi ITB. Bandung.

Sukardi Wisnusubroto. 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitra Gama Widya. Yogyakarta.

3 komentar:

Tati Hariyati mengatakan...

ass, saya mau bertanya, tetntang variasi suhu diindonesia berdasarkan benyamin lakitan, suhu maksimum jatuh pada b ulan oktober, n minimum sekitar bulan mei- agustus, kira2 apa bpk bisa membantu saya. faktor apa yang menjadi penyebabnya

Unknown mengatakan...

Saya ingin bertanya mengapa di daerah jawa timur dan jawa barat memiliki curah hujan relatif lebih banyak

ustadzklimat mengatakan...

Mungkin faktor lokal yang lebih dominan di daerah tersebut. Pengalaman saya di daerah Jawa Barat banyak daerah pegunungan. Daerah dengan topografi tinggi memiliki curah hujan yang lebih tinggi terutama daerah lereng pegunungan.Curah hujan yang terjadi lebih tinggi di daerah lereng gunung dibandingkan dengan wilayah puncak pegunungan. Mekanismenya coba nanti baca tentang hujan orografis, banyak tulisan-tulisan yang membahas hal tersebut. Kalau daerah tersebut di dekat pantai sangat terkait dengan interaksi laut dan atmosfer.