Selasa, 16 Desember 2008

KALSEL SIAGA: CURAH HUJAN TINGGI HINGGA JANUARI

BANJARMASIN – Banjir di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi peringatan bagi seluruh wilayah di Kalsel. Pasalnya, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) seluruh daerah di Kalsel berpotensi banjir. Fenomena alam ini tak hanya disebabkan curah hujan yang tinggi hingga Januari 2009 nanti, tapi juga terjadinya pasang tinggi di daerah aliran sungai. “Pasang tinggi akan terjadi hingga 20 Desember ini, sedangkan puncak musim hujan sampai Januari 2009,” terang staf BMG Zakiah saat dihubungi wartawan kemarin (15/12). 

Sebelumnya Kasubdin Bina Organisasi Penangggulangan Bencana Dinkesos Kalsel H Jakaria mengingatkan kawasan yang menjadi langganan banjir siaga. Selain Banua Anam, banjir juga mengancam Kotabaru, Tanah Laut, Tanah Bumbu serta Kabupaten Banjar. “Mengacu ramalan BMG, dalam dua minggu terakhir curah hujan cenderung meningkat di Riam Kanan dan Riam Kiwa,” ungkapnya saat dihubungi kemarin. 

Jika ramalan itu terbukti, maka di daerah Pengaron, Karang Intan dan sekitarnya (Kabupaten Banjar) berpotensi banjir karena air di Riam Kiwa dan Riam Kanan mengalami peninggian. “Ramalan BMG tersebut menjadi peringatan bagi warga sekitar untuk siaga dan waspada,” ingatnya.

Diakui Jakaria, bencana memang tak bisa diprediksi manusia, tapi tidak salahnya fenomena alam diwaspadai sedini mungkin. Dia menambahkan, Gubernur H Rudy Ariffin jauh-jauh hari sudah menerbitkan surat edaran kepada seluruh kabupaten dan kota se-Kalsel tentang antisipasi penanganan bencana musim hujan. “Satlak di daerah sudah disiagakan, termasuk perlengkapan perahu karet, dolpin dan buffer stock,” ungkapnya. 

Untuk buffer stock, dia menjamin tidak ada masalah sebab kalau toh nantinya kurang bisa meminta bantuan kepada Dinkesos Kalsel. “Jarak antara provinsi dan kabupaten paling lama ditempuh 24 jam, jadi kalau buffer stock kurang dengan cepat bisa teratasi,” katanya. 

Sementara itu, intensitas hujan yang terjadi dalam sepekan ini sejumlah kawasan di Banjarmasin tergenang, bahkan di kawasan Jalan Sotoyo dan Jafri Zamzam genangan air sampai sejengkal. Hal itu disebabkan sungai di kawasan itu meluber akibat hujan dan pasang tinggi. Pantauan koran ini halaman RS TPT Teluk Dalam tergenang hingga mata kaki, begitu pula sebagian kawasan Pelambuan dan Jafri Zamzam.(sga)
Sumber : Radar Banjarmasin, Selasa, 16 Desember 2008

Rabu, 03 Desember 2008

KARAKTERISTIK IKLIM INDONESIA

Ada tiga faktor penting yang mempengaruhi watak iklim di Indonesia:

Pertama, adalah kedudukan matahari yang berubah-ubah selama berevolusi. Pada periode matahari berada di atas daratan Asia menyebabkan daratan Asia memiliki temperatur udara lebih tinggi dan berakibat tekanan relatif lebih rendah. Sebaliknya pada periode bersamaan di atas daratan Australia temperatur relatif rendah berakibat tekanan udara relatif tinggi. Akibatnya akan bertiup masa udara dari daratan Australia yang relatif kering menuju daratan Asia, sehingga ketika melewati pulau-pulau di Indonesia kecuali di lereng-lereng gunung yang tinggi yang menghadap ke tenggara dan wilayah yang jauh dari Australia, seperti Sumatera Utara dan Kalimantan bagian barat. Periode bertiupnya masa udara dari Australia ini biasanya disebut juga periode angin timur yang bertepatan dengan musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia. Pada periode kedudukan matahari di atas daratan Australia, daratan Australia mempunyai temperatur udara yang relatif tinggi, sedangkan di Asia relatif rendah. Pada periode ini bertiup masa udara dari Asia ke Australia yang bersifat relatif basah. Pada waktu melewati Indonesia banyak menimbulkan hujan. Periode bertiupnya masa udara Asia ini biasanya disebut periode angin barat yang bertepatan dengan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kedua, adanya wilayah Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau. Hal ini menyebabkan iklim di Indonesia bersifat menengah atau moderat.

Ketiga, di beberapa pulau di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Irian Jaya terdapat gunung-gunung yang tinggi. Gunung-gunung yang tinggi baik secara vertikal ataupun horisontal menyebabkan terjadinya perbedaan iklim yang jelas walaupun tempatnya tidak berjauhan. Sebagai contoh temperatur udara makin ke atas makin rendah (lapse rate). Sampai batas tertentu makin ke atas curah hujan makin banyak. Di lereng gunung atau pegunungan yang menghadap ke tenggara, misal Jawa Timur dan Jawa Tengah mempunyai curah hujan yang relatif lebih banyak(windward).

Curah Hujan
Indonesia terdiri lebih dari 12000 pulau besar dan kecil yang terbentang pada jarak 5000 km dimana sebagian besar pulaunya mempunyai pegunungan yang menyebabkan beragamnya tipe iklim (hujan). Di daerah dekat ekuator mempunyai pola hujan bimodal (mempunyai dua puncak hujan), akibatnya daerah tersebut dilalui ITCZ dua kali setahun. Sedangkan daerah lainnya mengalami musim hujan dan musim kemarau, bergantian dengan curah hujan yang sangat beragam.


Antara bulan Nopember sampai Pebruari, angin barat laut membawa udara lembab ke arah Pantai Timur Laut, Utara, Barat Laut dan Barat dari pulau-pulau di Indonesia. Kecuali bagian utara dan timur laut karena terletak di balik sisi bayang-bayang (leeward side)  pegunungan Malaysia dan sebelah barat Sulawesi Tengah yang berada di balik sisi bayang-bayang pegunungan di Kalimantan dimana wilayah tersebut kurang dipengaruhi oleh monsoon. Sepanjang pantai timur dan tenggara dari berbagai bagian pulau-pulau curah hujan yang lebih rendah dibandingkan Kalimantan Barat dan Sulawesi bagian Timur mempunyai curah hujan yang lebih kecil dari Sulawesi bagian barat. Pengaruh ini juga berlaku pada beberapa pulau kecil lainnya.
Bulan Pebruari mempunyai sifat yang agak kering dibandingkan bulan Januari terutama pada bagian ekuator yang disebabkan oleh mulai melemahnya monsoon barat laut. Udara kering dari benua Eurasia menerobos ke bagian utara Sumatera. Pada bulan Maret ITCZ melintasi Sumatera menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan buan Pebruari, hal ini juga terjadi di Sulawesi Tengah.

Selama periode April sampai Oktober, Indonesia dipengaruhi oleh angin tenggara yang relatif kering berasal dari Australia. Pengaruh angin tenggara ini pertama kali mulai dirasakan di sebelah tenggara Indonesia setelah ITCZ bergerak ke udara. Pada bulan Maret terjadi pengurangan curah hujan terutama di sepanjang pantai tenggara dari Nusa Tenggara dan pada bulan April ini wilayah ini menjadi kering. Walaupun demikian daerah pantai yang menghadap laut atau lautan di sebelah selatan atau tenggara pulau menjadi lebih basah (misalnya pantai timur Sulawesi Selatan, pantai selatan pulau Seram). Demikian pula di pantai selatan Jawa Barat dan pantai barat daya Sumatera menjadi basah. Pantai timur Kalimantan yang dihalangi oleh pegunungan di Sulawesi menjadi relatif kering.

Mulai bulan Mei aliran udara kering melingkupi hampir seluruh bagian Indonesia dan bulan Juli bagian timur dan timur laut di Indonesia berada dalam musim kering. Hanya sebagian kecil dari pantai selatan pulau Seram, Buru, Sulawesi Selatan, Jawa Barat,  Barat laut Sumatera dan Kalimantan Bagian tengah yang masih basah (hujan).

Dari bulan Agustus sampai Oktober bagian utara Indonesia dipengaruhi oleh monsoon barat daya terutama pantai barat Sumatera dan juga Kalimantan Barat serta barat daya Jawa Barat menerima curah hujan yang lebih tinggi. Sedangkan di bagian timur dan tenggara Indonesia mengalami musim kering terus-menerus.

Bulan Nopember ITCZ berada di atas Kalimantan, meskipun monsoon utara dan timur laut meningkat kekuatannya tetapi untuk pantai utara dan pantai timur dari daerah sebelah selatan ekuator masih relatif kering.

Awal musim hujan di Indonesia dimulai dari arah barat laut yaitu Sumatera bagian barat pada bulan Agustus menuju ke arah tenggara yaitu daerah Nusa Tenggara pada bulan Desember. Pada bulan September adalah  awal musim hujan untuk sebagian besar pulau Sumatera dan Kalimantan. Kemudian bulan Oktober adalah awal musim hujan untuk daerah Sumatera bagian selatan, Jawa Barat bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan sebagian Irian. Bulan Nopember adalah awal musim hujan untuk sebagian besar Pulau Jawa, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, sedangkan daerah Nusa Tenggara awal musim hujan pada bulan Desember. 

Gangguan siklon tropis yang sering terjadi di sekitar garis 10°LU pada bulan bulan Agustus, September, Oktober dan Nopember dan sekitar garis 20°LS pada bulan Desember, Januari dan Pebruari dapat mempengaruhi sirkulasi monsoon di Indonesia. Peristiwa El-Nino pada tahun 1982-1983 dan 1992-1993 yang diakibatkan tidak normalnya suhu permukaan Lautan Pasifik Barat atau siklus Walker menjadi terganggu sehingga Indonesia mengalami kekeringan.

Puncak hujan atau curah hujan  tertinggi di Indonesia berbeda-beda untuk setiap daerah yang arahnya hampir sama dengan musim hujan. Karena awal musim hujan, puncak hujan bahkan pola hujan untuk daerah Indonesia berbeda-beda maka tidaklah benar mengeneralisasi bahwa musim hujan di Indonesia adalah pada bulan Nopemeber sampai April dan musim kemarau bulan Mei sampai Oktober. Berpedoman bahwa iklim atau musim berbeda-beda untuk setipa daerah di Indonesia, maka pendalaman mengenai iklim dalam skala propinsi atau daerah tipe iklim sangatlah bermanfaat di masa yang akan datang, baik untuk perencanaan, evaluasi pembangunan maupun ramalan iklim di masa akan datang.

Angin

Indonesia merupakan daerah monsoon yang terletak antara benua Asia dan Australia. Pengaruh angin passat timur laut dan angin passat tenggara tidak begitu jelas terutama untuk wilayah Indonesia Barat. Monsoon adalah keadaan musim dimana dalam musim panas angin permukaan berhembus dari seperempat penjuru angin (Barat-Utara) secara mantap (arah angin terbanyak > 40%) dan pada musim dingin arah angin berbalik dari seperempat penjuru angin yang lainnya (Timur-Selatan).

Pada bulan Desember, Januari dan Pebruari (musim dingin di belahan bumi utara) terdapat tekanan tinggi di Asia dan pusat tekanan rendah di Australia menyebabkan angin yang berhembus di Indonesia pada umumnya angin barat (west monsoon). Sebaliknya pada bulan Juni, Juli dan Agustus terjadi pusat tekanan rendah di Asia (musim panas di belahan bumi utara) dan pusat tekanan tinggi di Australia yang menyebabkan angin yang berhembus di Indonesia adalah angin timur (east monsoon).

Pada bulan Maret angin barat masih berhembus tapi kecepatan dan kemantapannya makin berkurang. Pada bulan April dan Mei arah angin tidak menentu/berubah-ubah dan periode ini dikenal sebagai musim peralihan atau pancaroba, demikian pula dengan bulan Oktober dan Nopember.

Kecepatan angin di sebagian besar wilayah Indonesia relatif rendah. Selama musim hujan angin didominasi oleh angin barat, kecepatan angin barat daya di pantai utara Jawa antara 1,9-2,4 m/detik. Selama musim kemarau kecepatan angin berasal dari timur sekitar 1,8 m/detik. Angin yang tidak menentu dengan kecepatan angin 1,1 m/detik terjadi dalam bulan April. Di Sumatera Utara angin barat berhembus dengan kencang sekitar 3-4 m/detik terutama pada bulan Juni sampai September di daerah celah pegunungan. Di Jakarta kecepatan angin bervariasi antara 1,7 m/detik pada pagi hari sampai 2,3 m/detik pada sore hari, sedangkan pada malam hari hanya 0,5 m/detik. Di Yogyakarta kecepatan angin rata-rata 0,8 m/detik. Di Jawa Timur kecepatan angin di pesisir dapat mencapai 4 m/detik pada siang hari. Bahkan pada malam hari kecepatan angin masih cukup kencang yaitu antara 3-4 m/detik, khususnya pada musim kemarau.

Sifat monsoon dari tahun ke tahun tidaklah sama baik arah, kecepatan maupun sifat udara yang dibawanya. Demikian pula keadaan cuaca yang ditimbulkan juga tidak sama, ada tahun yang lebih basah dari tahun ke tahun cukup bervariasi.

Suhu

Suhu di Indonesia memperlihatkan variasi musiman yang relatif kecil. Di sebelah utara ekuator suhu rata-rata bulanan mencapai maksimal sekitar bulan Mei dan suhu bulanan rata-rata bulanan terendah pada bulan Desember dan Januari. Di sebelah selatan ekuator suhu maksimum pertama terlihat pada bulan April-Mei dan maksimum kedua terjadi di akhir musim kemarau yaitu bulan Oktober. Meskipun ada variasinya tetapi rata-rata suhu bulanan hanya berkisar 25,2°C (Medan, Januari) dan 27,9°C (Kupang, Oktober). Suhu maksimum menunjukkan puncak-puncaknya pada April-Juli di wilayah utara ekuator sedangkan di selatan ekuator suhu siang hari tertinggi tercatat pada September sampai Nopember dengan puncak kedua April-Mei. Dalam bulan Juni dan Juli suhu maksimum bulanan rata-rata relatif rendah di sebelah selatan ekuator terutama oleh karena arus tenggara yang dingin, tetapi dalam bulan Januari dan Pebruari suhu malam hari relatif rendah oleh karena jumlah curah hujan yang cukup banyak.

Suhu minimum di wilayah pantai tidak banyak menunjukkan variasi seperti di daerah ekuator , tetapi ke arah tenggara temperatur minimum turun dalam periode Mei-Agustus. Di Pontianak temperatur minimum sepanjang tahun di sekitar 24
°C, di Kupang suhu minimum sekitar 24°C dalam bulan Desember-Januari (berawan, hujan banyak terjadi, radiasi matahari sedikit) tetapi suhu tersebut turun sampai 21°C dalam bulan Juli-Agustus (langit cerah).

Suhu udara sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut dan jarak dari pantai. Sebagai contoh di Pusakanegara (daerah pantai) mempunyai suhu maksimum 32
°C dan minimum 22°C, sedangkan di Mojowarno (inland plain) suhu maksimum mencapai 33°C pada bulan Oktober dan minimum hampir 20°C pada Juli-Agustus. Suhu kisaran harian di pantai antara 6-9°C sedangkan di pedalaman (inland plain) antara 8-12°C.


Tabel 1. Rata-rata suhu maksimum dan minimum pada beberapa ketinggian tempat °C
 
Radiasi Total dan Lama Penyinaran Matahari

Variasi tahunan disebabkan oleh variasi deklinasi matahari dan perubahan cuaca dengan adanya perubahan monsoon, oleh karena itu terdapat dua nilai minimum. Pertama dalam bulan Desember sampai dengan Pebruari pada waktu angin monsoon barat daya dengan kedudukan matahari jauh di selatan dan yang kedua pada bulan Juni sewaktu kedudukan matahari berada jauh di utara. Radiasi maksimum dalam bulan September pada waktu matahari berada di atas Jawa yang bertepatan dengan langit cerah.

Lama penyinaran matahari telah dilakukan pengukuran sejak tahun 1888 dengan menggunakan pencatat Jordan. Umumnya alat ini digunakan untuk menghitung keadaan cahaya matahari yang cerah antara pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00 dengan maksud lindungan gunung tidak mengganggu lama penyinaran yang akatual terutama pada wilayah lereng gunung. Alat pengukur tipe Campbell Stokes sekarang telah digunakan untuk menghitung persentase lama penyinaran matahari yangdihitung dengan membagi lama penyinaran yang tercatat pada kertas pias Campbell Stokes dibagi dengan angka 8 tanpa melihat waktu dalam satu tahun.

Penerimaan radiasi surya di Indonesia berkisar antara 278 (Cipanas) sampai 427 cal/cm
2/hari (Langrang). Pada musim hujan penerimaan radiasi surya berkisar antara 208 (Cipanas) sampai 431 cal/cm2/hari (Langrang), sedangkan pada musim kemarau berkisar 323-454 cal/cm2/hari.

Kelembapan Relatif

Kelembapan udara di Indonesia pada umumnya di atas 90%. Pada musim hujan kelembapan udara di siang hari di daerah pantai sekitar 80-85% sedangkan pada musim kemarau turun menjadi sekitar 70% dan pada musim kemarau pada siang hari di daerah pedalaman kelembapan turun sampai 55%.

Evaporasi

Evaporasi di Indonesia untuk daerah dataran rendah bervariasi antara 4 mm/hari pada musim hujan sampai 5 mm/hari pada musim kemarau. Namun di daerah yang lebih kering evaporasi dari panci klas A mencapai 6,5 mm/hari pada akhir musim kemarau.

Dari panci evaporasi tipe klas A diketahui bahwa sangat kuat hubungan dengan radiasi total seperti halnya suhu. Evaporasi harian di Yogyakarta dengan ketinggian 137 m dpl rerata 4,5 mm/hari. Di Cipanas pada ketinggian 1100 m dpl bervariasi dari lebih kecil ketimbang 3 mm/hari dalam musim hujan sampai 4,6 mm/hari dalam musim kemarau. Di Muara yang berlokasi pada ketinggian 250 m dpl evaporasi dalam musim hujan sekitar 3,3 mm/hari dan 4,6 mm/hari dalam musim kemarau.

Sumber :

Anonim. 1999. Kapita Selekta Agroklimatologi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan IPA. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Gusti Rusmayadi. 2002. Klimatologi Pertanian. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.

Sri Hartati Soenarmo. 2001. Meteorologi Tropis. Departemen Geofisika dan Meteorologi ITB. Bandung.

Sukardi Wisnusubroto. 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitra Gama Widya. Yogyakarta.

Minggu, 30 November 2008

SYARI'AT ISLAM TENTANG PREDIKSI DAN PRAKIRAAN CUACA BMG

MediaMuslim.Info - Prediksi dan perakiraan cuaca yang biasa dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika atau badan-badan lainnya yang sejenis bukanlah termasuk ilmu ghaib, tetapi hal itu merupakan penelitian ilmiah tentang keadaan cuaca, angin, awan dan sejenisnya. Penelitian ilmiah modern tentang masalah tersebut mengisyaratkan bahwa indikasi kebenaran cuaca bisa mencapai 90% apabila masih sehari atau dua hari, namun apabila sudah mencapai lebih dari dua hari maka indikasi kebenarannya menurun seperti 60% untuk kebenaran prakiraan cuaca dalam waktu lima hari lagi.

Apabila masalahnya demikian, maka kita dapat memahami bahwa prakiraan tersebut hanya dapat diperoleh melalui hasil penelitian tentang seluk beluk cuaca. Contoh sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu apabila kita melihat awan di langit mendung gelap, gemuruh, petir menyambar, maka kita dapat memprediksikan bahwa itu pertanda hujan akan turun. Sejenis itulah yang dipelajari oleh BMG. Semua prakiraan ini hukumnya boleh-boleh saja dalam pandangan sya'i.

Namun perlu diperhatikan dua hal penting berikut; Pertama adalah harus diyakini bahwa prediksi cuaca tersebut tergantung kepada kehendak Allah, karena betapa banyak prakiraan cuaca di berbagai negara dan kota yang meleset dari perkiraannya. Dahulu, diberitakan oleh Ibnul 'Ammad al-Hanbali dalam Syadzarat Adz-Dzahab 2/199 tentang peristiwa tahun 289 H: "Pada tahun tersebut, manusia shalat Ashar pada hari Arafah dengan pakaian musim panas, kemudian angin bertiup kencang, cuaca menjadi sangat dingin, hingga mereka harus menghangatkan badan dengan api dan airpun menjadi salju"

Hal yang kedua adalah prediksi cuaca seperti ini bukanlah termasuk ilmu ghaib sedikitpun, karena dasarnya adalah penelitian ilmiah seperti yang telah dijelaskan diatas, hasil suatu penelitian kadang benar dan kadang salah. Oleh karena itu, maka tidak boleh bagi seorangpun untuk memastikannya, baik yang memberikan informasi maupun yang menerima informasi. Prakiraan cuaca hanyalah sekedar sebagai prakiraan dan jaga-jaga saja, yang sangat berguna untuk keperluan manusia dalam bidang transportasi, pertanian, perkebunan, nelayan dan sebagainya.

Jadi tidak ada kontradiksi antara fenomena prediksi cuaca dengan ayat Al-Quran yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS Luqman: 34)

Karena prediksi tersebut bukanlah termasuk ilmu ghaib, tetapi diperoleh dari hasil penelitian tentang keadaan cuaca, yang bisa benar dan bisa salah. Dan semua itu tetaplah bergantung kepada keputusan Allah. Oleh karena itu, seseorang dilarang untuk memastikan dalam prediksi dan prakiraan cuaca tersebut.

(Sumber Rujukan: Fatawa Lajnah Daimah 1/635, Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin 5/271-272, Ahkam Syita' hal 9-10 oleh Asy-Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi)

Minggu, 23 November 2008

INSTRUMENTASI KLIMATOLOGI

Menentukan iklim suatu daerah diperlukan data yang telah terkumpul lama, hasil dari pengukuran alat ukur khusus yang disebut instrumentasi klimatologi. Instrumentasi tak jauh beda bahkan kadang sama dengan instrumentasi meteorologi. Alat-alat ini harus tahan setiap waktu terhadap pengaruh-pengaruh buruk cuaca sehingga ketelitiannya tidak berubah. Pemeliharaan alat akan membuat ketelitian yang baik pula sehingga pengukuran dapat dipercaya. Data yang terkumpul untuk iklim diperlukan waktu yang lama, tak cukup satu tahun bahkan 10-30 tahun.

Pemasangan alat di tempat terbuka memerlukan persyaratan tertentu tertentu agar tak salah ukur misalnya dipikirkan tentang halangan berupa bangunan-bangunan dekat alat ataupun pepohonan. Alat-alat pengukur memerlukan penetapan waktu tertentu mengikuti prosedur tertentu yang sama di semua tempat. Maksudnya agar data dapat dibandingkan sehingga perbedaan data bukanlah akibat kesalahan prosedur tapi betul-betul karena iklimnya berbeda. Jadi perlu keseragaman dalam: peralatan, pemasangan alat, waktu pengamatan dan pengumpulan data.

Alat-alat yang umum digunakan di stasiun klimatologi data cuaca menghasilkan data yang makro. Alat-alat terbagi dua golongan, manual dan otomatis (mempunyai perekam). Unsur-unsur iklim yang diukur adalah: radiasi surya, suhu udara dan suhu tanah, kelembapan udara, curah hujan, evaporasi dan angin.


RADIASI

Alat ukur radiasi umumnya dua tipe:
1) pengukur jumlah energi radiasi (Cal/cm2/waktu)
2) pengukur lamanya penyinaran surya (jam).

Tipe pertama contohnya :

Aktinograf

Berperekam atau otomatis mengukur setiap saat pada siang hari radiasi surya yang jatuh ke alat. Sensor atau yang peka bila kena sinar surya terdiri atas bimetal (dwilogam) berwarna hitam mudah menyerap radiasi surya. Panas karena radiasi yang diserap ini membuat bimetal melengkung. Besarnya lengkungan sebanding radiasi yang diterima sensor. Lengkungan ini disampaikan secara mekanis ke jarum penulis di atas pias yang berputar menurut waktu. Hasil rekaman sehari ini berbentuk grafik. Luas grafik/integral dari grafik sebanding dengan jumlah radiasi surya yang ditangkap oleh sensor selama sehari.



Gun Bellani

Prinsip alat adalah menangkap radiasi pada benda berbentuk bola sensor. Panas yang timbul akan menguapkan zat cair dalam bola hitam. Ruang uap zat cair berhubungan dengan tabung kondensasi. Uap zat cair yang timbul akan dikondensasi dalam tabung berbentuk buret yang berskala. Banyaknya air kondensasi sebanding dengan radiasi surya diterima oleh sensor dalam sehari. Pengukuran dilakukan sekali dalam 24 jam, yaitu pada pagi hari dibandingkan dengan alat yang pertama hasilnya lebih kasar.

Campbell Stokes

Prinsip alat adalah pembakaran pias. Panjang pias yang terbakar dinyatakan dalam jam. Alat ini mengukur lama penyinaran surya. Hanya pada keadaan matahari terang saja pias terbakar, sehingga yang terukur adalah lama penyinaran surya terang.

Pias ditaruh pada titik api bola lensa. Pembakaran pias terlihat seperti garis lurus di bawah bola lensa. Kertas pias adalah kertas khusus yang tak mudah terbakar kecuali pada titik api lensa.

Alat dipasang di tempat terbuka, tak ada halangan ke arah Timur matahari terbit dan ke barat matahari terbenam. Kemiringan sumbu bola lensa disesuaikan dengan letak lintang setempat. Posisi alat tak berubah sepanjang waktu hanya pemakaian pias dapat diganti-ganti setiap hari. Ada 3 tipe pias yang digunakan pada alat yang sama:

* Pias waktu matahari di ekuator
* Pias waktu matahari di utara
* Pias waktu matahari di selatan

SUHU

Setiap benda yang perubahan bentuknya sebagai fungsi dari suhu dapat digunakan sebagai thermometer. Perubahan bentuk ini akibat pemuaian thermal. Pada umumnya yang dipakai dalam instrumen klimatologi adalah air raksa dalam tabung kapiler gelas.

Termometer Maksimum

Ciri khas dari termometer ini adalah terdapat penyempitan pada pipa kapiler di dekat reservoir. Air raksa dapat melalui bagian yang sempit ini pada suhu naik dan pada suhu turun air raksa tak bisa kembali ke reservoir, sehingga air raksa tetap berada posisi sama dengan suhu tertinggi. Setelah dibaca posisi ujung air raksa tertinggi, air raksa dapat dikembalikan ke reservoir dengan perlakuan khusus (diayun-ayunkan). Termometer maksimum diletakkan pada posisi hampir mendatar, agar mudah terjadi pemuaian . Pengamatan sekali dalam 24 jam.

Termometer minimum

Mengukur suhu udara ekstrim rendah. Zat cair dalam kapiler gelas adalah alkohol yang bening. Pada bagian ujung atas alkohol yang memuai atau menyusut terdapat indeks. Indeks ini hanya dapat didorong ke bawah pada suhu rendah oleh tegangan permukaan bagian ujung kapiler alkohol. Bila suhu naik alkohol memuai, indeks tetap menunjukkan posisi suhu terendah.

Setelah ujung indeks yang dekat miniskus alkohol dibaca dan dicatat, dengan perlakuan khusus indeks dikembalikan mendekati miniskus alkohol. Posisi termometer pada waktu mengukur hampir sama dengan termometer maksimum yaitu agak mendatar. Perlu diperhatikan bahwa kapiler alkohol harus dalam keadaan bersambung, tidak boleh terputus-putus. Bila kapiler alkohol terputus, termometer tidak boleh lagi dipakai sebagai alat pengukur suhu, harus dibetulkan terlebih dahulu, Pengamatan sekali dalam 24 jam.

Termometer biasa

Mengukur suhu udara sesaat, zat cair yang digunakan adalah air raksa. Umumnya termometer ini disebut termometer bola kering yang dipasang berdampingan dengan termometer bola basah. Kedua termometer ini dipasang dalam keadaan tegak. Semua termometer pengukur suhu udara pada waktu pengukuran berada di dalam sangkar cuaca. Maksudnya adalah termometer tidak dipengaruhi radiasi surya langsung maupun radiasi dari bumi. Kemudian terlindung dari hujan ataupun angin kencang. Warna sangkar cuaca putih menghindari penyerapan radiasi surya. Panas ini dapat mempengaruhi pengukuran suhu udara.

Termometer tanah

Prinsipnya hampir sama dengan termometer biasa, hanya bentuk dan panjangnya berbeda. Pengukuran suhu tanah lebih teliti daripada suhu udara. Perubahannya lambat sesuai dengan sifat kerapatan tanah yang lebih besar daripada udara.

Suhu tanah yang diukur umumnya pada kedalaman 5 cm, 10 cm, 20 cm, 50 cm dan 100 cm. Macam alat disesuaikan dengan kedalaman yang akan diukur. Termometer tanah untuk kedalaman 50 cm dan 100 cm bentuknya berbeda dengan kedalaman lain. Termometer berada dalam tabung gelas yang berisi parafin, kemudian tabung diikat dengan rantai lalu diturunkan dalam selongsong tabung logam ke dalam tanah sampai kedalaman 50 cm atau 100 cm. Pembacaan dilakukan dengan mengangkat termometer dari dalam tabung logam, kemudian dibaca. Adanya parafin memperlambat perubahan suhu ketika termometer terbaca di udara. Termometer tanah pada kedua kedalaman ini bila meruapakan suatu kapiler yang panjang dari mulai permukaan tanah, mudah sekali patah apabila tanah bergerak turun atau pecah karena kekeringan.

KELEMBAPAN

Ada beberapa tipe dan prinsip kerja alat pengukur kelembapan udara. Pada umumnya alat yang digunakan adalah psikrometer. Alat ini terdiri dari dua termometer yang disebut termometer bola basah dan termometer bola kering. Kelembapan udara sebanding dengan selisih kedua termometer yang dapat dicari melalui tabel atau rumus. Alat pengukur kelembapan lain adalah sensor rambut. Prinsipnya bila udara lembab rambut bertambah panjang dan udara kering rambut menyusut. Perubahan panjang ini secara mekanis dapat ditransfer ke jarum penunjuk pada skala antara 0 sampai 100 %. Alat pengukur kelembapan udara tipe ini disebut higrometer.

Termohigrograf

Menggunakan prinsip dengan sensor rambut untuk mengukur kelembapan udara dan menggunakan bimetal untuk sensor suhu udara. Kedua sensor dihubungkan secara mekanis ke jarum penunjuk yang merupakan pena penulis di atas kertas pias yang berputar menurut waktu. Alat dapat mencatat suhu dan kelembapan setiap waktu secara otomatis pada pias. Melalui suatu koreksi dengan psikrometer kelembapan udara dari saat ke saat tertentu.




Psikrometer standar

Alat pengukur kelembapan udara terdiri dari dua termometer bola basah dan bola kering. Pembasah termometer bola basah harus dijaga agar jangan sampai kotor. Gantilah kain pembasah bila kotor atau daya airnya telah berkurang. Dua minggu atau sebulan sekali perlu diganti, tergantung cepatnya kotor. Musim kemarau pembasah cepat sekali kotor oleh debu. Air pembasah harus bersih dan jernih. Pakailah air bebas ion atau aquades. Air banyak mengandung mineral akan mengakibatkan terjadinya endapan garam pada termometer bola basah dan mengganggu pengukuran. Waktu pembacaan terlebih dahulu bacalah termometer bola kering kemudian termometer bola basah. Suhu udara yang ditunjukkan termometer bola kering lebih mudah berubah daripada termometer bola basah. Semua alat pengukur kelembapan udara ditaruh dalam sangkar cuaca terlindung dari radiasi surya langsung atau radiasi bumi serta hujan.

CURAH HUJAN

Alat pengukur hujan, mengukur tinggi hujan seolah-olah air yang jatuh ke tanah menumpuk ke atas merupakan kolom air. Bila air yang tertampung volumenya dibagi dengan luas corong penampung maka hasilnya dalah tinggi. Satuan yang dipakai adalah milimeter (mm).

Penakar hujan yang baku digunakan di Indonesia adalah tipe observatorium. Semua alat penakar hujan yang beragam bentuknya atau yang otomatis dibandingkan dengan alat penakar hujan otomatis (OBS). Penakar hujan OBS adalah manual. Jumlah air hujan yang tertampung diukur dengan gelas ukur yang telah dikonversi dalam satuan tinggi atau gelas ukur yang kemudian dibagi sepuluh karena luas penampangnya adalah 100 cm sehingga dihasilkan satuan mm. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari. Hujan yang diukur pada pagi hari adalah hujan kemarin bukan hari ini.




Penakar hujan Hellman

Alat ini merupakan penakar hujan otomatis dengan tipe siphon. Bila air hujan terukur setinggi 10 mm, siphon bekerja mengeluarkan air dari tabung penampungan dengan cepat, kemudian siap mengukur lagi dan kemudian seterusnya. Di dalam penampung terdapat pelampung yang dihubungkan dengan jarum pena penunjuk yang secara mekanis membuat garis pada kertas pias posisi dari tinggi air hujan yang tertampung. Bentuk pias ada dua macam, harian dan mingguan. Pada umumnya lebih baik menggunakan yang harian agar garis yang dibuat pena tidak terlalu rapat ketika terjadi hujan lebat. Banyak data dapat dianalisadari pias, tinggi hujan harian, waktu datangnya hujan, derasnya hujan atau lebatnya hujan per satuan waktu.

Penakar hujan Bendix


Penakar hujan otomatis, prinsip secara menimbang air hujan yang ditampung. Melalui cara mekanis timbangan ini ditransfer ke jarum petunjuk berpena di atas kertas pias.








Penakar hujan Tilting Siphon

Prinsip alat, air hujan ditampung dalam tabung penampung. Bila penampung penuh, tabung menjadi miring dan siphon mulai bekerja megeluarkan air dari dalam tabung. Setiap pergerakan air dalam tabung penampung tercatat pada pias sama seperti alat penakar hujan otomatis lainnya.







Penakar hujan Tipping Bucket

Prinsip alat, air hujan ditampung pada bejana yang berjungkit. Bila air mengisi bejana penampung yang setara dengan tinggi hujan 0,5 mm akan berjungkit dan air dikeluarkan. Terdapat dua buah bejana yang saling bergantian menampung air hujan. Tiap gerakan bejana berjungkit secara mekanis tercapat pada pias atau menggerakkan counter (penghitung). Jumlah hitungan dikalikan dengan 0,5 mm adalah tinggi hujan yang terjadi. Curah hujan di bawah 0,5 mm tidak tercatat.




Semua alat penakar hujan di atas harus diperhatikan penempatannya di lapangan terbuka bebas dari halangan. Alat yang teliti dengan menempatkan yang salah akan mengukur besaran yang salah pula. Alat yang otomatis, pemeliharaannya harus lebih intensif. Keadaan alat baik yang manual ataupun yang otomatis harus diperiksa dari kebocoran, saluran penampung yang tersumbat kotoran, tinta pena jangan sampai kering dan jam pemutar silinder pias dalam keadaan berjalan dengan baik.


EVAPORASI

Pengukuran air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur untuk mengetahui keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah hujan dan air yang hilang melalui evaporasi. Alat pengukur evaporasi yang paling banyak digunakan sekarang adalah Panci kelas A. Evaporasi yang diukur dengan panci ini dipengaruhi oleh radiasi surya yang datang, kelembapan udara, suhu udara dan besarnya angin pada tempat pengukuran. Ada dua macam peralatan pengukur tinggi muka air dalam panci. Pertama alat ukur micrometer pancing dan yang kedua alat ukur ujung paku yang dipasang tetap (fixed point). Kesalahan yang besar dari pengukuran evaporasi terletak pada tinggi air dalam panci. Oleh sebab itu muka air selamanya harus dikembalikan pada tinggi semula yaitu 5 cm di bawah bibir panci. Makin rendah muka air dalam panci, makin rendah pula terjadinya penguapan. Kejernihan air dalam panci perlu diperhatikan. Air yang keruh, evaporasi yang terukur akan rendah pula. Usahakan air jangan sampai berlumut. Tinggi air diukur dengan satuan mm. Alat ukur mikrometer mampu mengukur dalam mm dengan ketelitian seperti seratus mm. Ketelitian pengukuran itu diperlukan karena tinggi yang diukur tidak sama besar meliputi 5 sampai 8 mm. Pada musim penghujan nilainya kecil sedangkan pada musim kemarau besar. Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam ketika pagi hari. Pengamat yang setiap hari mengukur evaporasi harus mempunyai keterampilan dan kejelian melihat batas air yang diukur. Alat perlengkapannya adalah tabung peredam, termometer maksimum-minimum permukaan air yang tertampung, termometer maksimum-minimum di permukaan panci dan anemometer cup counter setinggi 30 cm di atas tanah. Sekeliling panci harus ditumbuhi rumput pendek. Permukaan tanah yang terbuka atau gundul menyebabkan evaporasi yang terukur tinggi (efek oase). Pasanglah alat pada tempat yang terbuka tidak terhalang oleh benda-benda lain dan berada di tengah-tengah lapang rumput dari stasiun klimatologi.

ANGIN

Angin merupakan suatu vektor yang mempunyai besaran dan arah. Besaran yang dimaksud adalah kecepatannya sedang arahnya adalah darimana datangnya angin. Kecepatan angin dapat dihitung dari jelajah angin (cup counter anemometer) dibagi waktu (lamanya periode pengukuran). Ada alat pengukuran angin yang langsung mengukur kecepatannya. Jadi jarum penunjuk suatu kecepatan tertentu bila ada angin. Arah angin ditunjukkan oleh wind-vane yang dihubungkan dengan alat penunjuk arah mata angin atau dalam angka. Angka 360 derajat berarti ada angin dari utara, angka 90 ada angin dari timur demikian seterusnya.

Perlu diperhatikan bahwa tidak ada angka nol, karena angka nol menandakan tak ada angin. Mengukur arah angin haruslah ada angin atau cup counter anemometer dalam keadaan bergerak. Sebagaimana alat lainnya pemasangan alat di lapang terbuka penting sekali karena mempengaruhi besaran yang akan diukur. Di lapangan terbuka tak ada pohon-pohonan tinggi alat dipasang 2 meter di atas tanah. Bila ada halangan, alat dipasang pada ketinggian 10 sampai 15 meter dari atas tanah. Waktu pengamatan tergantung dari data yang diinginkan. Bila data harian, pengamatan sekali dalam 24 jam untuk jelajah angin yaitu pada pagi hari.

Waktu pengamatan arah angin lebih dari sekali dalam 24 jam. Arah yang paling banyak ditunjuk dalam 24 jam merupakan arah rata-rata dalam hari tersebut.

Sensor yang menghubungkan dengan alat mencatat otomatis disebut anemograf. Alat ini mencatat kecepatan dan arah angin setiap saat pada kertas pias. Alat pencatat ini ada yang harian, mingguan ataupun bulanan.

Sumber :
Anonim. 1991. Kapita Selekta dalam Agrometeorologi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Sabtu, 15 November 2008

BANYAK GEMPA BUMI DAN KEMATIAN MENDADAK

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, katanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak akan datang Kiamat sehingga banyak terjadi gempa bumi" [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan 13 : 81-82]


Dan diriwayatkan dari Salamah bin Nufail As-Sukuni, Ia berkata : Kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau menyebutkan suatu hadits yang antara lain isinya :

"Artinya : Sebelum terjadinya hari Kiamat akan terdapat kematian-kematian yang mengerikan, dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi" [Musnad Imam Ahmad 4 : 104 dengan catatan pinggir Muntakhab Al-Kanz. Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Al-Bazaar, dan Abu Ya'ala dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan" Majmu'uz Zawa'id 7 : 306]


Ibnu Hajar berkata, "Telah banyak terjadi gempa bumi di negara-negara bagian utara, timur dan barat, tetapi yang dimaksud oleh hadits ini ialah gempa bumi secara merata dan terus menerus" [Fathul Bari 13 : 87]. Hal ini diperhatikan dengan riwayat Abdullah bin Hawalah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah meletakkan tangan beliau di kepala saya, lalu beliau bersabda.

"Artinya : Wahai putra Hawalah, jika engkau melihat perselisihan telah terjadi di tanah suci, maka telah dekat terjadinya gempa-gempa bumi, bala bencana, dan perkara-perkara yang besar, dan hari Kiamat pada waktu itu lebih dekat kepada manusia dari pada kedua tanganku ini terhadap kepalamu" [Musnad Ahmad, 5 : 188 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul 'Ummal, 'Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abu Daud, Kitab Al-Jihad, Bab Fi-Ar-Rajuli Taghzuu wa yaltamisu Al-Ajra wa Al-Ghanimah 7 : 209-210, Mustadrak Al-Hakim 4 : 425, dan beliau berkata, "Ini adalah hadits yang shahih isnadnya, hanya saja Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya". Perkataan Al-Hakim ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dan Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam shahih Al-Jami'ush Shagir 6 : 263, hadits nomor 7715]


Diriwayatkan secara marfu' dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari Kiamat ialah banyak terjadi kematian secara mendadak". [Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shagir dan Al-Ausath dari gurunya Al-Haitsam bin Khalid Al-Mashishi, sedangkan dia itu dhaif". Majma'uz-Zawaid 7 : 325, Al-Albani berkata, "Hasan" Dan beliau menyebutkan orang-orang yang meriwayatkannya, yaitu Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Adh-Dhiya' Al-Maqaddasi. Lihat : Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 5 : 214, hadits nomor 5775]


Ini merupakan kejadian yang sudah dapat disaksikan pada masa sekarang di mana banyak terjadi kematian mendadak pada manusia. Maka anda dapat menyaksikan seseorang yang tadinya sehat dan segar bugar, tiba-tiba ia mati secara mendadak, yang sekarang diistilahkan dengan kegagalan jantung atau serangan jantung. Karena itu bagi orang yang berakal sehat, hendaklah ia sadar dan kembali serta bertaubat kepada Allah Ta'ala sebelum datangnya kematian secara mendadak.

Imam Bukhari Rahimahullah pernah berkata :

"Peliharalah keutamaan ruku'mu pada waktu senggang

Sebab, boleh jadi kematianmu akan datang

Secara tiba-tiba

Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar

Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba"

Ibnu Hajar berkata : "Sungguh ajaib, bahwa kematian secara mendadak ini juga menimpa beliau “Imam Bukhari- sendiri' [Hadyus-Sari Muqaddimah Fathul Bari, halaman 481, oleh Al-Hafizh Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalani, dengan ikhraj dan tashhih oleh Muhibbuddin Al-Khatib, dicetak oleh Qushay Muhibuddin Al-Khathib, dipublikasikan dan dibagi-bagikan oleh Riasah Idaaratil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta'. Riyadh]


Sumber : Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA

Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com

Rabu, 08 Oktober 2008

BANJIR DI TANAH LAUT TAHUN 2008

Keberadaan pegunungan Meratus tengah-tengah Kalimantan berakibat terbentuknya beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS bagian barat, timur dan selatan pegunungan Meratus. Kabupaten Tanah Laut (Tala) termasuk dalam bagian selatan. Ada tujuh sistem DAS di Tala, semuanya bermuara langsung ke laut Jawa. Tetapi hanya lima DAS yang selalu menimbulkan banjir pada musim penghujan, yaitu DAS Kintap, Asam-Asam, Jorong, Tabanio dan Maluka. Kelima DAS tersebut berhulu di Pegunungan Meratus.

Banjir yang dari tahun ke tahun makin besar membuktikan kondisi DAS telah mengalami degradasi akibat ulah sebagian masyarakat yang tidak memperhatikan lingkungan. Faktor iklim memang juga sebagai penyebab banjir, karena saat itu hujan memang terlalu tinggi. Tapi data hujan selama 25 tahun terakhir tak menunjukkan perubahan yang signifikan, sehingga iklim merupakan faktor yang tetap. Demikian penjelasan dari akademisi Fakultas Kehutanan Unlam Suyanto, dalam kolom opini Banjarmasin Post 20-9-2008. Banjir yang terbesar terjadi di Tanah Laut terjadi pada tanggal 25-8-2008 (B.Post 26-8-2008). Beliau menyarankan adanya upaya jangka panjang merehabilitasi vegetasi non hutan terutama di bagian DAS hulu yang berlereng curam dan sangat curam, revisi peta tata ruang (RTRWK) yang ada dan membatasi pembukaan lahan seperti kebun kelapa sawit, pertambangan dan penguasaan hutan. Sedangkan jangka pendeknya dengan menambah gorong-gorong di sekitar dan normalisasi sungai seperti kanalisasi dan sodetan.

Menurut Irman Sonjaya forecaster Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Banjarbaru (B.Post, 26-8-08), wilayah Tanah Bumbu sampai ke perbatasan Tanah Laut merupakan daerah bercurah hujan tinggi. Kondisi geografis di daerah tersebut berbeda dengan daerah lain di Kalimantan Selatan. Spesifikasi di wilayah tersebut dikelilingi pegunungan Meratus yang menghambat laju angin sehingga membuat pertumbuhan awan berpotensi hujan mudah terjadi. Saat itu pergerakan angin di Kalimantan Selatan berasal dari wilayah tenggara. Kecepatan tak begitu kencang sehingga tak mampu melewati pegunungan Meratus. Akibatnya awan berpotensi hujan terjebak di wilayah tersebut. Berdasarkan foto satelit kondisi cuaca di Kalimantan Selatan diselimuti hujan namun di Tanah Bumbu-Tanah Laut intensitasnya jauh lebih tinggi. Makanya wilayah perbatasan Tanah Bumbu-Tanah Laut terjadi banjir karena luapan air sungai yang tak mampu menampung hujan lebat.

Minggu, 28 September 2008

RUANG LINGKUP KLIMATOLOGI

Handoko (1995) menyatakan untuk dapat memahami cuaca dan iklim serta persebarannya menurut ruang dan waktu diperlukan dasar pengetahuan fisika atmosfer, pemahaman geografi serta statistika dan matematika untuk menyederhanakan kerumitan proses-proses tersebut. Cuaca dan iklim dinyatakan dengan susunan unsur-unsur cuaca dan iklim yang terdiri dari: radiasi surya, lama penyinaran surya, suhu udara, kelembapan udara, tekanan udara, kecepatan dan arah angin, penutupan awan, presipitasi (embun, hujan dan salju) dan evaporasi/evapotranspirasi.

Cuaca (wheather) adalah nilai sesaat dari atmosfer serta perubahan dalam jangka pendek (kurang dari 1 jam hingga 24 jam) di suatu tempat tertentu di bumi. Cuaca dicatat terus-menerus pada jam-jam tertentu secara rutin, menghasilkan seri data cuaca selanjutnya yang dapat digunakan untuk menentukan iklim.


Iklim (climate) adalah sintesis/kesimpulan dari perubahan unsur-unsur cuaca (hari demi hari dan bulan demi bulan) dalam jangka waktu yang panjang di suatu tempat pada suatu wilayah. Setelah bertahun-tahun (30 tahun tahun atau lebih) dari rata-rata tiap nilai unsur-unsur cuaca akan mencerminkan sifat atmosfer yang dikenal sebagai iklim. Jadi tiap tempat cuaca hari ke hari berubah-ubah akhirnya membentuk siklus tertentu, rata-rata data cuaca itulah yang nantinya disebut sebagai data iklim. Iklim sering diartikan nilai statistik cuaca jangka panjang di suatu wilayah.


Meteorologi berasal dari kata Yunani meteoros, yang artinya benda yang ada di dalam udara dan logos yang berarti ilmu/kajian. Jadi meteorologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari proses dan gejala cuaca yang terjadi di dalam atmosfer terutama pada lapisan bawah yaitu troposfer. Kajian masalah meteorologi diperlukan dalam pembangunan irigasi, objek wisata, tempat peristirahatan, perkebunan, perikanan, lapangan terbang, pelayaran, proyek industri dan lain sebagainya.


Klimatologi berasal dari kombinasi dua kata Yunani, yaitu klima yang diartikan sebagai kemiringan(slope) bumi yang mengarah pada pengertian lintang tempat dan logos yang berarti ilmu. Jadi klimatologi didefinisikan sebagai ilmu yang memberi gambaran dan penjelasan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat berbeda dan bagaimana kaitan antara iklim dan aktivitas manusia, Secara mudahnya, ilmu iklim/klimatologi yaitu cabang ilmu pengetahuan yang membahas sintesis atau statistik unsur-unsur cuaca hari demi hari dalam periode tertentu (beberapa tahun) di suatu tempat dan wilayah tertentu. Sintesis Klimatologi dapat juga didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari jenis iklim di muka bumi dan faktor penyebabnya. Karena metereologi mencakup interpretasi dan koleksi data pengamatan maka ilmu ini memerlukan teknik statistik. Demikianlah klimatologi dapat pula disebut juga meteorologi statistik.

Pada prinsipnya data iklim harus terbentuk dari data cuaca yang dapat mewakili secara benar (representatif) keadaan atmosfer suatu tempat dan dalam waktu sepanjang mungkin. Data iklim dapat berupa data yang diskontinyu dan data kontinyu. Data yang diskontinyu antara lain radiasi dan lama penyinaran matahari, presipitasi (curah hujan, embun dan salju) dan penguapan. Penyajian dan analisisnya dalam bentuk nilai akumulasi sedangkan penyajian grafiknya dalam bentuk kurva histogram. Data cuaca yang bersifat kontinyu antara lain: suhu, kelembapan, tekanan udara serta kecepatan angin. Analisis dan penyajiannya dalam bentuk angka rata-rata atau angka sesaat (
instantaneous) sedangkan grafiknya dalam bentuk garis/kurva.


Menurut Bayong (2004), Klimatologi dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu klimatologi fisis, klimatologi kedaerahan (regional). Klimatologi fisis mempelajari sebab terjadinya ragam pertukaran panas, pertukaran air dan gerakan udara terhadap waktu dan tempat, sehingga di muka bumi ini terdapat iklim yang berbeda. Klimatologi kedaerahan bertujuan memberikan gambaran (deskripsi) iklim dunia yang meliputi sifat dan jenis iklim, sedangkan klimatologi terapan mencari hubungan klimatologi dengan ilmu lain, misalnya: agroklimatologi: penerapan klimatologi dalam bidang pertanian.

Menurut Handoko (1993), klimatologi dapat dibagi dalam beberapa cabang keilmuan iklim berdasarkan:
  • metode pendekatan keilmuan
  • ruang lingkupnya di atmosfer
  • pemanfaatannya

Berdasarkan pendekatan keilmuannya terdapat 4 cabang klimatologi antara lain:

  1. Klimatografi, pembahasan secara deskriptif (apa adanya) berdasarkan data, peta dan gambar. Pembahasan tak disertai analisis fisika dan matematika yang mendalam. Umumnya dikembangkan oleh pakar geografi.
  2. Klimatologi fisik, adalah klimatologi yang membahas perilaku dan gejala-gejala cuaca yang terjadi di atmosfer dengan menggunakan dasar-dasar ilmu fisika dan matematika. Tinjauannya ditekankan pada neraca energi dan neraca air antara bumi dan atmosfer.
  3. Klimatologi dinamik, adalah klimatologi yang membahas pergerakan atmosfer dalam berbagai skala, terutama tentang peredaran atmosfer umum di berbagai wilayah di seluruh dunia.
  4. Klmatologi terapan, adalah klimatologi yang membahas penerapan ilmu iklim untuk memecahkan berbagai permasalahan praktis yang dihadapi oleh masyarakat. Contoh klimatologi terapan antara lain: klimatologi pertanian (agroklimatologi), klimatologi perkotaan, klimatologi kelautan, klimatologi bangunan dan bioklimatologi.

Berdasarkan ruang lingkup atmosfer yang dibahas, terdapat 3 macam klimatologi dengan rincian sebagai berikut:
Mikroklimatologi, yakni ilmu iklim yang membahas atmosfer sebatas ruang antara perakaran hingga sekitar puncak tajuk tanaman atau sifat atmosfer di sekitar permukaan tanah.

Mesoklimatologi, yaitu klimatologi yang membahas perilaku atmosfer dalam daerah yang relatif sempit, tetapi pola iklimnya sudah berbeda dari iklim di sekitarnya. Sebagai contoh adalah iklim perkotaan dan iklim di daerah badai. Skala iklim meso berkisar antara 0-100 km.

Makroklimatologi, yaitu klimatologi yang menekankan pembahasannya pada penelaahan iklim daerah luas dan skala besar. Wilayah lingkupnya mulai batas ruang iklim mikro hingga puncak atmosfer, serta meliputi seluruh dunia. Faktor pengendali utama massa udara antara benua dan samudra.


Bayong, T.H.K, 2004. Klimatologi. Penerbit ITB. Bandung.
Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. Pustaka Jaya. Jakarta.