Minggu, 08 November 2015

MENGENAL AQUACROP

Air merupakan faktor dasar dalam pertanian. Air diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kecukupan air tanaman selama masa tanam mencerminkan potensi produksi tanaman pada akhir masa tanam. AquaCrop adalah versi terbaru dari CROPWAT, suatu software berbasiskan windows yang didesain untuk mensimulasikan biomassa dan respons hasil panen tanaman di lapangan dengan berbagai tingkat ketersediaan air. Penerapannya meliputi lahan tadah hujan berserta kelengkapannya, defisit dan irigasi penuh. AquaCrop berdasarkan mesin pertumbuhan digerakkan oleh air yang menggunakan produktivitas air biomassa (atau efesiensi penggunaan air biomassa) sebagai parameter pertumbuhan utama (WPb). AquaCrop adalah alat untuk memprediksi produksi tanaman dengan kondisi manajemen air yang berbeda dalam kondisi sekarang dan perubahan iklim di masa akan datang AquaCrop juga menginvestigasi strategi manajemen yang berbeda, dalam kondisi sekarang dan perubahan iklim di masa akan datang (UNFCCC, 2014).

Menurut FAO (2013), AquaCrop adalah model produktifitas air tanaman yang dikembangkan oleh Divisi Tanah dan Air dari FAO. AquaCrop dapat menyimulasikan hasil panen air tanaman terna (herbaceous) dan sangat cocok untuk kondisi dimana air adalah kunci faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman.

Aplikasi pada AquaCrop meliputi  :
  1. Menaksir keterbatasan air, hasil panen yang tercapai pada lokasi geografis tertentu
  2. Sebagai alat pembanding, membandingkan hasil panen yang diperoleh terhadap hasil aktual di lapangan, lahan pertanian atau wilayah, untuk mengidentifikasi  kesenjangan hasil dan kendala yang membatasi produksi tanaman
  3. Menaksir produksi tanaman tadah hujan pada jangka panjang
  4. Mengembangkan jadwal irigasi untuk produksi maksimum dan untuk skenario iklim yang berbeda
  5. Penjadwalan defisit dan irigasi tambahan
  6. Mengevaluasi dampak dari pengiriman tetap jadwal irigasi terhadap hasil yang dicapai
  7. Simulasi urutan tanaman
  8. Melaksanakan analisis skenario iklim di masa depan
  9. Mengoptimalkan keterbatasan jumlah air yang tersedia (kriteria ekonomi, ekuitabilitas dan sustainabilitas)
  10. Mengevaluasi dampak dari kesuburan rendah dan interaksi air-kesuburan terhadap hasil.
  11. Menaksir produktivitas air aktual (biologis atau ekonomis) di lapangan sampai skala yang lebih tinggi kawasan.
  12. Mendukung pengambil keputusan tentang alokasi air dan kebijakan tindakan air lainnya
  13. Menilai peranan berbagai respons tanaman yang berhubungan dengan air dalam penentuan hasil untuk desain ideotype.



Gambar 1. Diagram pengolahan data aplikasi AquaCrop

AquaCrop memerlukan inputan data iklim (suhu udara, evapotranspirasi referensi dan curah hujan), data tekstur tanah (pasir, liat, lempung dalam %) dan parameter tanaman (inisial, akhir dan tingkat perubahannya dalam % tutupan kanopi (Canopy Cover); inisial, akhir tingkat kedalaman akar; produktivitas air biomassa, indeks panen (harvest index); kondisi manajemen yang khusus seperti tanggal irigasi dan jumlahnya, penaburan benih dan tanggal panen, pemulsaan dan lain-lain)(UNFCCC, 2014).

AquaCrop adalah merupakan adalah revisi dari paper no. 33 FAO, “Yield Respons to Water” (Doorenbos dan Kassam, 1979). AquaCrop berkembang dari persamaan dasar Paper No. 33, dimana hasil panen relatif (Y) kehilangannya sebanding dengan penurunan evapotranspirasi relatif (ET), dengan Ky sebagai faktor proporsional respon hasil. Penjelasan tentang AquaCrop dapat ditemukan pada paper no. 66 FAO  di sini.

Kemajuan AquaCrop daripada pendekatan Ky adalah :

  • Membagi ET menjadi evaporasi tanah (E) dan transpirasi tanaman (Tr) untuk menghindari efek gangguan dari penggunaan air konsumtif non produktif
  • Memperoleh biomassa (B) dari produk produktivitas air (WP) dan transpirasi kumulatif tanaman
  • Mengekspresikan hasil panen (Y) sebagai produk dari B dan Indeks Panen/ Harvest Index (HI)
  • Normalisasi Tr dengan Evapotranspirasi Referensi (ETo), membuat hubungan B-Tr dapat dipakai untuk rejim iklim yang berbeda
  • Dirunning dengan jangka waktu harian (baik kalendernya atau pertumbuhan Degree Days), untuk lebih realistis menjelaskan sifat dinamis dari efek water stress dan respons tanaman.

AquaCrop didorong oleh air, yang artinya pertumbuhan dan hasil tanaman didorong oleh jumlah air transpirasi (Tr). AquaCrop fokus kepada hubungan dasar antara B dan Tr daripada Y dan ET.

Menurut Steduto et al., (2012) di dalam Paper FAO No. 66 “Crop Yield Respons to Water”, perubahan konsep tersebut mengarah pada persamaan berikut yang merupakan inti dari mesin pertumbuhan AquaCrop :

B=WP.ΣTr

B adalah biomassa yang dihasilkan secara kumulatif (kg per m2), Tr adalah transpirasi tanaman (baik mm atau m3 per satuan permukaan), dengan penjumlahan selama periode waktu di mana biomassa diproduksi, dan WP adalah parameter produktivitas air (baik kg biomassa per m2 dan per mm, atau kg biomassa per m3 air transpirasi).

Hanya sebagian dari biomassa yang dihasilkan dipartisi ke organ yang dipanen untuk memberikan hasil (Y), dan rasio hasil untuk biomassa dikenal sebagai indeks panen (HI), maka:

Y=HI.B


 
Gambar 2. Evolusi AquaCrop dari dua persamaan di atas berdasarkan dua langkah perantara di atas: pemisahan evaporasi tanah (E) dari transpirasi tanaman (Tr) dan pencapaian hasil (Y) dari biomassa (B) dan indeks panen (HI)



Gambar 3. Tampilan menu utama aplikasi AquaCrop

Daftar Pustaka :

Doorenbos, J and Kassam, AH. 1979. Yield Response to Water. FAO Irrigation and Drainage Paper No. 33. Rome.

FAO. 2013. Software ETo Calculator [internet]. [diunduh 2015 Mei 12]. Rome. Tersedia pada : http://www.fao.org/nr/water/eto.html/.

Heng, L.K, Hsiao T., Evett, S., Howell, T., and Steduto, P. 2009.  Validating the FAO AquaCrop Model for Irrigated and Water Deficient Field Maize. Agronomy Journal. Volume 101, Issue 3.

Steduto P, Hsiao  T, Fereres E, Raes D. 2012. Crop Yield Respons to Water. FAO Irrigation and Drainage Paper No. 66. Rome.

UNFCCC. 2014. AquaCrop : Compendium on Methods and Tools to Evaluate Impacts of, and Vulnerability and Adaptation to, Climate Change [internet]. [diunduh 2015 Mei 12]. Nairobi. Tersedia pada :  http://unfccc.int/adaptation/nairobi_work_programme/knowledge_resources_and_publications/items/5403.php      
 
Vanuytrecht E, Raes D, Steduto P, Hsiao T, Fereres E, Heng, L.K,  Vila M.G, and Moreno, P. M. 2014. AquaCrop: FAO'S crop water productivity and yield response model. Journal Environmental Modelling & Software. 1 – 10.





Minggu, 18 Januari 2015

SEKOLAH LAPANG IKLIM BMKG DI INDONESIA DAN KALIMANTAN SELATAN


Pentingnya SLI

Curah hujan adalah merupakan unsur iklim yang paling penting di Indonesia karena keragamannya sangat tinggi menurut waktu maupun tempat. Kejadian iklim ekstrim di Indonesia semakin meningkat dan semakin sering terjadi di Indonesia. Kejadian iklim ekstrim terkait erat dengan curah hujan, misalnya kekeringan dan kejadian banjir. Dampaknya berupa kegagalan panen petani yang diakibatkan iklim ekstrim juga semakin sering baik dari segi kualitas ataupun kuantitas. Dikarenakan itu maka perlu dilakukan berbagai upaya dan tindakan untuk menekan dampak negatif tersebut seminimal mungkin.

Pakar Iklim Pertanian IPB, Prof. Dr. Rizaldi Boer mengatakan, kerugian sulit diprakirakan lantaran petani dan pemerintah daerah tidak paham akan pentingnya informasi iklim. Selain sulit dimengerti, informasi iklim masih bersifat umum dan tidak cepat tersedia, sehingga petani sulit mempertimbangkan berbagai persoalan iklim. Baik petani dan pemda belum peduli pentingnya informasi iklim. Selama ini pemerintah daerah belum menganggap informasi iklim penting apalagi petaninya sendiri.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam rangka penanggulangan dampak iklim ekstrim adalah dengan melaksanakan Sekolah Lapang Iklim (SLI). Melalui SLI para petani diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani mereka apabila terjadi banjir, kekeringan maupun bencana lainnya.

Konsep Sekolah lapang iklim awalnya diadopsi dari Sekolah Lapangan Petani yang didesain untuk pengelolaan hama terpadu (SLPHT). Sekolah Lapang Iklim (SLI) bertujuan untuk menerjemahkan informasi iklim melalui suatu proses pelatihan. SLI juga dapat dikatagorikan sebagai suatu sosialisasi pemahaman informasi iklim pada tingkat petani, penyuluh dan dinas pertanian daerah setempat. SLI dititikberatkan di daerah yang rentan dan berpotensi terhadap kejadian ekstrim ataupun di daerah yang merupakan sentra pangan. Sehingga ringkasnya tujuan SLI adalah : a) meningkatkan pengetahuan petani tentang iklim dan kemampuannya b) membantu petani mengamati unsur iklim dan menggunakannya dalam rangka mendukung usaha tani mereka dan c) membantu petani menerjemahkan informasi prakiraan iklim untuk strategi budidaya yang lebih tepat.

Dalam rangka SLI dititikberatkan pada daerah yang rentan dan berpotensi terhadap kejadian ekstrim atau daerah yang menjadi sentra produksi pangan. SLI juga dapat memotivasi kelompok tani untuk lebih meningkatkan kerjasama dan saling bertukar informasi dalam menyusun strategi pertanian.

Program SLI ini pertama kali didesain pada tahun 2003 oleh IPB (Institut Pertanian Bogor)  bekerja sama dengan pemerintah Daerah Indramayu, Departemen Pertanian, Badan Meteorologi dan Geofisika (sekarang BMKG : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dengan dukungan Asian Disaster Preparedness Centre (ADPC) dan kemudian oleh International Research Institute for Climate and Society (IRI)-University of Columbia.

Kurikulum SLI

Kegiatan SLI dilakukan dengan konsep berjenjang. SLI dilakukan dengan tiga tahap. Tiap tahapan memiliki metode pengajaran yang berbeda.

Tahap satu (SLI-1) menjelaskan istilah yang sering dipakai pada informasi iklim dan bentuk penjelasannya lebih banyak pada penjabaran informasi. Teknik pengajarannya tanpa alat bantu serta memasukkan unsur analitis sehingga peserta SLI diharapkan mampu menjelaskan kembali informasi iklim yang didapatkan pada orang lain. Metode pengajaran ini ditujukan kepada peserta dari dinas pertanian daerah sebagai pemandu petani dengan lama pelatihan 4 hari.

Tahap dua (SLI-2) selain menjelaskan istilah yang dipakai dalam informasi iklim juga memasukkan jenis permainan sehingga pengajarannya lebih banyak pada ilustrasi. Teknik pengajaran menggunakan alat bantu selama 4 hari. Peserta diharapkan mampu membedakan jenis informasi iklim yang didapatkan berdasarkan proses kejadiannya. Metode ini ditujukan kepada peserta penyuluh pertanian.




Gambar 1. peserta SLI Tahap 2 (Sumber : http://banjarbaru.kalsel.bmkg.go.id/)

Tahap tiga (SLI-3) menjelaskan istilah yang sering dipakai pada informasi iklim dengan cara melibatkan langsung peserta melakukan pengukuran unsur iklim di lapangan. Metode pengajarannya lebih banyak pada praktikum pengumpulan data lapang. Teknik pembelajarannya menggunakan alat bantu pencatatan dan penanaman benih sehingga membutuhkan waktu 4 bulan. Peserta diharapkan membuktikan langsung pengaruh iklim terhadap hasil tanaman. Peserta dari kelompok tani beberapa kabupaten.


Gambar 2. Peserta SLI tahap 3 di NTB (Sumber : https://iklimntb.files.wordpress.com)

Program SLI oleh BMKG

Sesuai dengan amanat UU RI No. 31 Tahun 2009, BMKG memiliki peran yang sangat strategis dalam memberikan informasi untuk meningkatkan keselamatan jiwa dan harta, serta pertahanan keamanan. Sebagian dari tugas pokok tersebut adalah menyampaikan informasi prakiraan musim hujan/ kemarau, evaluasi dan prakiraan hujan bulanan serta ketersediaan tanah tiap bulan untuk kegiatan pertanian.

BMKG bekerjasama dengan Kementerian Pertanian telah mengembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) di 25 provinsi sebagai upaya untuk mengantisipasi iklim ekstrim yang bisa mengancam ketahanan pangan.

"Sekolah lapangan tersebut kami kembangkan di beberapa provinsi yang selama ini dikenal sebagai sentra-sentra produksi pangan. Tentunya kami bekerjasama dengan penyuluh pertanian lapangan agar program berjalan efektif,"kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya saat testimoni Sekolah Lapang Iklim di Jakarta, Rabu (23/4/2014).

Dari 25 propinsi tersebut lebih difokuskan lagi pada 11 propinsi yang jadi sentra produksi padi yakni di seluruh Jawa kecuali Jakarta, Bandar Lampung, Aceh, NTB, Bali, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.




Gambar 3. Sekolah Lapang Iklim Tahap 2 di Kalimantan Selatan (Sumber : http://www.bmkg.go.id/)

Di Kalimantan Selatan, BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru telah mengadakan program SLI tahap 2 ini sejak tahun 2011. Acara ini pesertanya antara lain : para petugas pengamat hama penyakit tanaman (PHP), penyuluh pertanian (PPL) dan petugas di Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota di Propinsi Kalimantan Selatan. Diharapkan beliau-beliau ini dapat menjadi penyambung lidah, penerjemah bahasa teknis informasi iklim BMKG menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh petani.

Hal ini sangatlah penting bagi pertanian di daerah Kalimantan Selatan. Potensi pengembangan sentra tanaman pangan di Kalimantan Selatan sangat terbuka luas. Lahan pertanian rawa lebak yang berada di sebagian daerah Banua Enam dan sekitarnya, lahan pertanian rawa pasang surut di sebagian Kabupaten Banjar dan Barito Kuala serta lahan kering di Kabupaten Tanah Laut adalah beberapa contoh potensi yang dapat digali.

Proses pendidikan singkat bagi peserta ini adalah dibekali dengan mengenal unsur cuaca dan iklim, mengetahui bagaimana pembentukan awan dan hujan, hubungan iklim dan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Peserta juga diajari memahami prakiraan hujan bulanan dan musim dari BMKG dan istilah informasi iklim. Mereka juga ditunjukkan bagaimana iklim ekstrim dan bagaimana menghadapinya dari sisi pertanian. Pengenalan alat ukur cuaca dan membuat alat penakar hujan sederhana serta kalibrasinya juga diajarkan. Peserta juga diberikan pemahaman yang benar tentang pola hujan, tipe iklim dan neraca air lahan. Diharapkan mereka dapat mengembangkan ketrampilannya dan menampilan output yang nyata kepada para petani dan berbagai pemangku kepentingan pertanian.

Di sini peserta juga diajarkan bagaimana memahami kearifan lokal di Kalimantan Selatan dan menentukan kalender tanam (KATAM) di daerah mereka masing-masing. Stasiun Klimatologi Banjarbaru dalam acara ini menggandeng BMKG Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, BPTPH (Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura) Kalimantan Selatan, Balittra (Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa) dan BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Kalimantan Selatan.



Gambar 4. Pembukaan Sekolah Lapang Iklim di Kelompok Tani Mufakat Kec. Bungur Kab. Tapin (Sumber : http://bpkbungur.blogspot.com/)

SLI BMKG Go International

Perkembangan akhir-akhir ini BMKG mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Training of Trainers of Climate Field School (TOT CFS) Asia Pacific yang bertempat di Bogor dan disertai kunjungan ke lokasi SLI-3 Kabupaten Banten (26-29/08/2014). Acara ini diikuti 18 orang peserta, 8 peserta dari Laos, Filipina, Myanmar, Thailand, Malaysia dan Vanuatu serta 10 peserta dari Indonesia. Tujuan acara tersebut adalah untuk berbagi pengalaman dari Indonesia dalam mengimplentasikan program CFS kepada negara di Asia pasifik yang mempunyai prioritas mendukung ketahanan pangan di negaranya.



Gambar 5. Kegiatan TOT CFS Asia Pacific (Sumber : http://www.staklimpondokbetung.net/)

Pada Kamis (11/12/2014) Inovasi Sekolah Lapang Iklim (Climate Field School) di Busan Korea Selatan dari BMKG menjadi salah satu dari 4 Top Inovasi Pelayanan Publik 2014 dalam acara Asean - Republic of Korea Exhibition on Public Governance).



Gambar 6. Berita TOT CFS Asia Pasific di situs WMO (Sumber : http://www.wmo.int/)

Gambar 7. Berita Pameran Inovasi SLI BMKG di Korea Selatan (Sumber : http://www.bmkg.go.id/)

Sumber :

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2011. Buku Ekspose Sekolah Lapang Iklim (Climate Field Schools at District Level in Eastern Indonesia). Jakarta.

Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian. 2009. Modul Pengantar Sekolah Lapangan Iklim. Jakarta.

http://banjarmasin.tribunnews.com/2013/06/15/saatnya-petani-membaca-fenomena-iklim diakses 16 Januari 2015.

http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Sestama/Humas/BMKG_PAMERKAN_INOVASI_SLI_DI_KOREA_SELATAN.bmkg diakses 16 Januari 2015.

http://bpkbungur.blogspot.com/2013/06/pembukaan-sekolah-lapang-iklim-di.html diakses 16 Januari 2015.

https://mediatani.wordpress.com/2007/11/29/dampak-perubahan-iklim-bagi-petani-indonesia/ diakses 16 Januari 2015.

http://www.agriculturesnetwork.org/magazines/indonesia/26-bertahan-menghadapi-perubahan-iklim/sekolah-lapan-iklim-antisipasi-risiko-perubahan/at_download/article_pdf diakses 16 Januari 2015.

http://www.staklimpondokbetung.net/berita.php?action=view&newsID=92 diakses 16 Januari 2015.

http://www.tribunnews.com/iptek/2014/04/23/bmkg-kembangkan-sekolah-lapang-iklim diakses 16 Januari 2015.

http://yanamasliyana.blogspot.com/2012/03/sli-solusi-dalam-menekan-dampak.html diakses 16 Januari 2015.


Selasa, 09 Desember 2014

FENOMENA GLOBAL DAN REGIONAL YANG MEMPENGARUHI MUSIM DI INDONESIA DAN KALIMANTAN SELATAN

Keberadaan Indonesia di daerah tropis, di antara benua Asia dan Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, mempunyai banyak pulau dan kepulauan serta banyak selat dan teluk tentu saja membuat Indonesia kondisi iklimnya akan dipengaruhi berbagai fenomena global dan regional.

Fenomena global diantaranya: El Nino, La Nina, Dipole Mode dan Madden Julian Oscillation (MJO). Fenomena regional diantaranya: sirkulasi Monsun Asia-Australia dan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia.

Fenomena Global

A. El Nino dan La Nina (ENSO)

El Nino adalah fenomena global sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Fenomena El Nino yang berpengaruh di Indonesia dengan diikuti berkurangnya curah hujan secara drastis, yang terjadi bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun jika kondisi suhu perairan Indonesia cukup hangat tidak berpengaruh terhadap kurangnya curah hujan secara signifikan di Indonesia.


La Nina adalah kebalikan dari El Nino ditandai dengan anomali suhu muka laut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya) di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4). Fenomena La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat bila dibarengi dengan menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia.

Berdasarkan intensitasnya El Nino dapat dikatagorikan sebagai berikut :
  • El Nino lemah (Weak El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator positif antara +0.50C sampai dengan +1.00C yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut atau lebih
  • El Nino sedang (Moderate El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator positif antara +1.1oC sampai dengan +1.5oC yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut atau lebih
  •  El Nino kuat (Strong El Nino) yaitu jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator positif antara >1.50C yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut atau lebih.
Sehingga dapat dikatakan El Nino merupakan fenomena global dari system interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Sedangkan La Nina adalah fenomena mendinginnya suhu muka laut di pasifik ekuator (Nino 3.4).

Perbedaan tekanan udara muka laut rata-rata antara bagian timur Pasifik (Tahiti) dengan bagian baratnya (Darwin, Australia) setiap bulan adalah merupakan nilai dari SOI (Southern Oscillation Index) juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator terjadinya ENSO.

B. Dipole Mode

Dipole Mode adalah fenomena interaksi laut-atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan/ selisih antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Perbedaan anomali suhu muka laut tersebut disebut sebagai Dipole Mode Indeks (DMI). DMI positif akan berakibat kurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sebaliknya bila nilai DMI negatif berdampak meningkatkan curah hujan di Indonesia bagian barat.

Dipole Mode berkaitan dengan osilasi apriodik dari suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) antara fase positif dan fase negatif. Fase positif ditandai dengan SST yang lebih besar dan presipitasi yang lebih besar di bagian Samudera Hindia Barat yang menyebabkan mendinginnya Samudera Hindia sebelah timur, sehingga kekeringan di wilayah Indonesia dan Australia. Sedangkan fase negatif adalah kebalikan fase positif dengan hujan lebih besar di Samudera Hindia sebelah timur sehingga menyebabkan kekeringan di wilayah barat. Dipole Mode dianggap normal ketika nilainya +-0.4.

Dipole Mode juga mempengaruhi kekuatan monsoon di sub benua India. Dipole Mode adalah siklus umum dari iklim global yang berinteraksi dengan lautan.



C. Madden Julian Oscillation (MJO)


Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan isolasi gerakan angin yang panjang gelombangnya relatif pendek sekitar 40 hari (intra seasonal). Dalam beberapa kasus bisa melebar menjadi 30-60 hari.
Madden Julian Oscillation mengindikasikan osilasi aktivitas pertumbuhan awan-awan sepanjang jalur dimulai dari atas perairan Afrika Timur hingga perairan Pasifik bagian barat (utara Papua). MJO berhubungan sangat erat dengan besarnya anomali curah hujan di kawasan Timur Lautan Hindia.

http://www.bom.gov.au/climate/mjo/graphics/rmm.phase.Last40days.gif
Sumber :  http://www.bom.gov.au

Diagram fase MJO menggambarkan pergerakan dari MJO melewati fase yang berbeda. Umumnya bersamaan dengan lokasi di sepanjang ekuator di seluruh dunia.

Fenomena Regional

Sirkulasi Monsun Asia-Australia


Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun yang menyebabkan sirkulasi angin di Indonesia umumnya adalah pola monsun, yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia yang berkaitan musim penghujan di Indonesia. Pola angin timuran karena adanya angin timuran karena tekanan udara yang tinggi di Australia yang berkaitan berlangsungnya musim kemarau di Indonesia. Sehingga angin baratan bersifat basah dan angin timuran bersifat kering.

Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature )  di Indonesia

Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia. Jika suhu muka laut dingin berpotensi sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, sebaliknya panasnya suhu permukaan laut berpotensi cukup banyaknya uap air di atmosfer. Kondisi suhu permukaan laut yang hangat menyebabkan peluang terbentuknya awan-awan hujan potensial.

(sumber : www.bmkg.go.id)

Bagaimana dengan Kalimantan Selatan?

Fenomena global yang berpengaruh terhadap musim di Kalimantan Selatan adalah ENSO (El Nino Southern Oscilation)/ El Nino dan La Nina serta Madden Julian Oscillation (MJO). Adapun fenomena Dipole Mode kurang berpengaruh di Kalimantan Selatan, karena Dipole Mode cenderung berpengaruh di Indonesia bagian Barat. Sedangkan fenomena regional yang berpengaruh adalah  Sirkulasi Monsun Asia-Australia dan Suhu Muka Laut.