Sabtu, 19 September 2009

INFORMASI METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, KUALITAS UDARA DAN GEOFISIKA VIA SMS



Informasi yang update melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bisa didapatkan melalui sms. Layanan ini adalah kerja sama BMKG dengan operator Telkomsel dan Indosat. Layanan sms BMKG menggunakan nomor 2303 sebagai layanan smsnya, dengan tarif Rp. 550/sms. Berikut ini beberapa layanan via sms BMKG dengan mengirimkan ke nomor 2303:

1. Informasi gempa
  • Perintah sms: ketik: ga. Fungsi layanan: Informasi gempa terakhir yang tercatat di BMKG.
  • Ketik: gempa dd/mm/yyy. Fungsi layanan: Info gempa terakhir yang terjadi hari itu.
  • Ketik: gempa namakota. Fungsi layanan: Info gempa terakhir yang terjadi di kota tersebut.
Bila gempa pada tanggal tersebut atau kota tersebut tak ditemukan akan mendapatkan balasan berupa bantuan menu.

2. Informasi cuaca hari ini
  • Perintah sms: ketik: c0 namakota. Fungsi layanan: Info cuaca hari ini di kota tersebut.
  • Ketik: cuaca0 namakota. Fungsi layanan: Info cuaca hari ini di kota tersebut.
3. Informasi cuaca esok hari
  • Perintah sms: ketik: c1 namakota. Fungsi layanan: Info cuaca esok hari di kota tersebut.
  • Ketik: cuaca1 namakota. Fungsi layanan: Info cuaca esok hari di kota tersebut.
4. Informasi iklim
  • Perintah sms: ketik: iklim namawilayah. Fungsi layanan; Info iklim di wilayah tersebut.
5. Informasi kualitas udara
  • Perintah sms: ketik: ku namakota. Fungsi layanan: Info kualitas udara di kota tersebut.
  • Ketik: polusi namakota. Fungsi layanan: Info kualitas udara di kota tersebut.
Bila nama kota tak ditemukan atau keywordnya salah maka akan mendapatkan jawaban bantuan.

Kamis, 03 September 2009

HUJAN BUATAN


Upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghasilkan hujan buatan di Kalimantan Barat belum tercapai, sehingga kabut asap masih menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya(http://www.news.id.finroll.com/news/31 Agustus 2009). Demikian pula yang terjadi di Kalimantan Tengah terkendala karena masalah kerusakan pesawat Cassa 212-200 yang akan digunakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk menyemaikan atau menaburkan garam di awan (Banjarmasin Post, 28 Agustus 2009).

Berikut ini akan penulis jelaskan sedikit tentang bagaimana hujan buatan tersebut semestinya dapat berlangsung:

Sifat awan yang menyebabkan hujan oleh manusia digunakan untuk membuat hujan buatan. Dalam mempercepat hujan, orang memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi (perak dioksida, kristal es, es kering atau CO2 padat). Zat-zat tersebut ditaburkan ke udara dengan menggunakan pesawat terbang. Pembuatan hujan buatan disebut sebagai suatu proses pemodifikasian awan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, terutama NaCl (garam dapur).

Kemarau panjang seperti yang kita alami sekarang memerlukan usaha untuk menghadapi tantangan iklim. Kemarau panjang menyebabkan tanah kering, air sulit diperoleh, sungai mengering sedangkan angin menerbangkan debu-debuan. Tantangan iklim berupa kelangkaan hujan akibat kemarau panjang dapat dilakukan dengan teknologi tinggi berupa hujan buatan. Cara ini tak bisa terus dilakukan sembarangan karena biayanya terlalu mahal. Hujan buatan hanya ditempuh bila keadaan memang keadaan demikian kritis. Apalagi usaha untuk melakukan hujan buatan ini terkadang hasilnya tepat dan terkadang meleset atau tak sesuai dengan yang diharapkan.

Para ahli yang mengetahui terbentuknya awan, terjadinya kondensasi, presipitasi dan lainnya sangat membantu untuk melakukan usaha dan percobaan dalam memodifikasi cuaca untuk mempercepat turunnya hujan. Dalam pembuatan hujan buatan mereka hanya melakukan usaha untuk mendorong dan mempercepat turunnya hujan atau berusaha agar uap air yang telah ada di udara berkondensasi dengan cepat sehingga pembentukan butir-butir air dapat segera berlangsung di awan. Pembentukan butir-butir air tersebut merupakan titik awalnya terjadi hujan.

Usaha ini dilakukan dengan menyebarkan zat kimia atau garam halus ke udara dengan bantuan pesawat terbang. Untuk tahap ini hujan yang diharapkan belum tentu akan turun, karena dilakukan proses lanjutan dengan menyebarkan butir-butiran besar di awan. Butiran tersebut akan bertumbukan dan bergantung dengan butir-butir air ini akan menjadi berat dan akan meninggalkan awan jatuh sebagai hujan.

Di daerah yang beriklim tropis, awannya dapat digolongkan dalam awan panas. Untuk mempercepat timbulnya hujan hanya dapat dilakukan melalui proses pembentukan awan panas secara alami.

Bahan-bahan kimia yang diperlukan

Untuk mempercepat turunnya hujan buatan dengan memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi. Garam-garaman seperti NaCl dan CaCl2 dalam bentuk bubuk dengan diameter 10-50 mikron, ternyata cukup higroskopis jika disebarkan di udara. Garam-garam itu di udara akan berperan sebagai titik pangkal pembentukan uap-uap air pada awan. Pembentukan butir-butir air juga dapat dilakukan dengan penyebaran garam-garaman tersebut.

Tindakan selanjutnya dapat digunakan bubuk urea. Penyebaran bubuk urea dilakukan beberapa jam setelah penyebaran garam-garaman tadi atau setelah tumbuh awan-awan kecil secara berkelompok pada beberapa beberapa tempat. Bubuk urea selain dapat membentuk awan lebih lanjut, juga bersifat endotermi (menyerap panas) yang sangat baik bila bereaksi dengan air atau uap air. Penyebaran bubuk urea di siang hari dapat mendinginkan lingkungan sekitarnya sehingga kelompok-kelompok kecil awan segera bergabung menjadi kelompok-kelompok besar.

Kelompok awan besar biasanya segera terlihat agak kehitam-hitaman artinya awan hujan telah terbentuk. Tindakan berikutnya adalah penyebaran larutan yang berkomposisi air, urea serta amonium nitrat dengan perbandingan 4 : 3 : 1 ke dalam kelompok-kelompok besar awan yang tampaknya hitam. Besarnya larutan yang disebarkan antara 50 u - 100 u dengan menggunakan peralatan mikron air yang dipasang di pesawat. Larutan ini cukup dingin yaitu sekitar 4° C, yang akan mengikat awan dan mudah meresap ke dalam awan, sehingga dapat mendorong pembentukan butir-butir air yang lebih besar karena berat butir-butir air tersebut akan turun dan menimbulkan hujan.

Garam-garaman yang telah disebarkan di udara punya sifat-sifat fisis tertentu, seperti NaCl dan CaCl2 bila bereaksi dengan air dapat mengeluarkan panas, sedangkan urea dapat menyerap panas. Karena itu waktu disebar di udara akan timbul reaksi sebagai berikut:

NaCl + H2O ----> ion-ion + 910 K Cal (eksoterm)
CaCl2 + H2O ---> ion-ion + 915 K Cal (eksoterm)
Urea + H2O ----> ion-ion - 425 K Cal (endoterm)

Sifat garam-garam tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
Sifat NaCl (garam dapur): berbentuk kristal, mudah larut dalam air (36 g/100 ml air daripada 20°C), dalam bentuk bubuk bersifat higroskopis, banyak terdapat di udara (dari air laut), campuran NaCl dengan es cair mencapai -20°C. Sedangkan CaCl2 adalah berbentuk kristal.

Garam dapur yang dimaksud bukanlah garam meja, tetapi adalah garam yang mempunyai sifat higroskopis yang jauh lebih besar daripada garam meja, sehingga garam meja tak dapat digunakan.

Perhitungan waktu yang tepat

Sebelum menyebarkan garam-garaman faktor-faktor klimatologi di daerah itu harus diperhitungkan. Penyebaran dilakukan pada ketinggian 4000-7000 kaki, dengan perhitungan faktor arah angin dan kecepatannya yang akan membawa awan ke daerah sasaran. Penyebaran NaCl dan CaCl2 hendaknya dilakukan pada pagi hari sekitar 07.30, dengan perhitungan karena pembentukan awan berlangsung pada pagi hari (dengan memperhatikan terjadinya penguapan).

Penyebaran bubuk urea biasanya dilakukan sekitar pukul 12.00, dengan perhitungan awan dalam kelompok-kelompok kecil telah terbentuk, sehingga memungkinkan penggabungan awan dalam kelompok besar. Kelompok awan besar yang dimaksud yang dasarnya tampak kehitam-hitaman.

Saat awan besar dengan dasar yang kehitam-hitaman terbentuk, sekitar pukul 15.00 dilakukan penyebaran larutan campuran yang telah dikemukakan di atas. Perhitungannya pada jam-jam tersebut awan telah terbentuk.

Perhitungan lainnya yang harus diperhatikan adalah faktor cuaca yang memenuhi persyaratan, yaitu yang mengandung uap air dengan kelembapan minimal 70%. Kelembapan harus memadai sehingga waktu inti kondensasi (NaCl dan CaCl2) disebarkan akan segera terjadi kondensasi. Kecepatan angin juga di daerah itu sekitar 10 knots dan tak terdapat lapisan inversi di udara.

Jadi kesimpulannya untuk mempercepat turunnya hujan buatan dengan memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi (garam-garaman NaCl dan CaCl2) pada waktu yang tepat.

Sumber :
Ance Gunarsih Kartasapoetra. 2008. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman

Kamis, 20 Agustus 2009

KARAKTERISTIK BENCANA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN, UPAYA MITIGASINYA SERTA BEBERAPA ISTILAH PENTING DALAM MITIGASI BENCANA

Gambar 1. Kebakaran lahan di dekat pemukiman

Kebakaran hutan atau lahan adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang menyebabkan kurang berfungsinya hutan atau lahan dalam menunjang kehidupan yang berkelanjutan sebagai akibat dari penggunaan api yang tidak terkendali maupun faktor alam yang dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan atau lahan.

Penyebabnya di antaranya :
  1. Aktivitas manusia yang menggunakan api di kawasan hutan dan lahan sehingga menyebabkan bencana kebakaran
  2. Faktor alam yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
  3. Jenis tanaman yang sejenis dan memiliki titik bakar yang rendah serta hutan yang terdegradasi menyebabkan semakin rentan terhadap bencana kebakaran.
  4. Angin yang cukup besar dapat memicu dan mempercepat menjalarnya api.
  5. Topografi yang terjal semakin mempercepat dan merembetnya api dari bawah ke atas.
Kebakaran hutan dan lahan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor manusia yang sengaja melakukan pembakaran dalam rangka penyiapan lahan. Di samping itu juga bisa terjadi kebakaran dalam rangka penyiapan lahan. Di samping itu juga bisa terjadi kebakaran akibat kelalaian, serta faktor alam. Kebakaran terjadi karena adanya bahan bakar, oksigen dan panas. Kerusakan lingkungan akibat kebakaran antara lain berupa hilangnya flora dan fauna serta terganggunya ekosistem. Bahkan dapat menyebabkan kerusakan sarana dan prasarana, pemukiman serta korban jiwa manusia. Dampak lebih lanjut akibat asap yang ditimbulkan pada kesehatan manusia terutama gangguan pernafasan serta gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari antara lain terganggunya lalu lintas udara, air dan darat.

Gambar 2. Contoh penanganan kebakaran hutan

Kajian bahaya:
  • Monitoring titik api serta menetapkan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.
  • Prediksi cuaca untuk mengetahui datangnya musim kering/kemarau.
  • Pemetaan daerah rawan bahaya kebakaran berdasarkan kejadian masa lalu dan meningkatnya aktivitas manusia untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu kawasan.
  • Pemetaan daerah tutupan lahan serta jenis tanaman sebagai bahan bakaran.
  • Pemetaan tata guna lahan.
Gejala dan peringatan dini:
  • Adanya aktivitas manusia menggunakan api di kawasan hutan dan lahan.
  • Ditandai dengan adanya tumbuhan yang meranggas.
  • Kelembapan udara rendah
  • Kekeringan akibat musim kemarau yang panjang.
  • Peralihan musim menuju ke kemarau.
  • Meningkatnya migrasi satwa keluar habitatnya.
Parameter :
  • Luas areal yang terbakar (hektar)
  • Luas areal yang terpengaruh oleh kabut asap (hektar)
  • Fungsi kawasan yang terbakar (Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Lindung, dll).
  • Jumlah penderita penyakit saluran pernafasan atas (ISPA).
  • Menurunnya keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.
  • Menurunnya fungsi ekologis.
  • Tingkat kerugian ekonomi yang ditimbulkan.
Komponen yang terancam :
  • Kerusakan ekologis yang mempengaruhi sistem penunjang kehidupan.
  • Hilangnya potensi kekayaan hutan.
  • Tanah yang terbuka akibat hilangnya tanaman sangat rentan terhadap erosi saat musim hujan sehinga akan menyebabkan longsor di daerah hulu dan banjir di daerah hilir.
  • Penurunan kualitas kesehatan masyarakat untuk daerah yang luas di sekitar daerah kebakaran.
  • Turunnya pendapatan pemerintah dan masyarakat akibat terganggunya aktivitas ekonomi.
  • Musnahnya aset negara dan sarana, prasarana vital.
Strategi Mitigasi dan upaya pengurangan bencana :
  • Kampanye dan sosialisasi kebijakan pengendalian kebakaran lahan dan hutan.
  • Peningkatan masyarakat peduli api.
  • Peningkatan penegakan hukum.
  • Pembentukan pasukan pemadaman kebakaran khususnya untuk penanganan kebakaran secara dini.
  • Pembuatan waduk di daerahnya untuk pemadaman api
  • Pembuatan skat bakar, terutama antara lahan, perkebunan, pertanian dengan hutan.
  • Hindarkan pembukaan lahan dengan cara pembakaran.
  • Hindarkan penanaman tanaman sejenis untuk daerah yang luas.
  • Melakukan pengawasan pembakaran lahan dengan cara pembakaran lahan untuk pembukaan lahan secara ketat.
  • Melakukan penanaman kembali daerah yang telah terbakar dengan tanaman yang heterogen.
  • Partisipasi aktif dalam pemadaman awal kebakaran di daerahnya.
  • Pengembangan teknologi pembukaan lahan tanpa membakar (pembuatan kompos, briket arang dll).
  • Kesatuan persepsi dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
  • Penyediaan dana tanggap darurat untuk penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.
  • Pengelolaan bahan bakar secara intensif untuk menghindari kebakaran yang lebih luas.
Beberapa istilah dalam mitigasi bencana yang perlu diketahui:

Bencana (disaster)
Bencana adlah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia, yang dapat terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan serta melampaui kemampuan dan sumber daya manusia untuk menanganinya.

Bahaya (hazard)
Bahaya adalah suatu kejadian atau peristiwa yang mempunyai potensi dapat menimbulkan kerusakan, kehilangan jiwa manusia atau kerusakan lingkungan.

Kerentanan (vulnerability)
Kerentanan adalah suatu kondisi yang ditentukan faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan yang mengakibatkan peningkatan kerawanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Kemampuan (capacity)
Kemampuan adalah penguasaan sumber daya, cara dan kekuatan yang dimiliki masyarakat yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan dan mempersiapkan diri mencegah, menanggulangi, meredam serta dengan cepat memulihkan diri dari akibat bencana.

Resiko (risk)
Resiko adalah kemungkinan timbulnya kerugian pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang timbul karena suatu bahaya menjadi bencana. Resiko dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.

Mitigasi (mitigation)
Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk menekan timbulnya dampak bencana, baik secara fisik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fisik, maupun non fisik-struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.

Peringatan Dini (early warning)
Peringatan dini adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa kemungkinan bencana akan segera terjadi, peringatan dini harus bersifat menjangkau masyarakat (accesible), segera (immediate), tegas dan tidak membingungkan (coherent) dan resmi (official).

Tanggap Darurat (emergency responce)
Tanggap darurat adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.

Bantuan Darurat (relief)
Bantuan darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, perlindungan, kesehatan, sanitasi dan air bersih.

Pemulihan (recovery)
Keputusan dan aksi yang diambil setelah kejadian bencana dengan suatu tujuan untuk memulihkan atau meningkatkan kondisi kehidupan sebelum bencana dari masyarakat korban bencana. Hal tersebut dilakukan dengan penerapan upaya-upaya pengurangan resiko sehingga dapat mengurangi kejadian bencana di masa mendatang.

Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi adalah upaya yang diambil segera setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki/memfungsikan rumah, fasilitas umum dan fasilitas sosial serta menghidupkan kembali roda perekonomian.

Rekonstruksi (recontruction)
Rekonstruksi adalah program jangka menengah dan panjang yang meliputi perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.

Penanganan Bencana (disaster management)
Penanganan bencana adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana, mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.

Pemberdayaan Masyarakat (community empowerment)
Pemberdayaan masyarakat adalah program atau kegiatan yang dilakukan untutk meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat melaksanakan penanggulangan penanggulangan bencana baik pada saat sebelum, saat maupun sesudah bencana.

Korban Bencana
Manusia yang mengalami kerugian akibat bencana baik secara fisik, mental maupun sosial.

Pemerintah
Pemerintah terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota.

Sumber :
Anonim. 2005. Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Sekretariat BAKORNAS PBP. Jakarta.